Konsep Menanti Jodoh (Insya Allah)

Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc.
Konsep Menanti Jodoh (Insya Allah)
Artikel Lepas
15/2/2012 | 21 Rabbi al-Awwal 1433 H | Hits: 13.885
Oleh: Guntara Nugraha Adiana Poetra, Lc.
Kirim Print
10
0diggsdigg
email
print

Ilustrasi (blogspot.com)

dakwatuna.com – Catatan ini bukan cerita bagaimana teori perjodohan Rasulullah dengan Khadijah, Ali dengan Fatimah, atau kisah terkini antara Abdullah Khoirul Azzam dengan Anna Althafunnisa dalam serial Ketika Cinta Bertasbih. Ini hanya teori ringan berupa beberapa konsep yang harus dibuktikan sebagai analisa bersama di zaman sekarang. Berikut konsepnya:

1. Konsep tawakal

– إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون ( 2 ) الذين يقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون ( 3 ) أولئك هم المؤمنون حقا لهم درجات عند ربهم ومغفرة ورزق كريم (4)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman [1] ialah mereka yang bila disebut nama Allah [2] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.”

Berangkat dari ayat di atas bahwa tawakal juga harus di iringi dengan ibadah seperti shalat dan berbagi kepada yang membutuhkan agar kelak mendapat rizki yang mulia di sisi Allah. Tawakal atau berserah diri setelah semua upaya di usahakan itulah esensi dari arti kata tawakal sesungguhnya.

– ……..ومن يتق الله يجعل له مخرجًا(2) ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه……(3)

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

Oleh karenanya bagi rekan-rekan yang dalam masa penantian hendaknya memahami konsep pertama ini sebagai langkah awal menuju proses selanjutnya. Bagaimana, mudah kan…!

2. Konsep penyembahan

. إياك نعبد وإياك نستعين-

“Hanya Engkaulah yang kami sembah [3], dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan [4].” (QS. Al-Faatihah: 5)

………..…… لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali ‘Imran: 92)

– وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ خَلْفَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ! اِحْفَظِ اَللَّهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اَللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اَللَّهَ وَإِذَا اِسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَسَنٌ صَحِيحٌ

Ibnu Abbas RA berkata: Aku pernah di belakang Rasulullah SAW pada suatu hari dan beliau bersabda:

“Wahai anak muda peliharalah (ajaran) Allah niscaya Dia akan memelihara engkau dan peliharalah (ajaran) Allah niscaya engkau akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” [5]

Dalam konsep ke-2 ini tentunya memerlukan beberapa perangkat dalam melakukan segala jenis ibadah yang harus dilakukan dengan konsisten dan sabar. Mari kita perhatikan surat Hud juz 12 di bawah ini:

– ( فاستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا إنه بما تعملون بصير ( 112 ) ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون ( 113 ) ( وأقم الصلاة طرفي النهار وزلفا من الليل إن الحسنات يذهبن السيئات ذلك ذكرى للذاكرين ( 114 ) واصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين ( 115 )

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zhalim [6] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Pesan dari ayat yang agung di atas di antaranya, mari kita perhatikan:

* فاستقم = Perintah untuk konsisten dalam kebaikan
* ولا تركنوا إلى الذين ظلموا = Menjaga pergaulan
* وأقم الصلاة = Perintah menjaga Shalat
* إن الحسنات يذهبن السيئات = Hendaknya perbuatan buruk (dosa-dosa kecil) kita di iringi dengan kebaikan agar terhapus kecuali dosa besar via bertaubat
* واصبر = Dan perintah bersabar.

Perangkat dari konsep ke-2:

* Menyembah hanya kepada Allah.
* Meminta segala sesuatunya juga kepada Allah
* Belajar berbagi untuk menjadi pribadi yang taat
* Dan kesimpulan yang ada dari surat Hud di atas.

Teruntuk para penanti jodoh hendaknya juga memperhatikan pesan-pesan tersirat dari ayat-ayat Qur’an dan hadits nabi pada konsep ke-1 dan ke-2. Sekarang kita beralih ke konsep selanjutnya.

3. Konsep amal shalih dan Iman

– من عمل صالحا من ذكر أو أنثى و هو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة…….

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” [7]

Dari surat An Nahl ayat 97 juz 14 di atas, mari kita perhatikan sejenak kalimat “فلنحيينه” falanuhyiyannahu (maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya) , di sini Allah ta’ala menggunakan huruf ‘’Lam taukid” setelah huruf “Fa” dan “Nun tasydid” sebelum huruf ‘’Ha besar” di akhir.

Dalam kaidah bahasa Arab huruf Lam taukid (berharakat fathah) dan Nun Tasydid (dibaca dengan ghunnah/berdengung 2 harakat) yang di gabungkan dalam satu kalimat itu mempunyai arti:

* Penguat makna.
* Penekanan lebih bersifat jaminan, menguji secara pasti dan lainnya (sifatnya tergantung teks Qur’an)
* Bisa juga pengeras arti tergantung dari ayat sebelum dan sesudahnya.

Contoh berupa jaminan pasti:

Ada di Surat An Nahl ayat 97 juz 14 pada kalimat “فلنحيينه” falanuhyiyannahu, adapun konteksnya Allah ta’ala akan menjamin mereka (ikhwan dan akhwat) yang punya kecenderungan pada kebaikan dengan kehidupan yang layak, tapi dengan satu sarat yaitu ”percaya akan adanya satu Tuhan (Allah) tanpa menyekutukan-Nya’.

Adapun berupa ujian yang juga bersifat pasti:

ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات ……………………………

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…” (QS. Al Baqarah: 155)

Mari kita perhatikan kalimat ولنبلونكم “wa lanabluwannakum” (Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu). Artinya Allah hendak menegaskan bahwa akan ada pelbagai ujian yang bersifat pasti karenanya pula dipakailah huruf “Lam taukid dan Nun tasydid” sebagai bentuk keilmuan bagi orang-orang yang beriman agar bersiap-siap akan ujian dari-Nya, di antaranya :

* Rasa Takut yang kadang menghampiri
* Rasa lapar yang pernah dirasakan
* kondisi ekonomi menjadi kurang mengizinkan
* kehilangan sanak saudara atau orang-orang terkasih
* dan juga kekurangan akan buah-buahan (Makanan)

Kalaupun kita dapati tidak dengan Nun tasydid misalnya di surat Yusuf ayat 32 juz 12:

….ولئن لم يفعل ماء آمره ليسجنن وليكونا من الصاغرين.-

“…Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk golongan orang-orang yang hina.”

Kalimat pertama “ليسجنن” “layusjananna” (niscaya dia akan dipenjarakan) dengan lam taukid di awal dan nun tasydid di akhir, artinya memang betul Istri Al-Aziz atau yang lebih dikenal di kalangan masyarakat luas sebagai Zulaikha, Zalikha atau Rahil, walaupun riwayat tentang nama sebenarnya tidak ada yang bisa di pertanggungjawabkan karena semuanya lemah. Bahwasanya dia hendak memenjarakan Yusuf jika tidak menuruti aturannya.

Tapi kalimat setelahnya justru berbeda, mari kita perhatikan ” وليكونا” “wa layakuunaa” (dan dia akan termasuk/menjadi) menggunakan huruf Nun Khofifah dan dibaca panjang 2 harakat yang bermakna: “Penekanannya lebih ringan ketimbang dengan nun tasydid”, artinya:

Maksud Istri Al-Aziz kepada Yusuf sejatinya bertentangan dengan hati nuraninya atau tidak sepenuh hati. Karena bagaimana mungkin dia melihat orang yang sangat di cintainya hingga di mabuk asmara karena ketampanannya menjadi orang yang terhina. Tentunya kita pun demikian tidak mungkin melihat orang yang kita cintai menderita. (Studi Normatif)

Sebenarnya apa yang dilakukan Istri Al Aziz kepada sang pujaan hati Yusuf adalah Salting (Salah tingkah) Istilah zaman sekarang karena cintanya yang berlebihan atau lebai (kata anak muda di zaman ini).

Kesimpulan konsep ke-3:

Almarhum Syeikh Tantowi (mantan Syeikh Al-Azhar Mesir) pernah mengatakan kalau ayat dari Surat An Nahl di atas merupakan ganjaran di dunia bagi orang-orang baik lagi beriman kepada Allah yaitu “kehidupan yang layak”. [8]

Para ulama sendiri mengartikan kehidupan yang layak ini beragam:

* Dijadikan pemegang kepentingan.
* Dimantapkan agamanya
* Diberikan rasa nyaman dalam hidup
* Pekerjaan yang cocok.
* Keluasan rizki yang baik
* Kemudahan demi kemudahan.
* Juga jodoh yang di idamkan dan masih banyak lagi.

Jadi….. bagi para penanti jodoh hendaknya mengamalkan ayat di atas sebelum kita melanjut ke konsep berikutnya. Semoga….

4. Konsep Cinta

Cinta adalah anugerah Allah yang bisa mengantarkan manusia kepada kebahagiaan, para pakar Cinta sendiri mempunyai banyak definisi tentangnya dan saling berbeda tapi yang bisa disepakati adalah Cinta mendorong untuk melakukan hal-hal positif, karya-karya besar dan menjadikan hidup lebih hidup.

Cinta bisa menghilangkan rasa sakit, mendorong untuk segera sembuh, cinta juga bisa menggeser segala jenis rintangan, halangan, gesekan, ujian, cobaan, kesedihan, kegalauan, kesulitan dan benda-benda mati lainnya, karena hakikat cinta adalah benda hidup yang senantiasa menghiasi hari-hari pecinta sejati. Maka teruslah hidup dengan benda hidup (Cinta).

Cinta bukanlah pemaksaan kehendak dan bukan juga cinta siapa yang memaksakan kehendak, melainkan cinta adalah sebuah dialog antara dua insan yang harus di perjuangkan dengan rahmat dan ridha dari sang pemilik cinta yaitu Allah.

Cinta itu bermacam-macam : ada cinta kepada Allah dan rasul-Nya, kepada agama, Negara, Manusia, materi, lingkungan, hobi dan banyak lagi, bukti kita cinta kepada Allah yaitu patuh dan taat pada perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Cinta berawal dari pengenalan atau ta’aruf, setelah itu timbul rasa, lalu tanggung jawab dan yang terakhir adalah kesetiaan, bukan cinta namanya bagi yang tidak mengenal dan juga yang tidak setia kepada pasangan.

Cinta atau Mawaddah adalah mengosongkan hati dari segala kekurangan terhadap pasangannya, saling mengerti dan melengkapi, karena jika Cinta, segala kekurangan yang ada pada kekasihnya itu terlihat normatif, sehingga betapapun buruk yang di cintainya akan menjadi terlihat baik karena cinta dan itulah arti sejati dari Mawaddah. (Khusus yang sudah menikah)

Oleh karenanya bagi para penjalin cinta kasih (Suami-Istri) hendaknyalah memperjuangkan cinta, jaga cintanya agar tetap bersemi menghiasi isi hati, sedangkan bagi para penanti jodoh hendaknya bersabar akan jaminan dari Allah berupa kehidupan yang layak di dunia seperti yang tersirat pada surat An Nahl ayat 97 juz 14.

Inilah rangkaian singkat dari arti cinta, oleh karenanya wajib bagi kita untuk memahami lebih dalam akan arti cinta sebelum kita melanjut ke Konsep jodoh yang terakhir.

5. Konsep mencari sebab

Ajaran Islam bukan saja mengedepankan sisi “Spiritualitas” tapi juga ada sisi lain yang penting diperhatikan yaitu “Rasionalitas” dari sinilah banyak ilmuwan barat ramai memeluk ajaran Islam karena ajarannya yang rasional.

Kalaulah kita hanya berpegang pada sisi spiritualitas saja tentu bisa menggambarkan Islam di mata dunia sebagai ajaran khurafat atau takhayul. Adapun jika pada sisi rasionalitas saja tentunya ajaran ini tak ubahnya sama seperti ajaran Paganisme (penyembah berhala).

Beberapa contoh rasionalitas dalam Islam (Mengambil sebab):

a. Pembuatan bahtera nabi Nuh sebagai penangkal dari musibah banjir besar.

…………..واصنع الفلك بأعيننا ووحينا

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami…” (QS. Hud: 37).

b. Proses mendapatkan makanan seorang Maryam

هزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu,” (QS. Maryam: 25)

c. Proses penyembuhan atas Wahyu dari Allah kepada nabi Ayyub.

اركض برجلك هذا مغتسل بارد و شراب

“(Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS. As Shaad: 42)

Adapun mengambil sebab menanti jodoh, berikut uraiannya:

1. Selipkanlah doa ini dalam sujud sebagai wujud dari Ibad Rahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang).

(74)……………….ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما ………… –

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Furqan: 74).

2. Mulai melakukan proses pencarian belahan jiwa, adapun dicarikan melalui bantuan orang lain hukumnya sah-sah saja.

3. Menikahlah dengan orang yang dicintai (laki-laki dan perempuan), atau bisa juga mencintai orang yang menikahi (khusus untuk perempuan).

4. Menikah bukan hanya dengan orang yang dicintai, melainkan berkomunikasi dengan keluarga besar pasangan yang juga baik, karena ini adalah porsi ideal dari kebahagiaan menikah sebagaimana petunjuk Rasul untuk melihat garis keturunan yang baik, adapun jika kita belum mampu mengikuti anjuran tersebut hukumnya tidak mengapa, karena bisa jadi orangtua pasangan kurang sholeh tetapi anaknya sholeh, jika sudah kepalang cinta alias cinta medok. (Opsi ideal lebih ditekankan)

5. Jika sudah merasa mampu dan mendapatkan jodoh yang di idamkan, segeralah menatap langit dengan penuh pengharapan sambil bergerak maju dengan badan tegap sambil melangkah untuk segera melamar sang gadis atau janda (gadis lebih di anjurkan karena keutamaannya) dengan mengucap “Bismillah”

6. Adapun untuk para akhwat hendaknya bersabar dan terus memperbaiki diri sambil berusaha dan berdoa agar pangeran berkuda putih segera datang menjemput Anda.

7. Semoga berhasil kawan…

___

Catatan kaki:

[1]. Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

[2]. Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya.

[3] Na’budu diambil dari kata ‘ibaadat: kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[4] Nasta’iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti’aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

[5] Riwayat Tirmidzi. Ia berkata: Hadits ini shahih.

[6]. Cenderung kepada orang yang zhalim maksudnya menggauli mereka serta meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, maka dibolehkan.

[7]. Ditekankan dalam ayat ini bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

[8] Kajian rutin Tafsir Al Wasith setiap Jum’at siang di Masjid-Islamic Mission City-Kairo.

Keyword: Allah SWT, amal, cinta, iman, jodoh, konsep, sembah, shalih, tawakal

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18272/konsep-menanti-jodoh-insya-allah/#ixzz1oQcyxxbh

Advertisements

Ingatlah Allah, Jangan Kau Tanya Caranya

Kirim Print
2
0diggsdigg
email
print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang

Benar, memang seperti itu adanya
Bukan rekayasa atau rayuan
Bukan sekedar retorika dalam kitab suci
Bukan pula fatamorgana di antara kegersangan

Ingatlah Allah, jangan kau tanya caranya
Ingat saja Allah, seperti kau ingat kekasihmu
Sebut saja Allah, seperti kau menyebut nama kekasihmu
Rasakan kehadiran Allah, bahwasanya Dia ada di bagian terdekat tubuhmu

Ingatlah Allah, jangan ulangi tanya itu
Sejenak saja kau asingkan bisingmu
Singgahlah pada kesunyian terdalam hatimu
Nikmati nada murni yang mengalun
Irama menyanjung Sang Khaliq
Perlahan resapi keheningan beribu makna
Perlahan pula ketenangan itu hadir

Ingatlah Allah, Ingatlah Allah
Jangan kau tanya caranya
Jangan lagi ulangi tanya itu
Lakukan saja

Telinga manapun tak mampu halau risaumu
Tangan manapun tak mampu sembuhkan lukamu
Punggung manapun tak mampu ringankan sedihmu
Jika Sang Khaliq masih belum kau lirik

Tapi cintaNya tak biarkan kau merangkak mengemis
Dia tebar cintaNya, seindah Dia menebar nikmatNya
Sungguh Dia selalu memelukmu bahkan ketika kau lalai
Tapi, khilaf yang menggunung menepikan segala kasihNya

Dia Yang Maha Agung
Masih saja beri kau cinta
Meski terasing
Meski di lupa

Rabbighfirlanaa…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18588/ingatlah-allah-jangan-kau-tanya-caranya/#ixzz1oQbBcyVu

This slideshow requires JavaScript.

Warna-Warni Persahabatan

Warna-Warni Persahabatan
Artikel Lepas
5/3/2012 | 12 Rabbi al-Thanni 1433 H Please wait
Oleh: Sardini Ramadhan
Kirim Print
1
0diggsdigg
email
print

“Seorang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, Siapakah sahabat paling baik bagi kami? Nabi SAW menjawab, “seseorang yang apabila kamu memandangnya, akan teringat kepada Allah SWT, apabila kamu mendengar ucapannya akan bertambah pengetahuanmu tentang Islam dan apabila kamu melihat kelakuannya, kamu teringat kepada hari akhirat”

Ilustrasi (iluvislam)

dakwatuna.com – Pernah mendapatkan teman seperti yang dicirikan Rasulullah di atas?

Pernah mendambakan bertemu dengannya?

Pernah mendambakan jadi orang yang memiliki ciri-ciri tersebut?

Pernah merindukan saat-saat bersamanya menemani suka duka perjalanan hari?

Kapan terakhir kamu bertemu dengannya?

Seberapa penting kehadiran sahabat yang baik dalam kehidupan mu?

Siapapun kita, pasti memiliki sahabat. Karena kita diciptakan memang untuk saling mengenal satu dengan lainnya. Kita tak akan mampu menjalani hari tanpa kehadiran sahabat. Sekali lagi siapapun Anda pasti membutuhkan kehadiran sahabat.

Sahabat yang baik merupakan dambaan setiap orang. Bukan hanya kita hari ini, tapi juga dambaan orang-orang shalih dahulu. Subhanallah, begitu super pentingnya kehadiran teman yang baik dalam kehidupan,sampai-sampai imam Syafi’I berkata,” “Andai bukan karena bangun diwaktu sahur,dan berteman dengan orang-orang baik,niscaya aku tidak mau memilih tinggal di dunia ini?

Apalah arti kehidupan di dunia ini, tanpa kehadiran seorang sahabat yang senantiasa menjadi penyemangat hari-hari. Penghibur duka, penawar kesedihan, obat hati yang sunyi. Sahabat yang ketika melihatnya membuat semangat yang melemah, menguat kembali. Hati yang keras membatu, menjadi selunak spon. Hidup yang hambar menjadi penuh harapan. Inisiatif yang menggulita, menjadi terang bercahaya.

Namun, tak selamanya sahabat kita sesuai harapan. Seperti kehidupan manusia yang selalu diliputi kekurangan dan kelebihan. Begitu pula yang terjadi dalam membangun jalinan persahabatan. Selalu berwarna dan berdinamika. Hari ini berwarna merah, mungkin besok telah berubah menjadi hijau, dan lusanya malah menjadi kuning atau campuran/paduan dari semua warna tersebut.

Hari ini berteman akur, besok malah ngawur ngidul. Hari ini buat kita tersenyum ceria, besok bisa jadi membuat manyun duka.Hari ini pemberi semangat,besok malah bikin masalah semakin berat.Hari ini memberikan manfaat besok malah hadirkan mudharat.Hari ini memberikan taujih besok malah kata-katanya bikin keki.Hari ini buat tertawa,besok malah bikin nestapa.

Itulah warna-warni dalam persahabatan yang buat perjalanannya terasa mengasyikkan, selalu dinanti dan dikenang.

Sebuah kebaikan dalam persahabatan, tidak muncul dengan hanya menunggu dan berharap agar dilakukan oleh pihak lain. Kebaikan akan terwujud dengan sikap saling berupaya melakukan kebaikan itu.

Rasulullah pernah bersabda tentang perumpamaan dua orang saudara seperti dua tangan yang satu sama lain saling menyucikan. Artinya ada timbal balik dalam kesenangan dan kesulitan serta dalam berbagai suasana. Timbal balik itu artinya mengharuskan adanya sikap inisiatif untuk memulai sesuatu yang baik sehingga semakin lama akan terwujud suasana timbal balik itu. Inisiatif memulai sesuatu yang baik bisa dilakukan dari hal yang sederhana seperti saling mengunjungi.

Alkisah, ada seorang lelaki yang pergi cukup jauh. Lelaki itu pergi untuk sebuah tujuan yang sepintas terlihat sederhana. Di tengah jalan malaikat menemuinya, dan bertanya kepadanya tentang mengapa dia melakukan perjalanan yang teramat jauh?

“Aku akan pergi menemui sahabatku di kampung ini,” jawab lelaki itu ketika malaikat bertanya ke mana ia akan pergi?

“Adakah karena engkau berutang budi dengan kebaikannya?”

“Tidak, aku ingin mengunjunginya, sebab aku mencintainya karena Allah semata.”

Malaikat itupun menyampaikan kabar gembira, “Ketahuilah sesungguhnya Allah mencintai engkau sebagaimana engkau mencintai sahabat engkau karena Allah.”

Coba perhatikan cerita di atas. Sepintas terlihat sederhana, bahkan bisa dikatakan sangat sederhana. Begitu kalau kita liat sisi dzahirnya. Tapi tidak dengan kacamata batin kita. Cerita ini mengajarkan nilai keutamaan yang sangat besar. Adakah yang lebih berharga dari mendapatkan cinta Allah? Alangkah indahnya. Adakah yang lebih indah dan terhormat dari mendapatkan kabar cinta Allah yang dikirimkan langsung melalui malaikat?

Subhanallah, tinta emas yang dituliskan oleh generasi terdahulu adalah inspirasi yang juga bisa dilakukan oleh generasi selanjutnya, dan nilai keutamaannya juga berlaku sama. Sungguh sederhana yang dilakukan lelaki dalam cerita di atas, dan kita pun sangat-sangat bisa melakukannya, bahkan dengan cara yang lebih baik.

Bertemanlah dengan sahabat yang baik. Niscaya akan kau temui kedamaian dalam hidupmu. Bertemanlah dengan sahabat yang akan membuatmu semakin semangat beramal, semakin ingat akhirat dan kata-katanya membuatmu senantiasa mendapatkan pencerahan.

Pupuklah selalu benih-benih persahabatan yang telah kau tanam. Sirami dengan air kesucian hatimu.Siangi gulma-gulma yang membuat benih persahabatanmu lambat tumbuh.Nikmati selalu kebersamaan dengannya.Karena tak selamanya dia selalu berada disisimu.

Sebelum dia pergi tanamlah selalu pohon-pohon kebaikan bersamanya dan petiklah buah-buah kemanfaatannya. Sebelum dia kembali ke pemiliknya. Sebelum dia mencukupkan waktunya menemani harimu.

Selamat jalan orang-orang yang telah menanamkan benih-benih persahabatan bersamaku, meskipun tak semuanya bisa kupetik buahnya. Semoga kita kembali bertemu di negeri abadi dengan amal terbaik kita.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19150/warna-warni-persahabatan/#ixzz1oQZQIi8L

“Lessons for Every Sensible Person”

“Lessons for Every Sensible Person”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)

Translated by Ir. H. Ismail Umar and Hj. Titie Wibipriatno

NABI DAUD (PROPHET DAWUD) AS

Nabi Daud AS adalah keturunan dari Nabi Ibrahim AS. Allah SWT menurunkan Zabur padanya untuk membimbing orang Israil. Zabur berisi petunjuk-petunjuk dasar yang sama dengan yang terdapat dalam Taurat.

Oleh karena itu kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud AS merupakan penyempurnakan petunjuk Allah SWT yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Zabur berbentuk lagu-lagu. Allah SWT tidak hanya menganugerahkan keNabian kepada Daud AS, tetapi juga dinasti yang teramat besar yang tersebar di Syria, Irak, Palestina, Jordan Timur dan sekitarnya. Ia adalah seorang pembicara yang fasih dan pidatonya sangat menarik, efektif, dan mudah dimengerti. Ia selalu memimpin untuk mengambil keputusan yang tepat bahkan pada urusan-urusan yang rumit. Allah SWT berfirman dalam Shad 20

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.

Allah SWT menganugerahkan banyak mukjijat kepada Nabi Daud AS. Ia selalu membiasakan dirinya dalam banyak berzikir dan memuji Allah SWT. Ia memiliki suara yang begitu berirama sehingga orang-orang, burung-burung, binatang lainnya, jin-jin, dan bahkan gunung-gunungpun turut bergoyang dan menyanyi bersamanya. Ini disebutkan di dalam tiga ayat yang berbeda dalam Al Qur’an. Shad 18, 19

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi, dan burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat ta’at kepada Allah.

Dan dalam Saba 10

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami.: “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya,

Juga dalam Al Anbiya 79

maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum; dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.

Mungkin anda tercengang membaca bahwa gunung-gunung bernyanyi bersama Nabi Daud AS. Jangan lupa bahwa Allah SWT telah mencipta alam semesta, dan kepadaNyalah semua unsur-unsur alam semesta ini patuh dan memuji kepada Allah SWT serta membesarkan nama Penciptanya, di dalam bahasa yang kita tidak sanggup mengetahuinya. Allah SWT berfirman di dalam Al Isra 44

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Adalah mukjizat Nabi Daud AS sehingga binatang-binatang, burung-burung, jin-jin dan bahkan gunung-gunung mengikutinya dalam bertasbih kepada Allah SWT. Juga telah diketahui umum bahwa batu-batu kecil biasanya bersyahadat bila ada Nabi Muhammad SAW, dan batu-batu kecil ini semua bertasbih kepada Allah SWT. Binatang-binatang juga biasa berbicara dengan Nabi Muhammad SAW. Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga biasa bersandar di batang pohon tua bila sedang berdakwah kepada para Sahabatnya. Kemudian sebuah podium dibuat untuk Nabi Muhammad SAW untuk digunakan ketika beliau berdakwah. Sahabat-Sahabat Nabi Muhammad SAW mendengar suara tangisan dari pohon tua yang ditinggalkan oleh Nabi yang mulia. Nabi Muhammad SAW menyentuh pohon itu dengan tangannya untuk menghibur. Kemudian pohon itu berhenti menangis. Sebuah pilar didirikan di tempat pohon ini di dalam Masjid Nabi Muhammad SAW di Madinah Munawarah. Pilar itu disebut Ustan Hannan.

Sheikh Jalalud Din Sayuti mengatakan di dalam Khasaes Al Kubra bahwa walaupun batu-batu kecil bertasbih kepada Allah SWT sepanjang waktu, tetapi kejadian ketika para Sahabat Rasul bisa turut mendengar puji-pujian ini sewaktu batu-batu ini berada di dalam genggaman Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat baginya semata.
Abdullah bin Masoud RA meriwayatkan bahwa, “Kami biasa makan bersama Nabi Muhammad SAW, dan kami biasa mendengar dengan telinga kami puji-pujian kepada Allah SWT dari makanan yang dihidangkan itu.” (Bukhari)
Jabar bin Samra RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku bisa mengenal batu-batu yang biasa mengucapkan salam kepadaku, bahkan ketika aku belum menjadi Rasul. Bahkan sekarangpun aku bisa mengenalinya.” (Muslim)

Abu Saeed Khudhri RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Manusia, jin, pohon-pohon, dan batu-batuan semua mendengar suara Azan dan mereka akan menjadi saksi bagi para Muazin ini pada hari Pembalasan nanti.” (Ibn Majah).

Oleh karena itu semua mahluk termasuk gunung-gunung selalu bertasbih kepada Allah SWT. Mukjizat sebetulnya bagi Nabi Daud AS adalah bahwa puji-pujian kepada Allah SWT yang dilakukan oleh gunung-gunung itu bisa didengar oleh telinga-telinga manusia.

Walaupun Nabi Daud AS adalah seorang kaisar yang besar, tetapi dia tidak ingin menggunakan satu senpun dari uang negara untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan dirinya. Dia biasa melakukan bermacam-macam pekerjaan dengan tangannya untuk mencari nafkah seperti orang awam lainnya. Ia biasa berdoa kepada Allah SWT agar meringankan pekerjaannya supaya selama hidupnya tidak pernah ia harus tergantung pada uang negara.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berapapun besar penghasilan seseorang bila didapatkan dengan tangannya sendiri, adalah penghasilan yang terbaik. Sesungguhnya, Nabi Daud AS biasa mencari nafkah dengan tangannya sendiri.” (Bukhari)

Hafiz Ibnu Hajr berkata, “Walaupun Kalifah Islam diijinkan untuk mengambil jumlah yang pantas dari uang negara untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, tetapi lebih baik bila ia mencari alternatif lain, yaitu hidup dari penghasilannya sendiri”. Sebagai contoh Kalifah Abu Bakar RA sebelum meninggal telah mengembalikan ke kas negara seluruh dana yang dipinjamnya dalam bentuk gaji selama kekhalifahannya.
Allah SWT mengabulkan doa Nabi Daud AS untuk memudahkan kehidupan sehari-harinya karena ia juga telah memenuhi kewajiban untuk mengatur kekaisaran yang teramat luas. Allah SWT telah membuat besi menjadi lunak di tangannya. Saba 10

dan Kami telah melunakkan besi untuknya,

Juga di dalam Al Anbiya 80

Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur.

Ini adalah mukjizat lainnya dari Nabi Daud AS.

Syed Mahmood Alose meriwayatkan dari Qurtabi dalam Ruhul Maani bahwa Allah SWT mengajarkan Nabi Daud AS untuk membuat pakaian besi untuk perang yang tidak terasa berat bagi para prajurit itu. Sehingga gerakan prajurit-prajurit di medan perang tidak terganggu dengan menggunakan pakian besi yang ringan ini. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang mampu membuat pakaian perang yang seringan itu.

Penting diperhatikan bahwa kita tidak boleh memandang rendah orang-orang yang bekerja dengan tangannya sendiri di pabrik-pabrik. Orang-orang yang tidak mengerti sering mengejek para ahli besi dan tukang/pengrajin lainnya. Kita seyogyanya menghormati orang-orang ini karena mereka mengikuti jejak dari Nabi Daud AS.
Allah SWT mengkaruniakan banyak kebaikan yang unik kepada Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS. Dengan segala karunia dari Allah SWT ini, menjadi bertambah besarlah rasa syukur mereka kepadaNya. Allah SWT mengingatkan mereka tentang kewajiban untuk bersyukur ini di dalam Saba 13

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap . Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur . Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa di dalam rumah Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS, seluruh anggota keluarga setuju bahwa paling kurang salah seorang dari keluarga selalu membiasakan diri untuk banyak-banyak berzikir kepada Allah SWT sepanjang malam dan siang hari.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Allah SWT sangat menyukai shalat Nabi Daud AS. Nabi Daud AS biasa tidur pada pertengahan pertama dari malam, kemudian ia shalat sepertiga malam, dan tidur lagi pada seperenam malam sisanya. Allah SWT juga paling menyukai puasa Nabi Daud AS. Nabi Daud AS biasa berpuasa setiap dua hari sekali, puasa yang paling berat. (Bukhari dan Muslim)

Tirmidzi dan Imam Abu Bakar Jassas meriwayatkan dari Atta-bin-Yasar, bahwa ketika ayat 13 dari surat Saba diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ia naik ke mimbar dan setelah membacakan ayat ini bersabda, “Bila seseorang melakukan tiga perkara, pahalanya akan sama dengan Nabi Daud AS”. Para Sahabat bertanya, “Perkara apakah itu?” Nabi Muhammad menjawab, “Berlaku adil dalam kemarahan atau ketenangan; mengambil jalan tengah baik dimasa sulit maupun sejahtera, dan bertakwa kepada Allah SWT baik terang-terangan maupun diam-diam”. (Qurtabi, Ahkam-Ul-Qur’an)

Ketika bertambah banyak pemberian Allah SWT dikaruniakan kepada Nabi Daud AS, Allah SWT mengingatkan keluarga Nabi untuk membiasakan diri banyak-banyak mengucapkan syukur kepada Allah SWT.

Diriwayatkan oleh Fadheel RA bahwa ketika peringatan untuk bersyukur ini diturunkan kepada Nabi Daud AS, dia menjawab, “Ya Allah, bagaimana aku bisa memenuhi perintahMu ini karena mengucapkan syukur itu sendiri adalah satu karuniaMu yang patut disyukuri sendiri. Allah SWT berfirman, “Hai Daud, sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu dengan sepenuhnya karena sekarang kamu sudah mengetahui dan menyadari keterbatasanmu.”

Semoga Allah SWT memberi kita ke-tawadhu-an Nabi Daud AS ini. Amin.

Taken from : http://www.imtiazahmad.com/reminders/in_nabi_daud_as.htm