Tips Mendinamiskan Sistem Halaqah

 81. Miliki kemampuan komunikasi

“..dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.” (QS. 4 : 63).

Miliki berbagai kemampuan komunikasi jika Anda ingin menjadi murabbi sukses.Kemampuan komunikasi yang perlu Anda miliki adalah kemampuan menjelaskan ide secara sistematis, rasional dan mudah dipahami mad’u. Selain itu juga kemampuan memakai kata-kata yang sopan, kata-kata yang meyakinkan, mendramatisir, memperkuat argumentasi dengan bahasa non verbal (bahasa tubuh) dan kemampuan memberikan ilustrasi, contoh serta humor (penjelasan lebih lanjut dapat Anda baca pada buku Murabbi Skills oleh Satria Hadi Lubis). Semua itu penting untuk menunjang penampilan Anda yang prima di hadapan mad’u.

Kemampuan komunikasi dapat dilatih dengan menambah pengalaman berbicara di depan umum. Juga dengan banyak membaca buku-buku tentang teori komunikasi, meminta masukan dari teman dekat tentang gaya komunikasi Anda, dan juga dengan mengikuti pelatihan-pelatihan tentang komunikasi efektif.

Dengan komunikasi yang prima, orang akan mendengarkan Anda dan mengagumi Anda. Bahkan kekurangan Anda dapat tertutupi kalau Anda “pintar ngomong”. Oleh sebab itu, latih terus kemampuan komunikasi Anda. Jangan cepat putus asa jika Anda belum mampu berkomunikasi yang memukau saat ini. Latih terus kemampuan Anda, Insya Allah lama kelamaan Anda akan menjadi komunikator yang ulung.

82. Buat “rapor” mad’u

“Sering kita jumpai seorang da’i berdakwah, pada saat yang sama dia juga seorang murabbi yang menyeleksi para aktifis yang ada di bawahnya, dan pada saat yang bersamaan dia melakukan amal dan tanfidz sekaligus.” (Hasan Al Banna).

Alangkah baiknya jika Anda memiliki “rapor” mad’u. Yakni data tentang perkembangan mad’u dari awal halaqah sampai sekarang. Data tersebut, antara lain meliputi data riwayat hidup, absensi, data ibadah yaumiah, data aktivitas dakwah, data perkembangan pemahaman, data prestasi, data kesalahan/masalah, dan lain-lain. Semakin lengkap data yang Anda miliki semakin baik.

Realitanya, banyak murabbi yang tidak memiliki “rapor” tentang mad’unya. Mereka hanya mengandalkan ingatan ketika mengevaluasi dan menyeleksi mad’u. Dampaknya, evaluasi menjadi bias dan tidak valid. Sebab tidak didukung data yang cukup. Akhirnya, murabbi dapat terjebak pada sikap tidak proporsional terhadap mad’u. Like and dislike (suka atau tidak suka) dapat terjadi. Penempatan dan perlakuan terhadap mad’u bukan lagi berdasarkan kemampuan, tapi berdasarkan mana yang disukai.

Ketiadaan “rapor” juga berdampak pada pemberdayaan mad’u. Murabbi akan sulit memberdayakan mad’u sesuai dengan potensinya. Sebab pemberdayaan membutuhkan data dari orang yang akan diberdayakan.

Akhirnya, muncullah murabbi-murabbi by instinc, bukan murabbi-murabbi by data.

83. Buat agenda acara khusus untuk infaq

“Orang-orang yang menginfakkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. 2 : 274).

Apakah perlu ada infaq dalam halaqah? Tentu saja harus ada. Mengapa? Dengan adanya infaq maka mad’u melatih diri untuk gemar berinfaq. Dengan gemar berinfaq, mad’u belajar untuk berkorban bagi dakwah dan jama’ah. Berdakwah memang membutuhkan pengorbanan.

Infaq di dalam halaqah juga berguna untuk pendanaan bagi kegiatan amal jama’i halaqah dan dakwah. Untuk bayar murabbi juga? Tidak! Murabbi tidak perlu dibayar (diberi honor) karena dapat merusak integritas pembinaannya. Lalu, agar infaq halaqah dapat berjalan rutin dan teratur, maka perlu dibuat agenda acara khusus untuk infaq di halaqah. Waktunya sekitar 5-10 menit. Pada agenda acara itu, infaq dikumpulkan oleh bendahara halaqah. Agenda acara tersebut juga bisa digunakan untuk membacakan laporan infaq halaqah, mengevaluasi infaq mad’u, mendiskusikan pemberdayaan uang infaq, dan memberikan taujih (pengarahan) singkat tentang infaq.

84. Buat jaringan komunikasi (jarkom)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakalah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu dikembalikan” (QS. 58 : 9).

Apa yang dimaksud jarkom? Jarkom adalah jaringan komunikasi antar mad’u, sehingga informasi yang perlu diketahui mad’u dapat tersebar secara merata dalam waktu yang cepat. Jarkom berguna untuk memobilisasi mad’u secara mendadak, menginformasikan amniyah dengan segera, atau menginformasikan hal-hal yang perlu disampaikan tanpa menunggu waktu halaqah. Jarkom juga bermanfaat untuk menjalin komunikasi yang lebih intens antar mad’u. Biasanya, sumber informasi dalam jarkom adalah Anda sendiri, sebagai murabbi.

Aliran informasi dalam jarkom bisa berupa garis lurus (informasi berantai), bisa berupa segitiga (sumber informasi menyampaikan pada seseorang kemudian orang itu menyebarkannya pada beberapa orang), bisa juga berupa cluster (sumber informasi menyampaikannya pada beberapa orang dan orang itu menyampaikannya pada kelompoknya). Apa pun bentuk jarkom yang Anda pilih, yang pasti jarkom harus menjamin agar informasi dapat sampai kepada semua anggotanya.

85. Buat berita acara halaqah (sekaligus catat materi yang telah diberikan)

“..Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis…” QS. 2 : 282)

Sebaiknya, halaqah memiliki berita acara. Isi berita acara halaqah tergantung dari kebutuhan. Biasanya isi berita acara halaqah adalah waktu dan lama halaqah, absensi, agenda pembicaraan, laporan ibadah dan aktivitas harian mad’u (evaluasi yaumiah), serta agenda pembicaraan yang akan datang. Berita acara halaqah bermanfaat untuk mengetahui perkembangan halaqah. Juga berguna untuk alat pengingat bagi Anda tentang apa yang perlu diperbaiki dari halaqah. Sebaiknya, berita acara halaqah diarsipkan dengan baik. Bisa oleh Anda, bisa juga oleh salah satu mad’u yang Anda tugaskan (sekretaris halaqah).

Dalam berita acara halaqah, perlu juga dicantumkan tentang materi yang telah Anda sampaikan. Pencatatan materi berguna untuk mengingatkan Anda tentang materi yang telah diberikan. Kadangkala murabbi lupa tentang materi yang telah diberikan, sehingga terjadi pengulangan materi. Hal ini dapat dihindari jika dicatat dalam berita acara halaqah. Namun jika berita acara halaqah disimpan oleh mad’u (sekretaris halaqah), Anda perlu mencatatnya sendiri. Sebaiknya, pengulangan materi dihindari, karena dapat menimbulkan kebosanan mad’u. Selain itu, akan mengurangi kredibilitas Anda sebagai murabbi, sebab Anda dianggap hanya mempunyai “stock” (persediaan) materi terbatas.

86. Lakukan rotasi mad’u

“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan” (QS. 24 : 44).

Salah satu cara agar halaqah Anda dinamis dan tidak membosankan adalah melakukan rotasi mad’u. Caranya, jika Anda mempunyai lebih dari satu halaqah yang jenjangnya sama, ubah komposisi halaqah dengan memindahkan sebagian mad’u ke halaqah lain, begitu pun sebaliknya. Namun, jika Anda tidak mempunyai halaqah lain yang jenjangnya sama, “barter” dengan murabbi lain. Bisa juga dengan memindahkan sebagian mad’u yang sudah saatnya naik jenjang ke halaqah lain yang Anda tangani atau yang ditangani murabbi lain.

Sebaiknya, rotasi mad’u tidak dilakukan terlalu cepat, tapi juga tidak terlalu lama. Jika terlalu cepat, tidak ada waktu bagi mad’u untuk berinteraksi secara mendalam dengan teman-teman satu halaqahnya. Program juga sulit dijalankan dengan efektif. Jika terlalu lama, akan muncul kejenuhan dan suasana monoton (kecuali jika halaqah tersebut memang benar-benar solid dan dinamis).

Cara lain melakukan rotasi mad’u adalah menitipkan mad’u ke murabbi lain dalam jangka waktu tertentu, misalnya 6 bulan-1 tahun. Hal ini terutama perlu dilakukan jika Anda sangat sibuk sehingga Anda, untuk sementara waktu, tidak dapat hadir dalam halaqah secara rutin

87. Berikan materi sesuai kebutuhan

“Murabbi harus mengetahui problema yng dialami pemuda, baik berkenaan dengan pribadinya, keluarganya, interaksi dengan teman-temannya, atau kehidupannya secara umum. Problem-problem tersebut mungkin dapat menjadi salah satu faktor penghalang perjalanannya di jalan dakwah atau faktor yang menyebabkannya menyimpang dari jalan dakwah. Karenanya, murabbi harus mencermatinya dan mencarikan solusi yang terbaik dan bermanfaat untuknya.” (Musthafa Masyhur).

Mengapa konser musik selalu dipenuhi remaja? Karena lirik musik pada konser itu sebagian besar bicara tentang cinta. Remaja membutuhkan cinta, dan kebutuhan itu dipenuhi oleh konser musik tersebut. Wajar jika mereka berbondong-bondong datang ke konser musik.

Jika Anda ingin menjadi murabbi yang digandrungi mad’u, pakailah resep para musikus itu. Mengikuti selera pasar. Anda perlu menyampaikan materi yang sesuai dengan selera dan kebutuhan mad’u. Jangan dibalik, memberikan materi sesuai dengan kebutuhan Anda. Hal ini terutama untuk halaqah pemula yang belum memahami pentingnya halaqah. Sampaikan materi sesuai dengan kebutuhan mereka.

Misalnya, mereka membutuhkan pengetahuan tentang cara bergaul yang baik, berikan materi “Pergaulan dalam Islam”. Mereka membutuhkan wawasan tentang bisnis, sampaikan materi tentang “Bisnis Dalam Islam”. Bagaimana cara mengetahui kebutuhan mereka? Cara mengetahuinya dengan menyimak apa yang sering mereka obrolkan, dengan bertanya langsung kepada mereka, dengan bertanya pada teman dekatnya, dengan melihat hobi dan minatnya.

Lalu, jika materi diberikan sesuai dengan kebutuhan, kapan materi “paket” (materi yang sesuai kurikulum halaqah) diberikan? Nanti, setelah mereka tsiqah kepada Anda. Itupun juga tidak menutup kemungkinan untuk tetap memberikan materi sesuai dengan kebutuhan mad’u (jika materi yang dibutuhkan tersebut tidak ada dalam materi “paket”). Anda bisa menyampaikan materi yang dibutuhkan mad’u sebagai selingan penyampaian materi “paket”.

88. Lakukan “sarasehan” halaqah bersama mad’u

“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam mejelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akam memberi kelapangan untukmu…” (QS. 58 : 11).

Apa yang dimaksud “sarasehan” halaqah disini? Yakni acara khusus untuk mengevaluasi perjalanan halaqah bersama mad’u. Sebaiknya acara ini dilakukan rutin enam bulan atau setahun sekali. Waktunya bisa pada acara halaqah yang agenda acaranya diubah. Bisa juga dirancang khusus menjadi acara tersendiri atau digabung dengan acara mabit dan rihlah.

Ketika halaqah mengalami penurunan kinerja yang parah (misalnya sebagian mad’u sering tidak hadir, program ridak ada yang berjalan, dan suasana penuh dengan konflik), acara “sarasehan” ini sangat perlu dilakukan untuk memecahkan masalah bersama. Luangkan waktu selama 2 sampai 6 jam untuk acara sarasehan ini. Ajak juga mad’u untuk merancang acara ini. Dan ketika acara berlangung, beri kesempatan sebebas mungkin bagi mad’u untuk menyampaikan uneg-unegnya.

Ada tiga evaluasi yang dapat dilakukan pada acara “sarasehan” ini, evaluasi sistem, evaluasi mad’u, dan evaluasi murabbi. Evaluasi sistem terkait dengan pencapaian program, mekanisme halaqah, dan lain-lain. Evaluasi mad’u berupa saling tausiyah (menasehati) antar mad’u. Evaluasi murabbi adalah tausiyah dari mad’u kepada murabbinya. Mungkin, dalam acara ini terjadi “buka-bukaan”. Hal ini tidak masalah selama masih dalam semangat perbaikan, bukan untuk mencela dan mencaci orang lain. Bagi Anda, acara ini sangat bermanfaat untuk mengetahui pandangan mad’u terhadap Anda, baik sisi negatif maupun positif.

Dari evaluasi ini, Anda dan mad’u dapat mengintrospeksi diri dan memperbaiki kekurangan yang ada. Anda dan mad’u juga belajar dikiritik orang lain, sehingga terbiasa menerima kritik. Orang yang tidak biasa dikiritik, biasanya akan cepat tersinggung dan marah jika dikritik. Padahal dalam era keterbukaan ini, setiap orang harus belajar menerima kritik secara terbuka agar pribadinya menjadi lebih matang dan tidak merasa benar sendiri. Di samping itu, acara “sarasehan” dapat meningkatkan tanggung jawab dan rasa memiliki mad’u terhadap halaqah.

Mungkin, ketika Anda dan mad’u pertama kali mengadakan acara ini, ada rasa kuatir tidak sanggup menerima kritik secara terbuka. Ada rasa kuatir akan ada yang tersinggung. Hal ini wajar karena baru pertama kali diadakan. Jika sudah terbiasa dan menjadi agenda rutin, perasaan itu akan hilang. Yang timbul malah perasaan butuh akan kritik. Saat ini, sangat langka orang bisa saling bertausiyah dalam suasana kebenaran, kasih sayang, dan saling menghormati.

89. Jangan adakan pertemuan halaqah di tempat yang berisik

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. 7 : 20-4).

Anda pernah mengadakan pertemuan halaqah di tempat yang berisik? Berisik dengan suara kendaraan, suara tangisan anak, suara musik, suara orang ngobrol, atau suara sound system hajatan? Gimana rasanya? Anda tentu sulit konsentrasi, bukan? Begitu juga mad’u Anda. Suara Anda juga jadi kurang terdengar oleh mad’u. Lalu Anda mencoba mengatasinya dengan bersuara lebih keras. Hasilnya, konsentrasi Anda semakin buyar dan suara Anda tampak dipaksakan. Anda juga menjadi cepat lelah.

Sebaiknya, hindari tempat halaqah yang bising. Carilah tempat yang tenang dan nyaman, walau tempat itu jauh. Di tempat itu, Anda bisa lebih konsentrasi menangani mad’u, sehingga hasilnya lebih maksimal dibandingkan berhalaqah di tempat yang berisik.

Jika kebisingan itu disebabkan suara anak-anak Anda, pindahkan waktu halaqah dimana anak Anda sedang tidur atau pergi (misal: pergi sekolah). Kalau perlu, jika rumah Anda atau mad’u tidak ada yang memenuhi syarat kenyamanan dan ketenangan, pindahkan halaqah ke tempat umum, seperti masjid atau taman.

90. Buat agenda acara dan jalankan dengan konsisten

“..Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (QS. 5 : 48)

Seringkali halaqah tidak berjalan dengan baik karena tidak memiliki agenda acara yang baku. Agenda acara penting dibuat agar halaqah dapat berjalan tertib dan teratur. Selain itu, untuk mengingatkan Anda tentang apa saja yang perlu dilakukan dan dibahas dalam halaqah.

Sebaiknya, agenda acara halaqah disusun bersama dengan mad’u agar mereka merasa bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Agenda acara harus sesuai dengan kebutuhan mad’u dan pencapaian sasaran halaqah. Setelah disepakati bersama, agenda acara halaqah perlu didokumentasikan dan dibagikan kepada seluruh mad’u agar mereka mengetahuinya.

Agenda acara halaqah harus dijalankan dengan konsisten pada setiap pertemuan halaqah. Anda dapat menunjuk salah seorang mad’u, baik secara bergilir atau tetap, untuk mengingatkan Anda mengenai susunan agenda acara halaqah.

Contoh agenda acara halaqah adalah (sesuai dengan urutannya) iftitah (pembukaan), tilawah dan tadabbur, infaq, talaqqi (taujih) materi, mutaba’ah (evaluasi) dan diskusi, ta’limat (informasi dan pengumuman) dan ikhtitam (penutup).

Bisa juga Anda tambahkan dengan agenda acara berupa “setoran” hapalan Qur’an/Hadits, qadhaya (pembahasan problem personal), evaluasi yaumiah (ibadah dan aktivitas harian), evaluasi kedisiplinan, dan lain-lain. Agenda acara yang baku dalam halaqah bisa diubah jika memang dibutuhkan. Misalnya, jika ada program amal jama’i yang perlu dibahas secara mendalam, ada masalah personal yang mendesak untuk dibahas, atau ada kendala untuk menyelesaikan halaqah sesuai dengan waktunya. Namun, perubahan tersebut jangan terlalu sering, sehingga terkesan Anda tidak konsisten dengan agenda acara yang telah ditetapkan. Jika pun agenda acara mau diubah sebaiknya perubahan tersebut disepati bersama dengan mad’u.

91. Buat program kerja untuk periode tertentu

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59 : 18).

Gagal melakukan perencanaan berarti gagal dalam menuai hasil maksimal. Perencanan sangat penting untuk memperoleh hasil maksimal. Karena itu, halaqah yang ingin berhasil mencapai tujuannya harus memiliki perencanaan (program). Dalam membuat program, perlu diperhatikan tujuan halaqah. Secara umum, ada empat tujuan halaqah, yaitu tercapainya muwashafat (sasaran) yang telah ditetapkan, tercapainya nikmat ukhuwah, tercapainya kaderisasi (masing-masing mad’u dapat berdakwah dan membina), dan tercapainya pengembangan potensi mad’u. Tujuan umum ini dapat dijabarkan lagi dalam tujuan-tujuan yang lebih spesifik tergantung dari kebutuhan halaqah.

Program halaqah sebaiknya mencakup nama kegiatan, waktu pelaksanaan, sasaran kegiatan, dan pelaksananya. Ada dua jenis program halaqah yang perlu dibuat, yakni program internal dan eksternal. Program internal adalah program yang sasaran kegiatannya adalah mad’u halaqah sendiri. Misalnya, daurah tarkiyah (peningkatan kualitas), mabit, rihlah, silaturahmi antar mad’u, dan lain-lain. Sedang program eksternal adalah program yang sasaran kegiatannya adalah masyarakat umum. Misalnya, daurah rekrutmen, bakti sosial, tabligh, seminar, dan lain-lain.

Buatlah program halaqah bersama dengan mad’u agar mad’u merasa bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Buat program halaqah untuk periode tertentu, misalnya 6 bulan atau 1 tahun. Jangan membuat program halaqah untuk periode yang terlalu lama (misalnya 3-5 tahun). Sebab nanti akan sulit menjaga konsistensinya. Jangan juga terlalu singkat (misalnya 1-2 bulan).

Jika karena sesuatu hal program terpaksa ditunda atau dibatalkan pelaksanaannya, Anda perlu menyepakati hal itu bersama dengan mad’u. Jangan Anda menunda atau membatalkan program halaqah secara sepihak, karena dapat membuat preseden buruk bagi mad’u bahwa Anda tak serius melaksanakan program.

Sebaiknya dalam acara halaqah ada agenda khusus yang rutin dijalankan untuk mempersiapkan dan memutaba’ah (mengevaluasi) pelaksanaan program halaqah. Hal ini untuk menjaga konsistensi pelaksanaan program yang telah dibuat.

92. Delegasikan sebagian tugas Anda di halaqah

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. 12 : 108).

Delegasikan sebagian tugas Anda. Tugas apa? Tugas yang bukan merupakan tugas utama Anda di halaqah. Contoh tugas yang dapat didelegasikan dalam halaqah adalah tugas membuka dan menutup halaqah, tugas sebagai moderator acara, tugas mencatat berita acara/notulen halaqah, tugas mencatat dan memegang uang infaq, tugas menghubungi mad’u, tugas mengingatkan aturan dan program, dan lain-lain.

Semua tugas itu sebenarnya tugas Anda sebagai pemimpin halaqah. Namun dapat didelegasikan kepada mad’u. Tugas utama Anda sebagai pengambil keputusan terakhir (dicesion maker) tak bisa didelegasikan. Hal itu karena Anda adalah pemimpin halaqah yang bertanggung jawab paling akhir terhadap keberhasilan halaqah. Tugas menyampaikan materi (taujih) dapat didelegasikan sesekali.

Misalnya, ketika materi dalam bentuk simulasi atau bedah buku, maka Anda dapat mendelegasikan pelaksanaannya kepada mad’u. Tugas yang didelegasikan harus diberikan secara berangsung-angsur agar mad’u tidak merasa berat melaksanakannya. Idealnya, pendelegasian itu sampai pada taraf mad’u yang aktif, sedang Anda berbalik menjadi pasif (hanya sebagai fasilitator) dalam halaqah. Untuk mencapai tahap ideal seperti itu, kalau bisa, semua mad’u mendapatkan pendelegasian tugas. Mereka mendapatkan jabatan (secara permanen) atau tugas (yang sifatnya digilir/sementara).

Pendelegasian tugas berguna untuk melatih jiwa kepemimpinan, tanggung jawab, dan kreativitas mad’u. Selain itu, meringankan tugas Anda dalam memimpin halaqah. Anda jadi lebih santai dan tidak terlalui lelah memimpin halaqah.

93. Jangan tinggalkan mabit!

“Dan orang yang melalui malam hari (mabit) dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. 25 : 64).

Apaan sich yang disebut dengan mabit? Mabit adalah menginap bersama mad’u untuk menghidupkan malam dengan aktivitas ibadah dan dzikir. Biasanya agenda acara mabit adalah taujih mabit, shalat tahajud, muhasabah, dan dzikir (Al Ma’tsurat).

Anda dapat saja menambahkan agenda mabit itu dengan agenda acara lain yang dianggap perlu.

Mabit bisa dilakukan dimana saja (di rumah, masjid, menyewa vila, dan lain-lain), yang penting tempatnya cukup nyaman untuk menginap. Tujuan mabit adalah meningkatkan ruhiyah Anda dan mad’u.

Sebaiknya, mabit dilakukan sebulan atau dua bulan sekali. Idealnya waktu mabit tersendiri, tidak digabung dengan waktu acara halaqah. Namun jika mad’u tidak memiliki waktu lain, mabit dapat digabung dengan acara halaqah. Jadi setelah acara halaqah langsung dilanjutkan dengan acara mabit.

Memang, ada juga murabbi yang tidak rutin melakukan mabit. Mereka mungkin malas, lupa, atau terlalu sibuk dengan kegiatan lain sehingga mengabaikan mabit bersama mad’unya. Hal ini jangan Anda contoh. Karena mabit sangat efektif dalam meningkatkan ruhiyah Anda dan mad’u. Dengan meningkatnya ruhiyah Anda dan mad’u, persoalan halaqah menjadi semakin berkurang. Sesungguhnya, sebagian besar persoalan halaqah, terutama persoalan personal, disebabkan oleh menurunnya tingkat ruhiyah personal halaqah itu sendiri.

94. Sempatkan waktu untuk rihlah

“Rihlah merupakan salah satu perangkat tarbiyah, sebagai pelengkap dari berbagai perangkat yang digunakan jama’ah untuk mentarbiyah anggotanya.” (Ali Abdul Halim Mahmud).

Sempatkan rihlah (rekreasi) bersama mad’u Anda. Dengan rekreasi, Anda dan mad’u dapat terbebas untuk sementara waktu dari pekerjaan rutin sehari-hari. Dapat menghilangkan kejenuhan pikiran dan jiwa serta mengembalikan semangat kerja. Orang yang jarang rekreasi, bahkan tidak pernah, akan lebih mudah terkena penyakit stres dan BT (Boring Time). Juga akan menjadi tidak kreatif dalam bekerja. Selain itu, rihlah juga bermanfaat untuk meningkatkan ukhuwah antar personal halaqah. Karena begitu banyaknya manfaat rihlah, maka jangan tinggalkan rihlah dengan alasan apa pun.

Sebaiknya, rihlah dirancang bersama dengan mad’u, baik tentang bentuk, waktu, dan biayanya. Bentuk rihlah bisa bermacam-macam. Bisa rekreasi ke tempat hiburan (seperti Ancol, TMII, dan lain-lain), bisa juga dengan menyewa villa. Waktu rihlah dapat menginap, dapat juga tidak, tergantung dari kesepakatan dan biaya. Rihlah sebaiknya dilakukan 3 atau 6 bulan sekali.

Agenda acara rihlah sebaiknya lebih menekankan pada aspek rekreasi (hiburan), walau tentu saja tetap memperhatikan aturan syar’i. Misalnya, jangan mengadakan rihlah di tempat-tempat yang kental dengan nuansa maksiat.

95. Sesekali adakan acara mukhayam

“Barangkali tujuan yang bersifat pelatihan merupakan tujuan yang paling penting dalam mukhoyam, karena tujuan itulah yang memang sejak semula dituntut dari mukhoyam ini” (Ali AbdulHalim Mahmud).

Sempatkan waktu untuk mukhayam dengan mad’u. Mukhayam adalah acara sejenis kemping yang biasa dilakukan pramuka atau kelompok pecinta alam. Fungsi mukhayam sangat banyak, diantaranya dapat saling mengenal karakter seseorang, melatih kemandirian, tanggung jawab, kesabaran, kepemimpinan, kerjasama, dan akhirnya dapat meningkatkan ukhuwah. Bagi Anda, mukhayam sangat efektif untuk mengenal karakter asli mad’u Anda. Kadangkala mad’u yang tampak “manis” akan kelihatan belangnya di acara mukhayam. Begitu pun sebaliknya. Sebaiknya, acara mukhayam diadakan setahun atau dua tahun sekali.

96. Berikan tugas yang memberikan kesempatan berkreasi

“Murabbi harus mendidik mad’unya untuk percaya dan tidak ragu-ragu atau bimbang, membiasakan mereka jeli dalam melaksanakan tugas-tugas yang diamanahkan, baik sebagai mas’ul (pemimpin) atau anggota” (Musthafa Masyhur).

Dalam memberikan tugas, berikan kesempatan pada mad’u untuk berkreativitas. Anda jangan memberi tugas kepada mad’u secara detail, sampai “titik komanya” Anda tentukan, kecuali untuk tugas-tugas yang mengandung resiko amniyah tinggi. Untuk tugas biasa, berikan tugas secara global agar mad’u dapat berkreativitas dalam melaksanakannya. Misalnya, untuk tugas membuat seminar, berikan acuan tentang tema yang sebaiknya diangkat atau pembicara yang mestinya diundang. Sedang tentang pelaksanaan teknisnya biarkan mad’u yang merancangnya.

Dengan memberi kesempatan mad’u berkreasi, ia akan lebih mempunyai rasa memiliki terhadap tugas tersebut, karena ia dapat menyumbangkan pikirannya sendiri. Selain itu, juga melatih kemandirian dan tanggung jawabnya. Anda jangan kuatir ia akan salah atau gagal. Jika pun gagal dalam melaksanakan tugasnya, ia akan belajar banyak dari kegagalan tersebut, sehingga akan lebih terampil melaksanakan tugas yang lain di masa datang.

97. Lakukan variasi agenda acara

“Perbaruilah iman kalian” (HR. Ahmad).

Agar suasana halaqah tidak membosankan, lakukan variasi agenda acara. Agenda acara halaqah yang rutin biasanya berupa iftitah (pembukaan), tilawah, taujih, diskusi, mutaba’ah (evaluasi), dan ikhtitam (pentup). Rubah agenda acara itu dengan merinci atau menambahkannya dengan agenda acara lain. Misalnya, menambahkan dengan agenda infaq, tadabbur, setoran hapalan ayat/hadits, kultum dari mad’u, ta’limat (pengumuman dan informasi), evaluasi yaumiah (ibadah dan aktivitas harian), informasi aktual dari mad’u, evaluasi kedisiplinan, dan lain-lain. Bisa juga dengan merubah susunan agenda acara. Misalnya, agenda infaq yang biasanya dilakukan di akhir acara dirubah menjadi sebelum taujih dari morobbi.

Cara lainnya dengan “sengaja melanggar” agenda acara halaqah yang baku dengan aktivitas selingan. Misalnya, untuk acara halaqah pekan ini hanya berupa tilawah dan langsung dilanjutkan dengan seminar atau simulasi (karena acara tersebut membutuhkan waktu yang lama). Prinsipnya, agenda acara bukanlah sesuatu yang pantang diubah. Jika Anda ingin mendinamiskan halaqah, ubahlah agenda acara sesuai dengan kesepakatan Anda dan mad’u. Selama hal itu tetap sesuai dengan syar’i dan tetap sesuai dengan pencapaian sasaran halaqah.

98. Lakukan variasi metode belajar

“Da’i harus menekuni seni menarik hati dan cara membuka pintu hati. Ia harus memadukan antara rangsangan emosi dan pemuasan intelektual, sebab itu lebih menjamin ketahanan pengaruh ucapannya dan orang lain terpengaruh olehnya, sehingga dapat membuahkan hidayah dan amal shalih.” (Musthafa Masyhur).

Metode belajar yang sering digunakan pada halaqah adalah ceramah. Metode ini mudah dan praktis, serta tidak membutuhkan persiapan lama. Tapi metode ini juga potensial menimbulkan kejenuhan dan suasana monoton. Padahal halaqah seharusnya berlangsung dinamis agar mad’u betah berhalaqah. Untuk itu, metode belajar harus variatif agar tidak membosankan dan monoton. Ubahlah metode belajar Anda yang biasanya ceramah dengan metode belajar lain. Masih banyak metode belajar lain yang dapat Anda gunakan, seperti simulasi, permainan (games), bermain peran (role play), diskusi, bedah buku, seminar, dan lain-lain. Anda juga dapat membuat sendiri metode belajar lain. Yang penting metode belajar itu sesuai dengan syar’i dan menarik. Juga dapat melibatkan mad’u, sesuai dengan sasaran materi dan sesuai dengan waktu serta tempat.

Dengan menggunakan metode belajar yang variatif, kredibilitas Anda akan meningkat di mata mad’u (karena Anda dianggap kreatif dan serba bisa). Mad’u juga lebih efektif memahami materi. Anda perlu memahami bahwa tidak semua mad’u bisa belajar efektif dengan metode belajar ceramah. Metode ini hanya cocok untuk orang yang memiliki kecerdasan audio (pendengaran). Tapi kurang cocok untuk orang yang memiliki kecerdasan visual (penglihatan) dan kinestetik (gerak). Untuk orang visual lebih cocok dengan metode belajar yang merangsang mata bekerja maksimal. Sedang untuk orang kinestetik lebih cocok dengan metode belajar yang merangsang gerak. Dengan memvariasikan metode belajar, Anda memenuhi berbagai kebutuhan cara belajar mad’u, sehingga pemahaman mereka terhadap materi akan lebih efektif.

99. Lakukan variasi media belajar

“Sesungguhnya keimanan ini akan lapuk dalam dada kalian sebagaimana lapuknya pakaian. Karena itu, mohonlah kepada Allah agar memperbarui keimanan dalam dada kalian” (HR. Thabrani).

Cara lain untuk mendinamiskan halaqah adalah dengan melakukan variasi media belajar. Media belajar dalam halaqah dapat bermacam-macam, seperti papan tulis, makalah, alat peraga, OHP (Over Head Projector), slide projector, video, dan lain-lain. Variasikan media belajar Anda dalam halaqah agar penampilan Anda menarik dan tidak membosankan. Juga agar pemahaman mad’u terhadap materi lebih maksimal. Misalnya, jika pekan ini Anda menggunakan makalah untuk menjelaskan materi, pekan depan Anda menggunakan papan tulis. Pekan berikutnya, Anda menggunakan alat peraga. Bisa juga variasi media belajar ini dilakukan dengan menggabungkan berbagai sarana belajar tersebut (makalah, papan tulis, OHP, dan lain-lain).

Memang, beberapa media belajar, seperti OHP dan video, membutuhkan persiapan dan dana untuk menggunakannya. Mungkin itulah sebabnya sebagian besar murabbi hanya menggunakan media belajar papan tulis dan makalah (yang murah dan praktis) untuk menyampaikan materi di halaqah. Namun hal tersebut dapat “diakali” dengan menggunakan media belajar yang lain sesekali sebagai selingan.

Kalau perlu, bekerjasama dengan mad’u untuk persiapan dan penyediaan dananya.

100. Ubah tempat pertemuan

“..Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada…” (QS. 57 : 4).

Idealnya tempat halaqah berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Namun kenyataannnya, seringkali murabbi menetapkannya hanya di satu tempat. Biasanya tempat tersebut adalah rumah morobbi itu sendiri. Mungkin murabbi melakukan hal itu karena tidak mau repot pergi jauh-jauh ke tempat halaqah. Hal semacam itu dapat membuat suasana halaqah menjadi monoton. Anda perlu mengantisipasinya dengan merubah-rubah tempat pertemuan.

Selain untuk menghindari suasana monoton, memindah-mindahkan tempat pertemuan juga bermanfaat untuk mengenal lebih jauh karakter mad’u. Misalnya, jika tempat halaqah dipindahkan ke tempat yang jauh akan terlihat mana mad’u yang rajin datang ke halaqah, mana yang sering terlambat, dan mana yang suka mengeluh. Jika halaqah dipindahkan dari rumah ke rumah, Anda juga dapat mengenal keluarga dan kondisi rumah mad’u sebagai bahan menilai karakter mad’u.

Jika Anda karena alasan tertentu sulit memindah-mindahkan tempat halaqah, tetapkan tempat pertemuan di satu tempat. Tapi pindahkan tempat pada saat tertentu. Misalnya, tiga kali pertemuan di tempat yang telah ditetapkan, satu kali pertemuan digilir ke tempat lain.

101. Ubah waktu pertemuan

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. 3 : 190).

Cara lain agar halaqah tidak berjalan monoton adalah merubah waktu pertemuan. Jika waktu pertemuan biasa berlangsung malam hari, ubah ke pagi hari atau siang hari. Jika halaqah biasa berlangsung hari Senin, ubah ke hari Sabtu atau Ahad. Prinsipnya, ubah hari atau jam halaqah sesuai dengan kesepakatan Anda dengan mad’u.

Sebaiknya, perubahan waktu halaqah dilakukan enam bulan sekali. Hal ini untuk menghindari kebosanan mad’u dengan jadwal halaqah lama. Memang, mungkin tidak semua mad’u bisa mengikuti jadwal halaqah yang baru. Mereka punya kesibukan masing-masing, sehingga sulit menyesuaikan diri dengan jadwal baru. Jika hal itu yang terjadi, Anda tidak perlu mengubah waktu halaqah secara permanen. Ubah sesekali saja sebagai selingan. Misalnya, waktu halaqah biasanya malam hari, maka khusus untuk pekan ini waktu halaqah diubah menjadi ba’da (sesudah) subuh. Pekan

berikutnya halaqah kembali ke jadwal semula. Atau waktu halaqah biasanya hari Senin, tapi khusus untuk pekan ini diubah menjadi hari Rabu.

http://www.hasanalbanna.com/tips-mendinamiskan-sistem-halaqah/

About yumiyulanda
If something went wrong, don't be sad...it's just Allah's way to forgive your sins...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: