Penuntut Ilmu Dan Shalat Malam

Wahai saudariku para penuntut ilmu, jika kita memikirkan keadaan para ulama generasi awal, niscaya kita akan merasa takjub dan tercengang saat membaca kisah tentang ibadah mereka dan penjagaan mereka terhadap amalan sunnah serta betapa hebatnya mereka dalam melaksanakan kewajiban. Di antara mereka ada yang mendirikan sholat di awal malam, ada yang di akhir malam, ada yang di pertengahan malam, dan ada pula yang mendirikan di ujung-ujungnya (awal malam dan akhir malam). Masing-masing sesuai dengan kadar kesungguhan dan kemampuannya.

Sikap tamak terhadap hal ini –setelah pertolongan Allah- menjadi motivasi bagi mereka untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, menekuni ketaatan serta menjadi sebab tambahan keberkahan waktu-waktu mereka. Cuplikan peristiwa berikut, menggambarkan bagaimana kegigihan mereka,

Bisyr bercerita, ‘… Hafsh bin Ghiyats berprofesi sebagai seorang qodhi tanpa bermusyawarah kepada Abu Yusuf (murid Abu Hanifah). Hal ini merupakan hal yang berat bagi Abu Yusuf. Maka Abu Yusuf pun berkata kepadaku dan kepada Hasan Al-Lu’lu’i, ”Periksa keputusan Hafsh.” Maka kamipun mengeceknya. Tatkala Abu Yusuf menelaah keputusan Hafsh, dia pun berkata,”Keputusannya sama dengan pendapat Ibnu Abi Laila”, kemudian dia berkata,”Telusurilah perjanjian dan catatan-catatannya.” Ketika Abu Yusuf menyimak keputusan tersebut, dia berkata,”Hafsh dan orang yang semisal dengannya perhatian dengan sholat malam.”’ (Siyar A’lamun Nubala’ 313/6).

Wahai saudariku, ketahuilah -semoga Allah menjagamu- sesungguhnya seorang penuntut ilmu itu senantiasa berbeda dengan yang lain karena anugerah dari Allah Ta’ala dan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu wajiblah baginya untuk bersungguh-sungguh dalam menjaga kemuliaan yang berkah ini. Dan hendaklah dia bersungguh-sungguh sesuai dengan kemampuannya dalam bersegera mengerjakan kebaikan dari berbagai pintunya. Dan berikutnya hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam meninggalkan hal-hal yang menurunkan muru’ah (harga diri) , terlebih lagi hal-hal yang munkar.

Sudah seharusnya seorang penuntut ilmu itu berbeda dengan yang lain dalam hal akhlaq, kelebihan dalam beribadah, baiknya perilaku dan semangat dengan berbagai macam ibadah. Semua itu dia lakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah Ta’ala, kemudian ditujukan untuk menzakati ilmu dan agama yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Sehingga diapun bisa menjadi teladan bagi orang yang melihatnya, mendengar dakwahnya, serta orang-orang yang duduk bersamanya.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sepatutnya seorang penghafal Al-Qur’an itu dikenal dengan sholatnya di waktu malam ketika banyak manusia yang terlelap tidur, dengan puasanya di siang hari ketika banyak manusia yang berbuka, dengan sikap wara’nya ketika banyak manusia yang mencampuradukkan antara yang halal dengan yang haram, dengan ketawadhu’annya ketika banyak manusia yang menyombongkan diri, dengan kesedihannya karena takut kepada Allah ketika banyak manusia yang gembira kelewat batas, dengan seringnya dia menangis karena takut kepada dosa ketika banyak manusia yang tertawa meskipun berbuat dosa, dan iapun dikenal dengan diamnya ketika banyak manusia yang asyik bicara.”

Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu itu mampu menjadi contoh saat bepergian maupun saat di dalam rumah, menjadi teladan saat beribadah, dan dalam berbagai macam urusannya.

Selanjutnya, akan kami sampaikan kepada kalian, wahai para penuntut ilmu, beberapa kelebihan dari sholat malam. Semoga menjadi faktor pendorong bagiku dan bagimu, sehingga kitapun menjadi orang yang rajin untuk mengerjakannya.

Keutamaan sholat malam

Begitu banyak riwayat dalam hadits yang menjelaskan tentang keutamaan mengerjakan sholat malam. Akan tetapi dalam pembahasan ini kami hanya bisa menyebutkan sebagian keutamaannya, yaitu sebagai berikut:

  • Sholat malam merupakan sholat yang paling utama setelah sholat fardlu. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,أفضل الصلاة، بعد الصلاة المكتوبة، الصلاة في جوف الليل

    Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat di tengah malam.”’(HR. Muslim).

  • Mengerjakan sholat malam merupakan sebab kemuliaan seorang mukmin. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebab mulianya seorang mukmin adalah dengan sholat malam…” (Diriwayatkan oleh Khutaib dalam Shahihul Jami’).
  • Sholat malam adalah kebiasaan orang-orang salih.
  • Mengerjakan sholat malam akan semakin mendekatkan diri kepada Allah.
  • Sholat malam mencegah dari perbuatan dosa.
  • Sholat malam adalah penghapus keburukan.
  • Sholat malam mampu mengusir penyakit dari badan.
    Keutamaan ini dikumpulkan dari hadits riwayat Bilal radhiyallahu ‘anhu, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

    Hendaklah kalian mengerjakan sholat malam, karena itu merupakan kebiasaan orang sholeh sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menghapus keburukan, dan mencegah penyakit dari badan.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Hakim dalam Shahihul Jami’).

  • Sholat malam adalah wasiat paling pertama yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada penduduk Madinah saat beliau tiba di sana untuk yang pertama kali.
    Dari ‘Abdillah bin Salam radhiyallahu ‘anhu, ‘Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baru tida di kota Madinah, manusia pergi dengan cepat kepada beliau, dan dikatakan kepada mereka, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah tiba 3x!”, Akupun pergi bersama mereka untuk melihat wajah Nabi. Tatkala aku mendapati wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akupun mengetahui bahwa wajah beliau bukan wajah pendusta. Dan sesuatu yang pertama kali beliau sampaikan adalah,يا أيها الناس أفشوا السلام، وأطعموا الطعام وصلوا بالليل والناس نيام، تدخلوا الجنة بسلام

    Wahai manusia, sebarkanlah salam, sukalah kalian memberi makan, dan sholatlah ketika manusia tertidur, nisacaya kalian akan masuk surga dengan penuh keselamatan.”

    Abu ‘Ais berkata,”Ini adalah hadits shahih” (Sunan At-Tirmidzi, jilid 4 hal 652, hadits no. 2490).

  • Sholat malam yang dikerjakan tanpa diketahui manusia, maka hal ini merupakan faktor bertambahnya pahala. Dari Shuhaib radhiyallahu ‘anhu, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sholat sunnah seseorang di suatu tempat yang tidak terlihat dibandingkan dengan sholatnya yang dilihat banyak orang pahalanya 25 kali lipat.”’(Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Shahihul Jami’).
  • Sholat malam biasanya dilakukan saat Allah Ta’ala turun ke langit dunia. Waktu itu adalah waktu yang sangat mulia. Allah Ta’alaberfirman,مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَه

    Barangsiapa yang berdoa, maka aku kabulkan, barangsiapa yang meminta maka akan Aku beri, dan barangsiapa yang meminta ampun, maka aku ampuni.”

  • Sholat malam merupakan sebab diangkatnya derajat, berdasarkan hadits dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ditanyakan tentang, “apa itu derajat?”, maka Nabi pun menjawab,طَيِّبُ الْكَلَامِ، وَبَذْلُ السَّلَامِ، وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

    Perkataan yang lembut, Gemar memberi makan, sholat di waktu malam ketika manusia tidur … “ (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi dan selainnya).

  • Sholat malam adalah salah satu pintu kebaikan. Berdasarkan dalil bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketahuilah, akan aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan. Puasa adalah tameng, sedekah akan menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan sholat seseorang di waktu malam …” (HR. Tirmidzi dan selainnya).

Serta dalil-dalil lain yang menunjukkan martabat dan keutamaan sholat malam.

Adapun manfaat yang akan diperoleh oleh seseorang yang gemar melakukan sholat malam sangatlah banyak. Berdasarkan penjelasan tentang keutamaan-keutamaan tadi, di antara buah dari mengerjakan sholat malam yaitu:

  • Terjaganya hafalan dan kelancaran dalam membaca Al-Qur’an saat sholat malam. Bacaan saat sholat malam menyebabkan lengketnya hafalan di benak orang yang mengerjakannya. Terlebih lagi jika dia telah menghafal satu ayat kemudian dia baca saat sholat malam.
  • Membantu bangun untuk mengerjakan sholat shubuh.
  • Mengikuti kebiasaan generasi awal umat ini.

Dan berbagai manfaat lainnya.

Setelah menyebutkan berbagai macam keutamaan dan manfaat yang akan dapatkan oleh orang yang melakukan sholat malam, akan kami sebutkan wahai saudariku penuntut ilmu, beberapa kiat yang bisa membantu untuk mengerjakan sholat malam di antaranya:

  • Berdoa. Ketika seorang hamba berdoa kepada Tuhannya, diapun mengikhlaskan diri dan bersungguh-sungguh dengan apa yang dia minta, maka ini adalah faktor yang menjadikan dikabulkannya doa.
  • Mengerjakan amalan wajib secara rutin, sehingga seorang hamba bersungguh-sungguh untuk menunaikan sesuatu yang tidak membebaskannya dari hutang/ tanggungan kecuali dengannya.
  • Menghindari begadang malam, kecuali jika dia memiliki kebutuhan untuk itu. Karena jika seseorang itu begadang hingga larut malam, biasanya akan membuat dia berat untuk mengerjakan sholat malam, bahkan menyebabkan dia merasa berat untuk mengerjakan sholat subuh.
  • Bersemangat melakukan qailulah (istirahat siang) di pertengahan siang atau setelahnya. Dengan begitu maka badan akan beristirahat dan mengumpulkan kekuatan sehingga diapun akan bersemangat di tengah-tengah mengerjakan sholat malam. (Ibnul Atsir mengatakan bahwa qailulah adalah istirahat di pertengahan siang meskipun tidak tidur).
  • Meninggalkan maksiat dan membentengi diri darinya. Maksiat adalah jerat-jerat setan. Setan memasang jerat tersebut agar seorang hamba terjatuh ke dalamnya sehingga mencegahnya untuk melakukan kebaikan. Seseorang berkata kepada Hasan rahimahullah, “Kami merasa lemah untuk mengerjakan sholat malam.”, maka Hasan pun berkata,”Kesalahanmu telah mengendalikanmu.”
    Bahkan jika seorang hamba merasa nikmat untuk mengerjakan keburukan, maka keburukan tersebut menjadi tabiat baginya. Adapun jika seorang hamba bersemangat dengan dirinya, waspada dari perangkap setan dan ketergelincirannya, dan Allah pun mengetahui hal tersebut, maka dia akan melihat tanda-tanda taufik dan kebenaran yang memudahkannya dan melapangkan dadanya, dengan seizin Allah Ta’ala.
  • Memaksa diri untuk sholat dan menepis rasa berat dan sikap menunda-nunda.
    Karena sesungguhnya jiwa yang ditekan dan dibiasakan oleh pemiliknya untuk melakukan sesuatu, maka dia pun akan terbiasa dan mudah untuk mengerjakannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya ilmu itu dengan belajar, dan sikap bisa mengendalikan emosi dengan melatih diri untuk mengendalikannya, maka barangsiapa yang membiasakan dengan kebaikan, maka jiwanya pun akan menaatinya. Dan barangsiapa yang menjaga diri dari kejelekan maka dia akan terjaga dari kejelekan.” (Diriwayatkan Ad-Daruquthni dan Khutaib dala Shahihul Jami’).Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang melatih diri untuk menjaga kehormatan, maka Allah akan menjaga kehormatannya. Barangsiapa melatih diri untuk sabar, maka Allah akan membuatnya sabar. Dan barangsiapa yang merasa cukup dengan apa yang diberi, maka Allah akan jadikan dia merasa cukup.” (HR. Bukhari 309/ 11, al-Fath).Hadits-hadits dan selainnya yang telah disebutkan menjelaskan bahwa barangsiapa yang bersungguh-sungguh dengan jiwanya dan membiasakannya untuk melakukan sesuatu, dan ia pun bersabar dan tetap mengerjakannya, maka dia pun akan merasa mudah untuk melakukannya hingga sesuatu itu menjadi tabiat yang menyertainya.

    Betapa indah perkataan Sulaiman At-Taimi mengenai hal ini:

    “Sesungguhnya jika mata terbiasa dengan banyak tidur, niscaya akan terbiasa untuk tidur. Dan jika mata dibiasakan terjaga untuk membaca, niscaya akan terbiasa untuk membaca.” (Mukhatshor Qiyamul Lail Lilmarwazi hal 55).

    Sebagaimana perkataan seorang penyair:

    Jiwa itu seperti bayi, jika ia terbiasa menetek, ketika sudah besar maka dia pun akan menetek

    Namun jika dia disapih, diapun akan tersapih.

    Yang lebih menakjubkan lagi adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-A’masy rahimahullahu ta’ala tentang hal ini –yang menunjukkan sikap wara’nya- sebagaimana yang disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamun Nubala’, Dia mengatakan, (Al-A’masy berkata, “Telah sampai kepadaku bahwasannya jika seseorang tidur hingga Subuh (yaitu: tidak sholat ), maka setan telah jongkok di kepalanya dan kencing di telinganya. Dan aku berpandangan bahwasannya setan telah berak di tenggorokanku semalam!” Hal demikian karena beliau (Al-A’masy) batuk-batuk.

    Abu Kholid berkata: al-A’masy menyebutkan hadits, “Itulah seseorang yang telinganya dikencingi setan.” Al-A’masy berkata, “Aku berpandangan bahwa mataku sakit seperti ini (mata beliau senantiasa basah seperti orang belekan) melainkan karena banyaknya air kencing setan di telingku.” Namun aku (Abu Kholid) berpandangan bahwa Al-A’masy tidaklah melakukan hal itu.’ Aku (Adz-Dzahabi) berkata, “Al-A’masy adalah orang yang senantiasa bangun malam dan beribadah”. (Siyar A’lamun Nubala’ 231-232/ 6).

  • Dan di antara hal-hal yang bisa membantu untuk bangun malam adalah melakukan sebab-sebab yang memungkinkan bagi seorang penuntut ilmu dan yang lainnya untuk bisa bangun mengerjakan sholat malam, di antaranya:
    • Memasang jam beker sesuai dengan waktu yang dia inginkan untuk bangun.
    • Ditelpon dengan telpon yang sudah terprogram untuk membangunkan sholat malam.
    • Berpesan kepada salah seorang kenalan untuk menelepon, terkhusus lagi mereka yang biasa mengumandangkan adzan yang pertama.

Dan masih banyak kiat-kiat lain yang bisa diupayakan untuk bisa membantu bangun sholat malam.

Selanjutnya kami tutup pembicaraan tentang hal ini dengan apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Muflih, yang menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullahu ‘alaihuma-:

“Ada seorang tamu yang menginap di rumah Imam Ahmad, dan beliaupun menyediakan air untuknya. Tamu itupun berkata, “Aku tidak mengerjakan sholat malam, sehingga aku tidak menggunakan air tersebut.”, Ketika pagi tiba, Imam ahmad bertanya kepadaku, “Kenapa engkau tidak menggunakan airnya?”, Maka akupun merasa malu untuk menjawab sehingga aku terdiam. Imam Ahmad berkata, “ Subhanallah! Subhanallah! Belum pernah aku ketahui seorang pencari hadits yang tidak bangun untuk sholat malam.”

Kisah ini juga terjadi pada seorang tamu yang lain. Maka tamu itupun mengatakan, “Saya ini musafir.” Imam Ahmad menukas, “Meskipun engkau seorang musafir, Masyruq pernah berhaji dan tidaklah dia tidur kecuali dalam keadaan bersujud (karena kelelahan saat sholat malam).” Syaikh Taqiyyudin berkata,”Hal ini menunjukkan bahwa merupakan perkara yang dibenci apabila seorang penuntut ilmu meninggalkan sholat malam meskipun dia sedang bersafar.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah Ibnu Muflih 169/2).

Oleh karena itu, bersemangatlah wahai para penuntut ilmu -yang semoga Allah menjagamu- untuk menghidupkan keutamaan yang agung lagi berpahala ini. Dan jadikanlah semangatmu senantiasa tinggi dalam mengerjakan berbagai macam kebaikan selama engkau mampu untuk melakukannya.

***
artikel muslimah.or.id

  • Diterjemahkan dari kitab Ma’alim fit Thariq Thalabil ‘Ilmi Bab Thalibul ‘Ilmi wa Qiyamul Laili (hal 221-228), Karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Muhammad bin ‘Abdillah As-Sadhan, Penerbit Darul ‘Ashimah.
  • Dibahas dalam kajian bersama Ustadz Aris Munandar saat membahas kitab ini.

Yogyakarta, 07.06.2012
Nunung Wulandari

 

Advertisements

Ampuni Aku Ya Allah

27/6/2012 | 07 Shaban 1433 H | Hits: 553

Oleh: Meigita Nur Sukma


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Di sepertiga malam ku terbangun
Sunyi sepi dan dinginnya udara malam
Tak membuatku enggan dan takut
Untuk melangkahkan kakiku mengambil wudhu

Di saat kubasuh wajahku
Hembusan angin menembus pori-pori kulitku
Semakin terasa dingin setelah ku usaikan wudhu ini
Tapi tak akan membuat keinginanku menciut

Ku hamparkan sajadah dan ku kenakan mukenaku
Meski nafsuku meronta-ronta memintaku ‘tuk terlelap kembali
Namun tak ku hiraukan semua itu
Ku hanya ingin bersimpuh kehadirat Illahi Rabbi

Dalam sujudku menangis
Menyesali setiap dosa-dosaku
Menyesali kekhilafan dan kealfaanku
Yang tak bisa ku hingga dan ku hitung

Dalam doa ku memohon dan meminta
Ya Allah Robb semesta alam ampunilah dosa-dosaku
Aku yang sering lalai kepada Mu Ya Allah
Yang sering tak bersyukur dengan segala nikmat yang telah Engkau beri padaku

Ampuni aku Ya Allah karena hanya Engkaulah Yang Maha Pengampun
Ampuni aku yang lemah ini Ya Allah yang tiada berdaya selain karena Kuasa Mu
Ku bersimpuh kepada Mu Ya Allah karena ku mengharapkan ampunan Mu Ya Allah

Senyum Tulus

27/6/2012 | 07 Shaban 1433 H | Hits: 358

Oleh: Eha


Kirim Print

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ada sebuah amalan yang kecil dan sangat mudah untuk dilakukan oleh semua orang. Amalan atau perbuatan ini dapat membuat kita bahagia, atau juga saat kita merasa bahagia maka kita melakukan amalan ini. Orang-orang atau saudara-saudara kita yang melihat kita sedang melakukan amalan ini juga akan merasakan kebahagiaan di hatinya.  Apakah amalan itu? Yak… jawabannya adalah senyum. Akan tetapi senyum yang bagaimana yang bisa seperti itu? Karena senyum ada bermacam-macam. Ingin tahu jawabannya, sok… atuhAnda musti baca tulisan ini sampai selesai.

Rasulullah SAW bersabda,

“Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah.”(H.R. Tirmidzi)

Setiap senyum kejujuran yang Anda berikan kepada saudara Anda dengan penuh keikhlasan akan berbalas seperti pahala sedekah. Sehingga seseorang yang tetap memelihara senyumnya tentu akan mendapatkan kebaikan yang banyak.

Jika kita berbicara matematis. Eits jangan pusing dulu, santai aja lagi. Coba kita bayangkan bahwa banyaknya kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang senantiasa memelihara senyum adalah sebanyak orang-orang yang ia temui dengan senyum setiap hari sepanjang hidupnya. Jadi kebaikan yang didapat bisa kita rumuskan dengan menghitung jumlah rata-rata orang yang kita temui dalam sehari dengan senyum dikalikan dengan hari seumur hidup. Maka sebanyak itulah kebaikan yang akan kita dapatkan.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah kalian meremehkan suatu perbuatan yang kecil meskipun hanya sekadar bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.”(HR. Muslim)

Tentu wajah yang dihiasi senyuman tampak lebih indah dibandingkan dengan wajah yang cemberut. Seseorang dengan senyumnya yang tulus akan terlihat lebih tampan bagi laki-laki dan akan tampak lebih cantik bagi yang perempuan.

Para orang pintar/ilmuwan mengatakan saat manusia tersenyum, hanya dibutuhkan 13 urat syaraf yang bergerak. Akan tetapi saat seseorang muram, diperlukan sekitar 47 urat syaraf yang bergerak. Tentunya berwajah muram lebih melelahkan dibandingkan dengan kita tersenyum. Jadi, masih lebih memilih bermuka muram yang lebih melelahkan atau tersenyum yang juga akan membuat wajah kita terlihat lebih tampan bagi yang pria dan cantik bagi yang perempuan? Penulis menyarankan agar para pembaca yang cantik dan ganteng (karena semua yang diciptakan Allah itu indah), akan tetapi ada yang lebih ganteng dan cantik lagi para pembaca sekalian.

Seperti yang sudah dituliskan di awal tadi. Maka penulis akan memberikan penjelasan mengenai berbagai macam senyuman. Berdasarkan buku “Lughatul Jasad” karya Athif Abdul Id yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhyiddin Mas Rida, Lc, ada berbagai macam senyuman yaitu sebagai berikut:

  1. Senyuman yang tulus
  2. Senyuman palsu
  3. Senyum yang hampa memicu kesedihan
  4.  Senyuman takjub
  5. Senyuman lembut dan hangat
  6. Senyuman optimis dan menggembirakan
  7. Senyuman munafik

Dan senyum-senyum lainnya yang untuk lebih jelasnya bisa langsung baca bukunya cari di toko buku terdekat, jangan di toko bangunan OK. Dari semua senyum yang disebutkan di atas, hanya satu saja yang penuh dengan kehangatan, yaitu senyuman yang tulus. Senyuman yang tulus dapat memberikan pengaruh positif kepada orang lain.

Karena itulah saudaraku, usahakanlah agar kita bisa selalu tersenyum dengan tulus/ikhlas. Karena kebaikan yang akan kita dapatkan tidaklah sedikit melainkan banyak sekali. Marilah kita hiasi wajah kita yang indah rupawan yang diberikan Allah ini dengan senyum dan usahakan untuk tidak menghiasi wajah kita dengan wajah yang muram.

Belajar dengan Hati, Ketika Hati Selalu Galau

26/6/2012 | 06 Shaban 1433 H | Hits: 1.068

Oleh: Hanami Kireina


Kirim Print

Ilustrasi. (hedisasrawan.blogspot.com)

dakwatuna.com – Sepotong hati memang acap kali terbolak-balikan, seperti me-ji-ku-hi-bi-ni-u dalam pancaran pelangi. Susah, senang, bahagia, sedih, kasih, sayang, cemburu, cinta dan yang saat ini populer adalah GALAU.

Galau, sebuah kata sifat yang banyak menghiasi tampilan status jejaring sosial, desiran kata, dan tentunya sering menyelimuti atmosfir suasana hati seseorang. Bukan hanya dirasakan oleh para ABG saja, orang yang sudah lanjut pun ikut merasakannya. Rasanya asam, kecut manis pahit berbaur jadi satu.

Galau, sebuah suasana hati yang meresahkan, membuat sang hati tak tenang dan tak jarang sangat berpengaruh pada perilaku seseorang. Yang biasa riang jadi garang, yang biasanya semangat jadi terasa penat, yang biasanya aktif jadi pasif, yang biasanya suka jadi duka, yang biasanya gembira jadi bencana, yang biasanya syukur jadi kufur, yang biasanya cinta jadi menderita…
Ah… galau. Ada apa denganmu? Saat ku butuhkan bara api semangat, malah kau padamkan dengan mengajak hatiku pada suasanamu… Bilakah kau tahu, seandainya aku tanpa dirimu…

Bagaimanapun, seorang manusia dewasa. Manusia yang semakin spesifik akan setiap permohonan dalam untaian doanya, bukan hanya memandang hanya apa yang diinginkan hatinya, kadang juga berfikir apakah itu semua pantas untuk ia sandang, apakah pantas untuk ia dapatkan, dan apakah benar – benar sejatinya pantas untuk dirinya. Manusia dewasa yang telah diberikan kemampuan untuk mengelola suasana hatinya, mengendalikan sebuah warna yang akan menyinari warna hatinya. Apakah hanya akan berlama – lama untuk mempertahankan warna hijau? Mempercepat datangnya warna merah? Menghilangkan warna kuning? Atau konsisten untuk seberkas warna merah jambu? Ataukah putih? Ya, seseorang yang dewasa dialah sang ahli dalam memanage hati. Menjadikan proporsinya pas untuk dikonsumsi oleh suasana ruhiyahnya, bahkan untuk kondisi fisiknya.

Ketika problematika datang bertubi – tubi, kesedihan menghampiri, gelisah yang menggelayuti, iri melihat sana – sini.  Bilakah galau melanda, menyusup perlahan ataupun dengan cepatnya membalikkan hati yang tenang, menjadikannya resah gelisah dan tak tahu harus bagaimana lagi. Terdapatlah 8 penawar yang insya Allah akan membalikkan hati kita menjadi hati yang bersuasana ideal, tenteram dan nyaman

1. Dzikrullah (mengingat kepada Allah)

“(Yaitu) orang – orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

2. Membaca Al-Qur’an

Sebuah kapal selam akan tetap bertahan di dalam air dengan tanpa masalah sedikit pun, walau di permukaan bumi terjadi berbagai guncangan keadaan dia tetap bertahan, berjalan dengan pasti tak ada pengaruh bisikan sana – sini, yang ada dia hanya bersikukuh untuk meneruskan perjalanannya sembari menikmati indahnya aneka makhluk di dasar laut.

Rasakanlah tenteramnya saat membaca ayat suci yang memang original buatan Yang Maha Pemilik Hati, sekalipun kita tak mengerti terjemahan dalam bahasa Indonesianya, tapi adalah perasaan yang berbeda dibandingkan dengan membaca buku – buku biasa, terlebih jika kita telah mengetahui arti dari ayat – ayat yang telah kita baca, subhanallah. Ya, karena Al – Qur’an memang istimewa.

3. Menjauhi maksiat

Bagaimana caranya hati kita menjadi tenteram, sementara hati kecil kita terus menolak akan kebenaran palsu (maksiat) yang kita lakukan? Segera tinggalkan, seburuk – buruknya hati pasti akan merasa tak nyaman jika kita melakukan kesalahan. Karena, sejatinya fitrah hati adalah suci. Dan ini tentang bagaimana orang yang diamanahi hati untuk tetap menjaga kesuciannya. Apakah akan tetap terjaga dalam kesuciannya, ataukah merelakannya untuk ditutupi oleh kebenaran palsu dan keindahan yang semu.

4. Menjauhi ketergantungan pada makhluk

Apa yang membuatmu ragu untuk melakukannya dengan tegaknya pijakanmu sendiri? Kita sama, kita bisa. Coba dulu deh & rasakan sensasinya. Optimis.

5. Perbanyak ibadah

Sibukkan diri dengan ibadah, karena segala sesuatu yang kita lakukan, memang surga adalah obsesinya. Bagaimana caranya untuk meraih surga?

6. Yakin dengan pertolongan Allah.

Bukankah Allah itu dekat? Allah akan sesuai prasangka hambaNya.

7. Memperhatikan bukti kekuasaan Allah

Lihat sekeliling kita, betapa mentari dengan cerahnya menyambut kita, betapa malam yang selalu setia menina bobo kan kita dalam ketenangannya. Lihatlah betapa ilmu terbentang luas, dan apakan sedikit pun telah kita genggam dengan penguasaan? Rasakan setiap apa kita hirup, sebuah proses yang terus berulang tanpa ada keluh kesah karena segalanya telah berjalan pada koridor kebenaran yang tepat

8. Bersyukur

Dan Allah akan memberi balasan dan menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Qur’an: Surat Ali Imran: 144.

Coba membiasakan diri mencatat, setiap hari, semua hal baik yang terjadi pada kita hari itu. (Keep a gratitude journal). Sudahkah kita mensyukuri apa yang kita dapatkan? Apa yang kita rasakan? Apa yang kita peroleh? Sudahkah?

Wallahua’lam…

Oleh – oleh dari kajian sore KMFM UGM @MMU.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21304/belajar-dengan-hati-ketika-hati-selalu-galau/#ixzz1z4iG9trp

Kajiannya ustadzah Siti Fathiyah Khotib waktu di lodan 2 pekan lalu

Kajiannya ustadzah Siti Fathiyah Khotib waktu di lodan 2 pekan lalu, bahas bahaya qu’ud, ingat point 8 sms yg beliau terima dr ustadzah Neno Warisman yg isinya Demi Allah, Demi Allah Ketika Allah SWT memberi hidayah pada seseorang karena sentuhan kesalehanmu maka pahalamu lebih baik dibanding dunia dengan isinya (alhadits)

Kesalehan Sosial (From Kuliah twitter @aheryawan on June 26, 2012 at 7am)

Apa pendapat para sahabat tentang kesalehan sosial ? Mungkin sama seperti dibawah ini:

1. Saat seseorang bisa mentransformasikan kebaikan dirinya untuk disebar ke orang lain, maka dia sedang melakukan kesalehan sosial

2. Kesalehan sosial berarti saat dia hadir di sebuah kawasan, orang di sekitarnya merasakan manfaat kehadirannya

3. Semakin banyak orang yang merasakan kehadiran seseorang maka semakin tinggi kesalehan sosialnya di mata Allah SWT.

4. Kesalehan sosial adalah pengejawantahan kesalehan individu.

5. Allah tidak ingin kesalehan seseorang hanya dinikmati oleh dirinya sendiri dan keluarga dekatnya

6. Tapi Allah ingin hambaNya yang soleh menebarkan kesalehannya kepada orang lain sebanyak-banyaknya.

7. Allah menyediakan pahala bagi orang yang sudah mengubah kesalehan individunya menjadi kesalehan sosial ribuan kali lipat pahala

8. Ketika Allah SWT memberi hidayah pada seseorang karena sentuhan kesalehanmu maka pahalamu lebih baik dibanding dunia dengan isinya (alhadits)

9. Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia yang lain (alhadits)

10. Semua kita harus bercita-cita besar untuk jadi manusia dengan kesalehan sosial.

11. Jika kita menjadi manusia dengan kesalehan soaial maka pasti akan bekerja keras dan terus berkarya untuk kemanusiaan.

(From Kuliah twitter @aheryawan on June 26, 2012 at 7am)

Keutamaan Hauqalah

Written By Admin BeDa on Selasa, 05 Juni 2012 | 08:00

Hauqalah (Hawqalah) adalah ucapan لا حول ولا قوة إلا بالله’ ‘laa haula wa laa quwwata illa billah’. Tentang keutamaan kalimat ini, banyak hadits diriwayatkan. Nabi saw yang mulia bersabda:

“Maukah aku tunjukkan kepadamu sebuah kalimat yang berasal dari bawah ‘Arsy dari pusaka surga? Katakanlah olehmu: لا حول ولا قوة إلا بالله ‘tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuasaan Allah’, niscaya Allah akan mengatakan, ‘hambaKu telah menyerahkan dirinya dan meminta perlindungan.” (HR Al-Hakim dari Abu Hurairah r.a)

“Tidak ada seorang pun diatas bumi ini yang mengatakan:لا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله ‘tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuasaan Allah’ kecuali akan dihapuskan segala kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi dari Ibn ‘Umar r.a)

“Perbanyaklah al-baaqiyaat al-shaalihaat, yaitu tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan laa haula wa laa quwwata illa billah.” (HR Ahmad, Ibn Hibban dan Al-Hakim dari Abu Sa’id r.a) []


Penulis : Oktarizal Rais
Mahasiswa tingkat akhir
di Ma’had Aly An-Nu’aimy, Jakarta

http://www.bersamadakwah.com/2012/06/keutamaan-hauqalah.html