Seharusnya keinginan dan kebutuhan berjalan selaras.

Seharusnya prioritas pun menjadi yang utama dalam pemenuhan kebutuhan.

Tapi, mengapa kadang mereka tak seiring sejalan dan seolah saling melupakan satu sama lain?

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”. (Qs. Al Furqaan 67)

Banyak yang bilang, perempuan pandai mengelola keuangan. Tapi tidak sedikit pula yang bilang, bahwa perempuan juga pandai menghabiskan tabungan. Pernyataan ini membuat saya tersenyum kecut merasa tersindir. Karena penyebutan kata perempuan. Yang berarti saya juga perempuan.

Disebut pandai mengelola keuangan. Mungkin bagi mereka yang dapat mencukupi kebutuhan berdasar prioritas, mengalokasikan yang harus dibayar dan dapat menyisakannya untuk disimpan. Meskipun pemasukan cenderung pas-pasan. Dan yang disebut menghabiskan tabungan adalah pemasukan berlimpah, tapi masih saja membayar tagihan ke banyak pihak.

Beberapa survey kecil di sekitar membuktikan, bahwa kendala utama perempuan kurang mampu mengolah keuangannya sendiri dikarenakan gaya hidup. Konteks gaya hidup disini lebih diartikan pada gaya hidup yang berlebihan namun pemasukan yang serba kekurangan. Ironisnya mereka yang terjebak dalam kondisi ini, memilih hutang konsumtif, dan kartu kredit sebagai salah satu solusinya. Saya menyebutnya hutang berkelas, maksudnya untuk ‘yang ingin dianggap’ kelas ke atas dengan membayar cicilan bunga yang semakin naik ke atas pula.

Di pusat perbelanjaan, stand-stand bank yang menawarkan kartu kredit banyak dipenuhi perempuan. Belum lagi kalimat menawarkannya yang khas yaitu “memberikan kemudahan dalam berbelanja”. Maka semakin saja menarik perhatian para perempuan yang hobi berbelanja. Untuk kaum adam mungkin perbandingannya lebih kecil daripada kaum hawa. Tapi entahlah jika kaum adam ternyata lebih memilih untuk langsung mengunjungi bank tersebut , supaya terhindar antrian panjang kaum hawa yang sedang asyik menyimak dengan baik penjelasan tim Customer Service bank tersebut.

Berbagai macam diskon dan fasilitas jasa ditawarkan. Mulai dari potongan harga jika membeli dengan memakai katu kredit dari bank “X”, yang nantinya jika menggunakan kartu tersebut poin akan bertambah lalu dapat ditukar dengan berbagai macam hadiah yang dapat membuat calon nasabah nya supaya tergoda lalu memutuskan kartu kredit mana yang akan digunakan. Mereka yang sudah menggunakan kartu kredit tersebut lupa, bahwa sebenarnya mereka bukan mendapat hadiah melainkan mereka membayarnya melalui cicilan bunga yang mencekik leher. Belum lagi untuk calon nasabah yang suka bepergian, mereka dapat menggunakan fasilitas teletravel, yang hanya dengan memesan ‘by phone’ maka tiket sudah ditangan. Atau fasilitas tarik tunai dari kartu kredit ke rekening nasabah melalui ATM dengan logo tertentu. Dan tentu saja masih dengan bunga berlipat yang tak jauh beda dengan rentenir jika prinsip yang mereka terapkan berdasar riba’.

Tidak sedikit yang menjadi korban “kecanggihan” dari kartu kredit. Banyak yang tidak sanggup membayar cicilan. Lalu memutuskan untuk menutup kartu tersebut dan hanya membayar cicilan tunggakan beserta bunganya saja. Seorang teman yang memakai kartu kredit, mengakui menyesal menggunakannya. Kemudahannya dalam berbelanja dengan kartu kredit, membuat perempuan itu tidak dapat mengontrol dirinya. Ia tidak lagi mampu mengukur kemampuannya dalam berbelanja. Yang kebutuhan sudah tidak lagi prioritas, yang keinginan malah jadi prioritas. Atau yang seharusnya cukup membeli satu, karena ada diskon dari merchant apabila menggunakan kartu kredit tersebut, maka barang yang dibelinya lebih dari satu. Sampai suatu saat ia terkaget begitu menerima tagihan yang membengkak berlipat-lipat. Terbukti bahwa kartu kredit sama sekali tidak memberikan kemudahan dalam berbelanja atau pun bertransaksi tetapi malah memberi kesusahan di akhirnya. Ya begitulah sistem riba’ bekerja di kehidupan kita.

Saya bukan tidak setuju dengan bank non-syariah, tetapi jika ada bank syariah, kenapa memilih sistem riba’ untuk mengelola keuangan kita?

Lalu kenapa juga kita memilih kartu kredit, jika isi tabungan masih bisa di debit? Atau jika tidak ada yang di debit, berarti Allah menganjurkan kita “puasa” dulu untuk mengendalikan hawa nafsu. Agar kelak ketika Allah memberikan kita rezeki berlebih, nafsu sudah terkuasai.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba’, dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (Qs. Ali ‘Imran:130)

Hidup adalah pilihan. Jika ingin berkah, mulailah dengan memilih gaya hidup syariah. Maka, hindari riba’ dan sebaiknya tinggalkan budaya berhutang konsumtif untuk mencapai Ridho Nya.

CoPas from this link ==> http://www.fimadani.com/perempuan-belanja-dan-kartu-kredit/

Kebutuhan dan Keinginan dalam Mencari Jodoh

Bila ada kenalan yang butuh pinjaman uang dan saya pas tidak memilikinya, dengan mudah saya merekomendasikan teman yang lain. Atau paling tidak saya meminjam ke teman tersebut untuk dijadikan piutang terhadap teman yang meminjam. Namun, kasus meminta tolong akan bikin pening manakala si kenalan butuh bantuan dicarikan teman hidup alias jodoh.

Meski saya bukan biro jodoh, entah mengapa ada saja yang meminta bantuan pada saya dan istri untuk soal masa depan ini. Pernah kenalan kami, dan terhitung dekat dengan istri, begitu ingin menikah. Ia blak-blakan ingin pendamping hidup lantaran faktor usia. Usia si pemohon sebenarnya masih empat tahuan untuk sampai ke kepala tiga. Namun, kesadaran dan juga ingin menggenapkan separuh agama lewat pernikahan, menghempaskan rasa malunya selama ini untuk diganti bicara apa adanya.

Pada perempuan itu, ia tengah menghadapi gulana. Bukan sekadar gelisah akibat tren menikah di usia muda yang dilakukan teman-teman kuliahnya. Melainkan, sebuah kebutuhan yang memang tidak bisa ditepiskan. Ini tak ada kaitan dengan mitos lama bahwa perempuan di umur dua puluhan masih selektif dan pelit membuka calon pelamar.

Bila perempuan pertama berhajat karena butuh, lain dengan perempuan berikutnya, sebut saja Navila. Meski umur melewati kepala tiga, ia bergeming untuk menerima setiap lelaki yang datang. Dari yang tampan, saleh, cerdas, kaya, hingga satu etnis, semua belum menggoyahkan harapannya pada sang calon terdamba. Berkali-kali jawaban: maaf tidak bisa bersanding dengan Anda, dilontarkannya.

Telah berkali-kali pula teman-temannya angkat tangan. Navila seperti perempuan ‘angker’ dengan demikian terbangun kewibawaan—yang entah betul-betul kokoh ataukah semata sebuah imajinasi teman-temannya. Seorang teman lebih seniornya menuturkan, rupanya si perempuan salehah di umur tiga puluh tiga tahun ini masih terkesan dengan seorang lelaki.

Lelaki itu pernah dijumpainya dan dikaguminya sekitar empat tahun lalu. Dalam pertemuan sepintas tapi kemudian berubah jadi simpati mendalam. Meski tak seetnis, sebagaimana lazim berlaku dikalangkan keluarga besarnya, Navila menerima lelaki itu. Lelaki yang diekspektasi dan di imajinasi ideal itu merupakan jodohnya. Jodoh yang entah kebutuhan ataukah keinginannya.

Sayangnya, rasa mendalam di hatinya tak sempat diutarakan pada lelaki itu. ia hanya berharap pada penantian datangnya lelaki itu.

Maka, setiap ada lelaki (lain) yang datang, Navila ’menopengi’ dengan beragam jawaban. Dia masih teringat dan terkenang pada harapannya. Tak salah, memang, sebagaimana Fatimah putri Rasulullah pernah menolaki lelaki saleh semacam Abu Bakar, Umar, dan Utsman,tetapi menerima Ali—lelaki yang pernah diimpikannya. Meski berbeda konteks dan perwujudannya, entah sepertinya kisah Fatimah yang setiap mencari yang pas (baca: sesuai impian) sepertinya memiliki kesamaan dengan Navila.

Meski sama-sama mengejar perintah yang sama—menggenapi separuh agama—tapi ketika pengalaman dan harapan bersenyawa maka bisa lahir dua fenomena berbeda. Pada teman yang lebih muda (perempuan pertama), ia tak rewel memilih. Ia melakukannya karena butuh. Adapun perempuan kedua, meski usianya menjelang pertengahan kepala tiga, ia masih selektif. Menyesuaikan harapan lelaki yang ada untuk disinkronkan dengan keinginannya di masa lalu.

Teman, antara butuh dan ingin memang beda. Jumlah karakter boleh sama, tapi muara dan pencapaiannya amat jauh berbeda.

Oleh: Yusuf Maulana, Yogyakarta

Facebook – Blog

CoPas from this link ==> http://www.fimadani.com/kebutuhan-dan-keinginan-dalam-mencari-jodoh/

Dimana Jilbabmu, Saudariku?

Pake baju apa ya hari ini? Begitu kira-kira yang terlintas otomatis di pikiran kita setiap hari. Lintasan pertanyaan seperti itu mungkin bukan hanya bagi mereka yang mementingkan penampilan saja, bagi yang sembrono sekalipun. Perbedaannya hanya pada pilihan yang dibuat. Yang dandy akan selalu tampil rapi, matching, dengan padu padan yang pas dan sempurna. Sedang yang lain mungkin tidak terlalu peduli.

Pakaian, sedikit banyak akan menggambarkan identitas pemakainya. Seperti apa seseorang akan nampak tercermin dari pakaian yang melekat di tubuhnya meski tidak mewakili keseluruhan. Namun itulah yang akan dinilai pertama kali oleh orang yang melihat. Terlebih lagi untuk seorang muslimah. Memilih baju tentu bukan sekedar yang disuka. Ada norma kepantasan mutlak yang dituntunkan, langsung dari langit.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita..” (QS. An-Nuur : 31).

Saat ini memang tak lagi seperti era tahun 80-an atau awal 90-an. Dimana berkerudung menjadi sebuah perjuangan yang sangat berat. Ditentang, dipersulit, didiskriminasi. Jaman sudah berubah, sekarang telah ada begitu banyak kemudahan. Tak perlu lagi khawatir ancaman guru untuk tidak memasang foto berkerudung di ijazah. Tak perlu khawatir tidak lolos wawancara kerja karena berjilbab. Alhamdulillah, semua serba mudah. Bahkan berjilbab pun tidak lagi menjadi ancaman penghalang untuk berpenampilan modis. Ada banyak pilihan model, warna, dan gaya, sehingga muslimah tidak perlu takut terlihat jadul dan ngga gaul. Namun, amat disayangkan, segala kemudahan itu tidak kemudian dibarengi dengan penanaman pemahaman yang benar. Jilbab yang fitrahnya sebagai penutup aurat, malahan diselewengkan hanya sekedar sebagai ‘alat’ pemercantik diri. Berapa banyak saudari kita yang berjilbab namun penampilannya masih tak kalah seksi dengan para penyanyi dangdut? MasyaAllah.. Atas nama mode, ukuran syar’i telah dipangkas dan dimodifikasi. Sehingga muslimah sekarang cenderung bukan berjilbab, namun sekedar ‘menutup kepala’.

Dalam hal ini, saya tidak dapat menyalahkan, meskipun juga tidak membenarkan. Saat ini godaan untuk tidak berjilbab begitu luar biasa. Pun bahkan hanya untuk berkerudung yang sekedarnya. Perang pemikiran yang dilakukan musuh-musuh Islam sudah demikian hebatnya. Banyak sekali cara yang dilakukan oleh pihak yang sangat tidak ingin Islam menjadi jalan hidup umatnya. Proses cuci otak itu berlangsung demikian terstruktur dan halus. Hingga sebagian besar muslimah termasuk yang ada di negeri ini, bahkan tidak sadar bahwa berjilbab itu adalah suatu kewajiban syariat. Sebagaimana wajibnya shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan kewajiban-kewajiban lain yang melekat dalam Islam. Karena Islam itu integral. Menyeluruh. Syamil wa mutakamil.

“Hai orang-orang yang beriman! masuklah ke dalam islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syetan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 208)

Bagi beberapa orang, pilihan untuk berjilbab mungkin sesuatu yang mudah, karena bisa jadi sudah dibiasakan dan dipahamkan oleh orang tua sejak kecil. Namun bagi sebagian lainnya, untuk memutuskan berjilbab dibutuhkan keberanian dan perjuangan yang berat. Ada begitu banyak pertimbangan, terlebih pandangan bahwa merasa dirinya belum baik, sehingga belum pantas berjilbab. Satu pemahaman yang sengaja dihembuskan agar kita ragu-ragu. Agar kita menunda untuk berjilbab. Padahal sungguh, setiap muslimah itu memang sudah sepantasnya berjilbab. Karena berjilbab itu adalah bentuk penghormatan yang diberikan Allah kepada kita. Yang tidak diberikan kepada wanita manapun selain kita. Ya, hanya kita. Karena kita makhluk spesial.

Salah satu lingkungan yang dapat mendukung proses berjilbab adalah kampus. Pada beberapa kampus, dakwah bisa begitu berkembang dengan mudah. Di lingkungan kampus yang cenderung homogen, sosialisasi untuk berpakaian syar’i dilakukan terus-menerus. Baik melalui kajian-kajian ataupun melalui pendekatan personal. Sehingga peningkatan pemahaman sekaligus keistiqomahan itu tidak terlalu sulit untuk dipertahankan para aktivis dakwah di dalamnya akan selalu siap untuk saling mendukung dan mengingatkan. Satu hal kecil, seperti lupa memakai kaos kaki setelah wudhu akan segera membuat rekan-rekan seperjuangan mengernyitkan keningnya sehingga yang terlupa segera tersadar. Namun selepas dari kampus, ketiadaan rekan dan partner dalam kebaikan bisa jadi sangat berperan untuk menggoyahkan keistiqomahan. Sehingga terkadang tidak lagi dianggap sebagai hal yang aneh ketika kemantapan untuk berpakaian syar’i menjadi timbul tenggelam. Bahkan kemudian padam.

Sebenarnya urusan pakaian ini tidak lagi layak untuk diperbincangkan bagi mereka yang telah mengerti dan telah diberi pemahaman ilmu syar’i yang mencukupi. Allah sudah begitu jelas memberikan batasan, bagian mana yang harus ditutup, bagian mana yang boleh diperlihatkan. Semua sudah jelas. Namun, tidak dapat dihindari masih ada beberapa rekan kita yang dulu terlihat begitu anggun dengan jilbab yang berkibar-kibar kemudian melepaskan satu-persatu atribut kemuslimahannya. Mengecilkan ukuran jilbabnya sampai batas tidak syar’i dan kembali pada penampilan yang sama seperti sebelum paham tentang batasan menutup aurat.

Memang ada yang berpendapat, meskipun jilbabnya kecil asal tetap syar’i tidak apa-apa, toh dalam berda’wah kita memang harus berbaur, agar tidak dipandang fanatik dan akhirnya menjauhkan kita dari objek da’wah. Baiklah, ketika niatnya dan kondisinya seperti itu, semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan baginya dan usahanya dalam berdakwah. Namun bagi yang kemudian hanya (asal) tetap berkerudung, waduh!! Dengan tidak menanggalkan prasangka baik, saya pikir tindakan tersebut tidak serta-merta dapat dimaklumi. Bagi mereka yang baru berhijab, mungkin tidak apa-apa, karena pemahamannya belum utuh dan perbaikan serta peningkatan itu akan terus berlanjut, Insya Allah. Namun untuk para aktivis da’wah, rasanya kok menyedihkan. Dimana ghirah yang dulu senantiasa meletup, dimana janji-janjinya untuk senantiasa setia memegang agama?

Masa-masa dakwah di kampus idealnya dapat membekali seluruh aktivis dan kadernya minimal untuk dapat bertahan ketika terpaksa sendiri di dunia luar. Atau lebih jauh membuat mereka mampu, tidak hanya untuk bertahan tapi juga mewarnai lingkungan sekitarnya. Ibaratnya seperti tanaman, di kampus adalah waktu dimana benih ditanam ke dalam polly bag, ditempatkan di bawah tempat teduh, diberi air dan pupuk dengan takaran yang sesuai. Cukup untuk membuatnya dapat ditanam di tanah yang sebenarnya, tumbuh membesar, berbuah atau kalau tidak berbuah setidaknya membuat tempatnya tumbuh menjadi teduh dan sejuk.

Saya tidak sedang menghakimi. Tidak, sekali-kali tidak. Saya hanya sedang bertanya-tanya, apa yang salah? Dimana yang salah? Kefuturan saudari seperjuangan tetap saja menggores luka di hati. Meskipun sudah merupakan sunatullah, ketika ada yang datang dan pasti ada yang pergi.

Yah, pastinya ukuran jilbab dan cara berpakaian tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar keimanan seseorang, tidak dapat menunjukkan kedudukan mereka di sisi Allah. Bisa jadi Allah menganugerahkan kebaikan yang besar untuk mereka, bahkan sangat mungkin jiwa mereka lebih mulia daripada akhwat yang jilbabnya melambai-lambai saking besarnya. Namun sembari tidak berhenti berdoa dan berharap mereka akan kembali, saya hanya dapat menyerahkan pilihan tersebut ke tangan mereka. Karena bagaimanapun inginnya saya, diri mereka tetaplah milik mereka. Sedang hati mereka ada dalam genggaman-Nya. Maka hanya doa tulus yang bisa saya panjatkan, agar Ia berkenan mengembalikan hidayah yang pernah bersemayam indah dalam dada saudari saya semuanya. Kita memang punya hak memilih Saudariku, namun kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan-pilihan itu kelak di hadapan-Nya

‘Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 8-10)

Tri Susio R, Jakarta

CoPas from this link ==> http://www.fimadani.com/dimana-jilbabmu-saudariku/

Lisan Perempuan dalam Kehidupan

Ketika perempuan tak mampu lagi mengendalikan lisan.

Dimanapun selalu membicarakan kesia-siaan.

Maka imanlah yang dibutuhkan. Hingga lisan selalu dalam kebaikan.

Rara termenung di sudut musholla kantor tempat ia bekerja. Di depannya ada Nena yang menangis sesenggukan. Benar kata orang, lidah perempuan lebih panjang daripada tali. Terbukti cerita murahan itu sudah menyebar, bukan hanya di divisi tempatnya bekerja, tetapi teman dari divisi lain pun menanyakan kepada Rara tentang masalah yang sedang dialami Nena. Entah kabar burung dari siapa yang membuatnya. Rara sendiri terkaget, ketika seorang teman bertanya padanya, apa benar Nena menjalin hubungan super spesial dengan si “x” dari Kepala Divisi lain. Bahkan Nena dituduh telah melangsungkan pernikahan diam-diam dengan si “x” tersebut. Awalnya Rara mencoba menenangkan Nena dengan tidak usah menggubrisnya. Karena memang hubungan Nena hanya sebatas rekan kerja saja dan menghormati beliau yang memang atasan Nena. Dan Nena tak mau terjadi hal yang tak diinginkan dengan keluarga mereka. Nena sadar bahwa ia yang belum menikah harus menjaga harga dirinya sebagai seorang muslimah, maka Nena berusaha menjelaskan kepada beberapa orang bahwa kabar itu tidak benar. Kedekatan mereka hanya sebatas satu tim dalam proyek yang mereka tangani. Dan mereka dengan 14 orang lainnya dalam 1 tim, bukan hanya mereka berdua saja. Sedangkan Nena juga tak ingin keluarga terutama istri beliau juga mengkhawatirkan keadaan suaminya yang tiba-tiba difitnah dengan cerita murahan ini. Sampai suatu ketika bukan hanya di tempat kerja saja cerita bohong ini disebarkan, bahkan pengajian yang Nena ikuti juga membicarakannya. Ternyata teman sepengajian Nena punya sepupu yang satu kantor dengannya.

Rara prihatin melihat sesosok mungil didepannya. Nena yang semakin kurus, karena memikirkan tuduhan orang-orang terhadap dirinya, dan membuatnya tak berkonsentrasi bekerja. Rara bingung kenapa teman-teman pengajian pun ikut membicarakannya, padahal seharusnya akhlaq mereka lebih terjaga. Ah, seharusnya perempuan lebih sadar untuk menjaga lisan, karena jika lisan tak terarah, berapa banyak lagi hati yang tersakiti.

Sedikit analisis sederhana tentang awal mula hobi ber-ghibah para perempuan di masa kini. Mungkin sebelum era para perempuan berkarir di kantor, baik perempuan yang masih berstatus lajang atau sudah berkeluarga, kebanyakan dari mereka hanya beraktivitas di rumah, maka untuk menghibur diri dan mengusir rasa bosan, mereka memutuskan untuk keluar rumah lalu memulai membahas topik pembicaraan dengan tetangga. Jika ditilik dari masa lalu, seharusnya perempuan jaman sekarang sibuk bekerja, mengurusi keluarga dan belum lagi banyak tuntutan dari dunia pendidikan agar anak mereka diperhatikan secara khusus, maka perempuan jaman sekarang akan sibuk mengurusi dunianya hingga tak ada waktu mengurusi “dapur” orang lain.

Ternyata bukan hanya infotainment yang sibuk membicarakan urusan atau kehidupan pribadi orang lain. Disekitar kita pun, banyak perempuan yang sibuk mengorek masalah orang lain. Ada yang cukup disampaikan saja, atau malah dikurangi dan ditambahi dari keadaan yang sebenarnya.

Kenyataan yang dihadapi saat ini, banyak perempuan yang lebih peduli dengan urusan pribadi orang lain, sibuk mengoreksi masalah orang lain daripada instropeksi diri sendiri atau keluarga yang seharusnya dia perbaiki. Memang tidak semua perempuan memiliki pribadi yang “minus” terebut, namun maraknya rating infotainment yang memasuki peringkat teratas dan kebanyakan penontonnya kaum perempuan, maka patutlah dikoreksi lagi hobi ber ghibah para perempuan ini. Lalu dengan segala kerendahan hati, mengkoreksi diri adakah kita termasuk di jajaran para perempuan yang meramaikan tontonan infotainment? Ataukah termasuk dari para perempuan yang ada di deretan ibu-ibu rumpi yang membahas aib orang lain, atau malah mengunakan jam kerja dan beribadah dengan membahas si “ini-itu” yang jelas kurang bermanfaat?

Berikut beberapa aktivitas yang insyaAllah dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan “bad habit” dalam diri perempuan agar tak terjebak dosa lisan.

Teman dan Lingkungan

Banyak perempuan yang berubah karena teman dekat. Berubah dalam artian kebaikan atau sebaliknya. Perlu diingat teman yang baik adalah yang mengingatkan ketika akan ke terpeleset ke sebuah kesalahan dan akan menolong ketika terjatuh ke sebuah lubang kesalahan. Tak jarang pula, orang akan menilai kita dengan melihat teman dekat kita, maka berhati-hatilah dalam memilih teman dekat, agar kita dapat saling berbagi dalam kebaikan dan belomba–lomba untuk kemanfaatan.

Jangan lupa bahwa perempuan harus peka terhadap lingkungan. Memfilter lingkungan mana yang harus disinggahi. Jika lingkungan tersebut kurang layak untuk disingggahi maka kewajiban kita untuk melayakkan lingkungan sehingga lingkungan tersebut menjadi ladang amal kita dalam berkebaikan.

Dengan Iman, Kita Berteman

Iman menata kehidupan seorang perempuan menjadi lebih baik. Dengan iman, seorang perempuan menjaga harga dirinya. Mulai dari dalam hal pergaulan, baik dengan sesama perempuan atau lawan jenis, sampai dalam memilih topik pembicaraan agar nantinya topik tersebut tidak melibatkan aib orang lain atau malah aib kita sendiri yang kita ‘obral’ untuk konsumsi publik.

Hanya dengan iman, silaturrahim karena Allah dapat terbingkai. Karena keimanan membuat seorang perempuan bertenggang rasa kepada sesama, sehingga lisan tak sampai menyakiti orang lain dan menimbulkan prasangka buruk terhadap diri kita.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat : 12)

Gunakan Waktu, Untuk Kemanfaatan

Banyak tali persaudaraan tak berjalan dengan baik hanya karena lisan. Membicarakan orang lain, menanggapi “katanya” orang lain sampai waktu pun tersita memikirkan hal tersebut, pikiran pun lelah dibuatnya, waktupun terbuang percuma. Pertengkaran kecil dan kesalahpahaman seringkali terjadi akibat lisan yang tak terjaga yang akhirnya memicu prasangka buruk dalam hubungan persaudaraan tersebut.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, perempuan harus pandai mengisi waktu. Saling menanamkan semangat untuk menggali ilmu pengetahuan agar para perempuan menggunakan waktunya dengan cerdas sehingga banyak yang menuai sebuah manfaat dari kita, karena hanya dengan ilmu waktu tak terbuang sia sia.

Waktu tak akan mampu mengembalikan kita ke masa lalu, supaya kita tidak lagi melakukan kesalahan tersebut. Tapi kita mempunyai “hari ini” untuk memperbaiki masa lalu hingga tak ada lagi sesal yang terulang.

Dan Pepatah mengatakan, “ ingin tahu pribadi anda, maka bercerminlah kepada teman dekat anda”.

Maka, jadilah pribadi yang baik sehingga diripun pantas menjadi cerminan untuk sesama perempuan.

CoPas From : http://www.fimadani.com/lisan-perempuan-dalam-kehidupan/