Duhai Istri : Jalan Meraih CahayaNya

Islamedia – Siapakah engkau, wahai istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Kita berdua hadir dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Bahkan, kita saling tidak mengenal satu sama lain. Namun, mengapa disaat berjumpa, seketika kita saling mempercayai untuk membangun biduk kebersamaan, dalam perjalanan rumah tangga?

Sungguh, begitu mulia, mahligai pernikahan. Pernikahan membuat kita saling terbuka, saling mempercayai satu sama lain. Tak mengherankan, bila Allah SWT menempatkan jodoh (penikahan) pada kelompok ilmu-Nya yang tak dapat disingkapkan secara pasti oleh manusia.

Bayangkan, jika jodoh seperti juga kematian (roh), menjadi ilmu terbuka bagi manusia. Pertanyaan selanjutnya, siapakah yang sudi memilih si-X yang masa kecilnya ‘kurang’ sebagai jodoh kita. Berbeda dengan malaikat, Allah SWT telah memberikan manusia hawa-nafsu, sekaligus perangkat untuk mengendalikannya. Nafsu biologis, misalkan, disalurkan melalui pernikahan bagi yang mampu, meniru Adam dan Hawa.

Istri-istrimu adalah lading bagimu, maka datangilah ladangmu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu…” (QS Al Baqarah: 223). Begitu pentingnya mahligai pernikahan, hingga Allah SWT menurunkan pedoman bagi hambanya, seperti pada surah Al Baqarah.

Duhai istri, siapakah yang mengirimmu ke dalam kehidupanku? Pastilah Allah SWT jawabannya. Betapa Maha Pengasih Dia, yang memberikanmu sebagaimana ketentuannya agar mahluk hidup berpasang-pasangan. Namun, mengapa di tengah rasa superioritas kaum pria, seringkali kami lalai memahami bila istri merupakan ‘pemberian’ Nya? Betapa kami, para suami, lelaki yang merasa sangat super, seringkali menghanguskanmu ke dalam api kemarahan.

Adakah superioritas kaum lelaku terutama di masa ‘jahiliyah’, menyebabkan Allah SWT memberikan perhatian khusus terhadap kaummu dengan menurunkan surat An-Nisaa’ (wanita). Tak hanya sekadar tuntunan menikah untuk melahirkan. Di surat itu, Allah SWT memberikan pedoman tata cara memperlakukan kaummu, sebagai seorang istri. Hal ini agar kaummu terhindar dari egoisme dan superioritas kaum lelaki.

Di saat engkau berbaring di sisi tulang rusuk kiriku, betapa aku ingin merumuskan hakikatmu. Tapi, mengapa sulit merumuskanmu. Engkau, mahluk yang kuat ketika lemah, begitu manja ketika tegar. Engkau, bahkan, lebih kuat menanggung penderitaan ketika sendirian.

Sungguh, engkau wahai istri, berbeda dengan pria yang dicitrakan superior (adakah kekuatan pria justru menjadi kelemahan ketika dia ditinggalkan sendirian sehingga cenderung mencari kembali pasangan hidupnya demi menyokong superioritasnya?)

Namun, istri merupakan cobaan bagi suami. Tak mengherankan, jika Allah SWT menentukan posisi suami sebagai pemimpin bagi perempuan. Begitu juga memberikan pedoman terhadap muslim untuk mendapatkan istri yang tidak berasal dari kaum musyrik. “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman…”. (QS Al Baqarah: 221)

Mengapa demikian? Karena engkau, istri bersama kaummu, mendapatkan kemuliaan disisi-Nya. Allah SWT punya rahman dan rahim. Perempuanlah yang memiliki (sifat) rahim. Di rahim, perlambang kasih, Allah SWT menumbuhkan janin. Dengan kasih dari pemilik rahim, anak-anak tumbuh, menjadi muslim dan muslimah.

Dengan anugerah kemuliaan semacam itu, kenapa masih ada perempuan alpa pada kesucian makna rahim, justru ketika memiliki rahim? “Sesungguhnya dunia seluruhnya harta dan sebaik-baiknya harta ialah wanita (istri) yang sholehah” (HR Muslim)

Betul, engkau adalah hanya seorang istri, bukan pemimpin utama. Namun, sesungguhnya engkau menentukan. Ketika hanya menjadi posisi pendamping sang suami. Engkau, disaat menjadi istri yang suci, semestinya menjadi pengawas suami saat keliru melangkah (baca; salah jalan).

Siapa yang dapat mengukur air matamu yang berderai di saat engkau berdoa memohon kepada Allah SWT agar menunjukkan jalan yang benar pada sang suami? Airmata yang selama ini dicitrakan sebagai kelemahan, justru menjadi kekuatan untuk mengembalikan suami (keluarga) ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi-Nya.

Tapi, siapakah engkau, istri, yang menyelinap ke dalam kehidupanku? Istri yang suci justru merupakan “Jalan Cahaya” bagi para suami, menuju jalan-Nya. Kesucianmu menjadikan kriteria istri salihah sebagai pedoman, dan menjadi suar di tengah keluarga untuk membentuk dan meraih keluarga sakinah, mawaddah, warahmah (SAMARA).

Cahayamu menerangi perjalanan sang suami menuju pada-Nya. Kesabaran dan keikhlasanmu mengelola rumah tangga membuat para suami (keluarga) merasa khidmat untuk beribadah. Sebaliknya, istri-istri ‘musyrik’, bagai lorong gelap yang menyesatkan. Karena itu, wahai para istri, jadilah engkau suci untuk menjadi “Jalan Cahaya” bagi keluarga menuju surge-Nya.

Wahai istri, di saat engkau menjadi “Jalan Cahaya”, mengapa mesti menggantinya dengan yang lain? Bukankah sejatinya, aku mencintaimu karena cintaku pada-Nya yang memuliakanmu. Wahai istri yang suci, ‘Jalan Cahaya’ mu bisa menerangkan keluarga, menuju jalan kebaikan! Wallahua’lam.

Cecep Y Pramana

 

Cewek Baik dan Cowok Baik

Pertanyaan: “Bagaimana agar kita tahu cewek itu baik untuk kita, bang tere?”

Jawaban: Banyak sekali caranya. Salah-satunya (dan jelas ini hanya salah-satunya) adalah, lihatlah bagaimana dia menjaga kehormatan diri sendiri, dan kehormatan orang-orang di sekitarnya.

Kehormatan diri sendiri adalah tentang menjaga perasaan, berpakaian, berpenampilan, membawa diri, bergaul dan sebagainya. Kehormatan orang2 di sekitarnya adalah tentang meletakkan, menghargai dan memperlakukan orang lain, mulai dari cara bicara hingga sikap dan perbuatan. Kalau dia suka menunjuk2, menyuruh2, membantah sembarangan, jelas tidak. Kalau dia bahkan berpakaian saja tidak merasa penting, jelas tidak.

Jika wanita itu bisa menjaga kehormatan diri sendiri dan kehormatan orang2 di sekitarnya, maka dekat sekali dia dengan mampu menjaga kehormatan suami dan keluarganya kelak.

*repost, ingatkan sy nanti utk memposting versi cowoknya

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pertanyaan: “Bagaimana agar kita tahu cowok itu baik hatinya, bang tere?”

Jawaban: Banyak sekali caranya. Salah-satunya (dan jelas ini hanya salah-satunya) adalah, lihatlah cara dia memperlakukan Ibunya. Kalau dia bela-belain nungguin wanita lain, bela-belain hujan2an menjemput wanita lain, tapi disuruh ibunya satu hal saja yg sepele banyak alasan, jelas tidak. Kalau dia bela-belain ngasih hadiah, ntraktir makan, dsbgnya untuk wanita lain, tapi ngasih ibunya benda murah, sederhana saja nggak pernah, jelas tidak.

Laki-laki yang baik, selalu memuliakan Ibunya–bahkan kalaupun Ibunya berlaku jahat padanya.

*repost

Intan

“Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu, suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

“Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasannya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh.”

–Negeri Di Ujung Tanduk-Tere Liye, sekuel cerita Thomas

*Moga Bunda Disayang Allah #2

*Moga Bunda Disayang Allah #2

Bunda,
Kami merasa itu marah-marah. Ternyata itu sungguh kasih sayang.
Karena jelas, orang2 yang sebenarnya tidak menyayangi kami,
tidak akan marah-marah saat kami akan melakukan sesuatu yang buruk bagi kami.

Bunda,
Kami merasa itu cerewet. Ternyata itu sungguh kepedulian
Karena jelas, orang2 yang sebenarnya tidak peduli pada kami,
akan diam saja saat kami akan merusak diri sendiri.

Bunda,
Kami merasa itu banyak peraturan. Ternyata itu sungguh kebebasan
Karena jelas, orang2 yang memuja kebebasan,
malah menggoda kami untuk melewati batasnya.

Bunda,
Saat semua itu sudah terjadi, saat orang lain pergi, tidak peduli, tertawa dengan mainan barunya,
maka hanya Bunda yang tetap menunggu
Sungguh terlalu banyak salah-paham yang kami lewati
Maka semoga kami tidak terlambat untuk menyadarinya

“Moga Bunda Disayang Allah”

*film “Moga Bunda Disayang Allah” rilis lebaran, Agustus 2013. Tentang Bunda.

**Moga Bunda Disayang Allah

**Moga Bunda Disayang Allah

Bunda,
Saat kami bayi, engkau orang terakhir tidur setelah dunia lelap,
bahkan boleh jadi tidak tidur, agar kami bisa nyenyak.
Dan engkau pula yang pertama kami lihat saat terjaga.

Bunda,
Saat kami kanak-kanak, engkau orang terakhir yang putus rasa sabarnya,
bahkan boleh jadi tidak pernah, walau orang2 lain telah jengkel setengah mati
Dan engkau pula yang pertama membesarkan hati.

Bunda,
Saat kami gagal, engkau orang terakhir yang berputus asa,
bahkan boleh jadi tidak pernah, meski seluruh dunia sudah berhenti berharap
Dan engkau pula yang pertama menghibur.

Bunda,
Saat kami sakit, engkau orang terakhir yang bertahan menemani,
bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah kembali sibuk
Dan engkau pula yang pertama berbisik kabar kesembuhan.

Bunda,
Saat kami ragu2, engkau orang terakhir yang hilang keyakinan,
bahkan boleh jadi tidak pernah pergi, meski sekitar telah menyerah
Dan engkau pula yang pertama berbisik tentang janji-janji.

Walaupun,
Saat kami besar, boleh jadi engkau orang terakhir yang kami hubungi,
bahkan boleh jadi tidak pernah, karena alasan sibuk atau apalah

Walaupun,
Saat kami bahagia, boleh jadi engkau orang terakhir yang tahu,
bahkan boleh jadi benar2 amat terlambat, karena alasan tidak sempat atau apalah

Bunda,
Di antara bisik doa-doa-mu, sungguh terselip beribu nama kami
Dan boleh jadi itulah yang membawa kami hingga seperti hari ini
Engkau orang terakhir yang akan berhenti mendoakan kami,
bahkan boleh jadi tidak pernah berhenti, hingga akhir hayat.
Dan sungguh, Engkau pula orang pertama yang mengucapkan kata Amin bagi kami.

*film “Moga Bunda Disayang Allah”, rilis lebaran bulan Agustus 2013;

a Letter for My Future Husband

a Letter for My Future Husband

10 Okt

“PERNIKAHAN”

Ketika mendengar kata tersebut, pikiran masing-masing orang melambung ke tempat yang berbeda. Begitu pun dengan saya. Kata tersebut membawa saya pada sebuah harapan yang indah, pengutuhan keimanan manusia, dan salah satu sarana ibadah kepada Allah yang dinanti-nanti kehadirannya.

Berhubung calonnya belum ada (hehehe..) saya akan membuat sebuah surat. Dimana surat ini kelak akan menjadi saksi, saat Arsy Allah terguncang dalam ijab qabul yang sah.

A Letter for My Future Husband

Wahai pangeran Surgaku di masa depan.. Ketahuilah, aku ingin menemuimu di waktu yang tepat menurut-Nya. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak berlama-lama.

Ketika Allah menghantarkanmu dengan cara ajaib-Nya, akan kuanggukkan hatiku dalam diam. Itulah tanda setujuku atas keberanianmu. Bukan, bukan keberanianmu menyatakan cinta padaku. Melainkan keberanianmu nyatakan diri pada papaku, bahwa kau ingin memuliakanku..

Tapi maaf.. papaku cukup tegas. Aku harap kau punya mental untuk menghadapi beliau. Aku yakin detik-detik yang mengiringi langkahmu menuju rumahku pertama kali akan membuat jantungmu terpompa tak teratur. Tapi nikmatilah.. sebab itulah detik-detik yang aku ingin kau ceritakan pertama kali padaku seusai kata sah membahana dalam singgasana-Nya atas penyatuan kita.

Oh iya, mamaku baik sekali. Beliau pasti senang menemuimu yang berniat mulia. Tapi ingat.. jadilah dirimu sendiri, sebab mamaku memiliki feeling yang sangat kuat, pasti ketahuan. Jadilah apa adanya dirimu, dan izinkan beliau menilaimu dari hatinya yang paling tulus.

Aku akan dengan sabar menunggumu bercakap-cakap  dengan kedua orangtuaku. Dan mungkin aku akan sesekali mencuri pandang ke arahmu. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengabadikan moment penting itu dalam ingatanku. Meski hanya beberapa detik saja.

Bila izin papa sudah kau dapatkan, aku hanya bisa menggumamkan alhamdulillah dan bismillah. Sebab seketika itu khitbah telah jatuh. Dan aku tak dapat lagi didekati oleh siapapun. Setelah itu kita akan menjalani bulan-bulan mendebarkan yang jaraknya adalah dekat. Ketahuilah kegembiraan besar tengah meliputi diriku meski mungkin aku tidak mengekspresikannya.

Wahai pangeran surgaku di masa depan.. sungguh aku tak tau siapa dirimu, darimana asalmu, dan bagaimana kita bisa bertemu. Mungkin kita sudah kenal sebelumnya, atau bahkan tidak saling mengenal sama sekali. Aku hanya percaya keindahan skenario Allah. Semoga kita dipertemukan dalam jalan yang diridhoi-Nya.

Bila saat itu tiba. Saat dimana semua malaikat berkumpul menjadi saksi dari penyatuan kedua insan yang ingin mengutuhkan iman, aku harap kau hapal kalimat penting itu. Ya, ijab qabul. Penyerahan tanggung jawab atas diriku dari papaku kepada dirimu. Tegas dan lantanglah dalam pernyataannya, agar bisa menutupi degupan jantungku yang menyeruak.

Tepat saat kau berjabat dan ucapkan pernyataan, kau tengah mengguncang Arsy Allah. Betapa gagahnya dirimu, dan betapa aku diliputi haru. Setelah itu, izinkan salamku pada punggung tanganmu menjadi sentuhan pertama yang mengawali bahtera kita. Meneteskan air mata gembira dipadu peluk erat yang dirindu bersama kedua orangtua kita. Lalu mengamini setiap doa tulus yang terucap dari kerabat serta sahabat.

Aku akan menuntunmu menggiring waktu bernostalgia dalam kisah perjuanganmu melawan ketakutanmu, gugupmu, dalam setiap prosesnya. Dan izinkan aku memujimu. Tak terbayangkan betapa bahagianya saat kata cinta meluncur dalam kehalalan yang kita perjuangkan. Allah pun akan tersenyum bersama kita.

Merajut asa bersamamu. Menyusun langkah nyata dan berdiskusi denganmu. Kelak kapal rumah tangga ini akan kau nahkodai, dan aku akan selalu berusaha menjadi awak setiamu. Dikaruniai anak-anak yang shalih dan shalihah. Mengumpulkan setiap detik menjadi amal dan berkah, untuk hidup yang lebih kekal.

Sampai bertemu nanti, pangeran surgaku di masa depan..

Salamku.. Sumber: http://febriantialmeera.wordpress.com/2012/10/10/a-letter-for-my-future-husband/

Surat ini akan saya lisankan pertama kali di hadapan suami kelak. Kapan? Siapa orangnya? Suka-suka Allah.. saya percaya pada pilihan-Nya

 

Betulkah Dia Jodohku ?

Betulkah Dia Jodohku ?

21 Okt

“Apakah hal terpenting yang harus dipersiapkan dalam melaksanakan pernikahan? Ada pasangannya.” – Febrianti

Hehehe. Short answer but that’s true. Jadi sebelum mikir jauh-jauh mempersiapkan pernikahan itu harus siap finansial, harus siap mahar, dan harus harus lainnya, yang sebetulnya paling penting adalah harus ada pasangannya. Kebayang kan kalau sudah siap segala macam, pelaminan didekorasi dengan apik, undangan disebar, penghulu datang, keluarga berkumpul, eh ternyata belum ada calon pasangannya. Hihihi.

Jadi, karena keberadaan calon pasangan itu penting dalam persiapan pernikahan, maka bagi siapapun yang berniat menikah harus mendapatkan calonnya terlebih dahulu. Of course on halal way :)

Kali ini saya akan membahas tentang meyakinkan diri kita siapakah jodoh kita. Bila sudah dipertemukan Allah pun, insyaAllah postingan kali ini bisa menguatkan keyakinan dari pertanyaan “Betulkah dia jodohku?” Siap-siap menyimak ya

As usual, based on my own experience.. 

 

#1 Pastikan Prosesnya Sesuai dengan Kehendak Allah

Sebab Allah dengan tegas melalui kitab suci Al Qur’an menyatakan bahwa tidak meridhoi khalwat antara insan manusia lawan jenis yang belum mahram, maka ikhtiarkan proses yang akan dilalui oleh kita itu tidak melalui pacaran. Kenapa? Ya karena sudah jelas orang-orang yang berpacaran akan ‘merasa’ halal menyatakan cinta dan sayang hingga melakukan sentuhan fisik. Allah dengan tegas tak izinkan hal tersebut. Bagaimana mungkin menginginkan pernikahan yang suci melalui cara yang Allah tak ridhoi. Memang ada pernikahan yang dilakukan melalui pacaran, tapi sungguh sayang. Upayakan syar’i keseluruhan agar ketika kata SAH membahana, segala hal yang dilakukan berdua adalah hal-hal pertama, sehingga mendebarkan dan jelas berkah

Jangan sampai niat menuju pernikahan suci tapi melalui jalan yang Allah tak ridhoi agar Allah tuntun diri dengan bimbingan-Nya yang tak semua pasangan bisa dapatkan bila melanggar perintah-Nya. Saya percaya jodoh itu rahasia Allah. Dan kebenaran dari rahasia itu bisa kita jemput. Caranya? Melalui ketaatan kita pada-Nya. Dengan menunjukkan pada Allah bahwa kita pantas disandingkan dengan pilihan terbaik dari-Nya. Buatlah Allah yakin untuk hantarkan jodohmu melalui pemantasan dirimu di hadapan-Nya. Merinding nih ngetiknyaaa..

 

#2 Gunakan Indikator Allah

Untuk para muslimah.. bila kelak ada lelaki menghampirimu dengan niat memuliakanmu dalam proses yang syar’i, pastikan kamu memilihnya menggunakan indikator Allah, yaitu agama dan akhlaknya terlebih dahulu. Barulah kemudian hal-hal seperti latar belakang keluarga, keturunan, kecakapan finansial, dll. Jangan terbalik. Sebab bila nafsu sudah merajai, bisa berbahaya pernikahan nanti. Kan pernikahan itu bukan perjalanan setahun dua tahun, tapi seumur hidup. Bila indikator pemilihannya menggunakan kacamata dunia, siap-siap kelak menyesal sebab dunia ini jelas fana. Beda dengan yang indikatornya menggunakan kacamata Allah, dimana kedepannya nanti akan Allah terus bimbing dan tuntun meski mungkin ada jatuh dan terluka. Allah pegangannya.

Pada umumnya, para muslimah seperti kita ini ya bersabar menanti, sampai tiba saatnya calon pangeran Surga menghampiri. Nah meskipun kesannya kita ini tinggal nunggu dan nanti tinggal milih, bukan berarti kita bersantai-santai. Sebab sebelum kita memilih, kita lah yang dipilih terlebih dahulu oleh lelaki. Jadi mindset-nya adalah karena kita ini dipilih terlebih dahulu, maka pantaskan diri kita untuk dipilih oleh lelaki yang high quality, di mata Allah tentunya. Barulah kemudian giliran kita menentukan terima lanjut berproses atau tolak hentikan proses. Kebayang kan kalau banyak lelaki melamar tapi semuanya tidak memenuhi indikator Allah, bingung lah kita dibuatnya. Milih nggak mau, nolak takut nggak kebagian. Hehe. Ekstrim ya. Makanya, meskipun kita perempuan, kita harus senantiasa meningkatkan kapasitas diri kita agar pantas diimami oleh lelaki shalih pemberani yang biasa saya sebut Pangeran Surga

 

#3 Melakukan Analisa Kemantapan Hati

Apabila proses yang dilalui sudah dipastikan syar’i yaitu melalui ta’aruf, melibatkan perantara (murabbi), maka langkah selanjutnya adalah menganalisa kemantapan hati kita, benarkah dia jodoh yang Allah pilihkan dan hantarkan untuk kita. Sebab pada tahap ini indikatornya pure hati dan perasaan. Tidak bisa dimanipulasi oleh apapun. Kemantapan hati itu mengalir sendiri. Tak bisa direka-reka, apalagi dipaksa. Dalam hal ini saya tidak akan menjabarkan bagaimana cara pertemuan dengan calon pasangan ya, sebab itu semua rahasia Allah. Dan masing-masing orang itu beda-beda cara pertemuannya. Intinya tetap harus melalui proses yang Allah ridhoi.

Saat berproses, lakukan shalat istikharah. Pasrahkan segalanya pada Allah. Bawa perasaan yang netral. Sebab bila hati sudah condong pada satu keinginan, maka doa menjadi tidak bersih. Berkomunikasilah pada Allah dengan hati yang ikhlas. Katakan dengan lapang, “Ya Allah bila dia betul jodohku, maka dekatkanlah. Tapi bila ternyata dia bukan jodohku, maka jauhkanlah.” Penyampaian doa seperti ini akan mudah bagi yang rasa hatinya masih netral. Tapi bagi yang sudah ada rasa suka sebelum halal, ya jelas berat. Biasanya doanya jadi termodifikasi, “Ya Allah, bila dia betul jodohku, maka dekatkanlah. Tapi bila ternyata dia bukan jodohku, maka.. yaaah.. Engkau Maha Pengasih kan ya Rabb.. jodohkanlah please..” Hehehe..

Bukan apa-apa. Bila hati kita sudah condong ingin memiliki padahal Allah belum berikan kemantapan, kelak bila ternyata dia bukan jodohmu, maka kemungkinan terluka hati besar sekali. Nggak mau kan sakit hati (lagi)? Yuk kita istiqomah, bersabar dalam penantian suci atas nama Allah.

Lalu bagaimana bila hati sudah condong ingin memiliki? Ya sebetulnya manusiawi, perasaan itu fitrah, nggak bisa ditahan-tahan. Jujur saya pun pernah begitu. Dalam proses syar’i yang saya jalani, beberapa kali saya merasakan ada fitrah rasa suka menelusup halus tanpa disadari yang muncul dari berbagai kekaguman terhadap calon pasangan saya saat ini. Lalu apa yang kemudian saya lakukan? Saya MENETRALISIR PERASAAN. Caranya? Saya menahan diri saya untuk tidak kepo akan aktivitas-aktivitas calon pasangan saya yang biasa beliau publish melalui sosial media. Dan apabila kami harus bertemu sebab keluarga dari saya atau dia ingin pergi bersama, maka sebisa mungkin saya dan dia tidak melakukan interaksi kalau tidak dalam kondisi urgent atau sangat penting. Seperti saat beberapa hari yang lalu mama beliau mengajak saya makan malam bersama, juga dengan adik beliau, maka saya duduk di sisi yang tidak berdekatan dengan beliau, kami juga membatasi pandangan satu sama lain, dan komunikasi saya dengan beliau saat itu hanya pada saat beliau menyerahkan bungkusan makanan untuk saya bawa pulang. Itupun hanya, “Ini buat di rumah..” sambil beliau menyodorkan bungkusan makanan, kemudian saya jawab “Oh iya, makasih..” sambil mengambil bungkusan makanan tersebut. Sudah, segitu aja komunikasinya. Tidak lebih. Aneh? Ya memang. Apalagi yang belum familiar dengan ta’aruf seperti kami. Tapi sungguh seru menjalankannya. Saya merasa bahagia luar biasa melakukan proses yang setiap langkahnya selalu menghadirkan Allah dan bila hendak melanggar, takut pada Allah. Alhamdulillah.

Kembali tentang menganalisa kemantapan hati. Bila shalat istikharah sudah dilakukan, maka tunggulah jawaban Allah. Beberapa memang ada yang disampaikan melalui mimpi. Tapi beberapa tidak. Bila terus menunggu mimpi yang tak kunjung datang, bisa jadi memang jawaban tersebut bukan melalui mimpi. Lalu darimana? Hehe.. coba cek hatimu. Biasanya hati akan mendesak jujur bahwa ia yakin atau tidak pada calon pasangan tersebut. Tapi bedakan ya antara mantap sebab Allah yang memantapkan, dengan mantap sebab nafsu. Bisa kok, rasakan saja.

Saya pun saat berproses awal-awal dengan calon pasangan saya ini, saya melakukan shalat istikharah. Dan alhamdulillah Allah dengan segera berikan kemantapan. Sulit kalau harus dijabarkan dengan kata, tapi saya jelas merasakannya. Indah sebab Allah yang hantarkan rasanya, bukan karena kitanya yang kelilipan cinta sehingga pandangan hati tidak jernih. Benar-benar tidak ada keraguan sedikit pun. Saya yakin, insyaAllah.

 

#4 Perhatikan Saat Semua Dimudahkan

Hambatan itu pasti ada. Namanya juga hidup. Kalau sudah tidak dihambat, ya berarti sudah dipanggil ‘pulang’ oleh Allah. Jadi mau pilih mana? Diberikan hambatan dalam hidup atau Allah segerakan ‘pulang’ menghadap-Nya? Hehe, ya jelas mending diberikan hambatan hidup sembari dituntun oleh-Nya untuk diberikan kemampuan dalam melewatinya. Betul? Betuuuul

Begitu pun dalam proses syar’i dalam menuju pernikahan ini. Meskipun ada beberapa hambatan dalam perjalanannya, tapi coba perhatikan dengan seksama, bila mayoritas prosesnya dimudahkan, maka komplitlah sudah. InsyaAllah, atas izin Allah, maka dialah jodoh yang Allah hantarkan pada kita. Dan sebab nama jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfuz, jelas kita hanya bisa ikhtiar. Yang penting ikhtiarnya di jalan yang Allah suka, cukup. Zonanya manusia memang hanya berikhtiar semaksimal yang kita bisa, sedangkan zona hasil adalah urusan Allah, suka-suka Allah.

Alhamdulillah saya pun merasakan segala proses yang sedang saya jalankan dengan calon pasangan saya sekarang ini sangat dimudahkan oleh Allah. Pertama dimulai dari pertemuan kami di twitterland, kemudian langsung dimediasi oleh orang yang memang memiliki kapasitas untuk memediasi proses menuju nikah yang syar’i, lalu dari pertemuan pertama ke pertemuan kedua yang berselang hanya beberapa hari itu saya mendapatkan kemantapan hati, dan tak perlu berlama-lama, beliau melangkahkan kaki menemui kedua orang tua saya untuk menyampaikan niat mulianya. Yang ajaib adalah papa saya yang terkenal galak itu pada saat bertemu dengan calon pasangan saya tiba-tiba berubah. Papa menjadi bijaksana dan syukur alhamdulillah dengan mudahnya izin menikah mengalir mulus. Jadi dari pertemuan pertama kami di twitter sampai dengan beliau menyampaikan maksud pada orangtua saya itu total hanya 3 minggu. Dan kami tidak berkomunikasi sama sekali di luar sepengetahuan murabbi. Bila terpaksa harus komunikasi via twitter pun, kami pasti men-Cc pada akun murabbi sehingga komunikasi kami selalu terpantau. Betapa luar biasa memperhatikan kemudahan-kemudahan proses kami ini.

Saat ini proses yang saya jalani sedang menuju ke pertemuan antar kedua belah pihak keluarga. Meskipun ada beberapa hambatan kecil, tapi hati saya tetap yakin. Tentu saja bukan sebab nafsu, melainkan sebab Allah yang meyakinkan. Namanya kehidupan, wajar ada hambatan. Justru seru. Saya yakin kelak ini akan menjadi kisah pengiring jejak langkah manis nostalgia kami bertahun-tahun ke depan bila direstui melangsungkan pernikahan, insyaAllah. Mohon doanya ya agar ikhtiar nikah dalam proses syar’i kami ini berkah dan senantiasa diridhoi Allah.

Saya doakan juga untuk siapapun yang sedang mencari atau bahkan sudah berproses, semoga tetap syar’i hingga tiba saat datangnya hari suci yang dinanti. Barakallah

“Jodoh itu seperti rezeki. Ianya dijemput, bukan ditunggui. Maka jemputlah dalam jalan yang syar’i, maka Allah akan ridhoi.” – Febrianti

Sumber: http://febriantialmeera.wordpress.com/2012/10/21/betulkah-dia-jodohku/