Ikhlas, Dia Bukan Untukku

Aeny Zawa

Ikhlas, Dia Bukan Untukku

15/8/2012 | 27 Ramadhan 1433 H | Hits: 241

Oleh: Aeny Zawa


Kirim Print

Ilustrasi (desktopnexus.com)

dakwatuna.com – Malam sepi terhanyut dalam gelap yang pekat, bahkan tak nampak sinar temaram bulan dan bintang. Aku terpaku, berpacu bersama dentingan detik jam dinding kamar. Ujung jarum yang berdiri di antara angka 3 dan angka 4 tak cukup membuatku terpana. Sudah 12.600 detik berlalu, aku masih tertunduk bersama mukena lengkap yang menempel di badan. Bersimpuh di atas sajadah hijau motif timur tengah, mengadu pada Mu yaa Rabbi Sang Penggenggam jiwa. Hati ini terasa kelu, bersama sakit yang menjalar ke seluruh nadi.

Hari itu, kala mentari beranjak menjemput senja. Aku memenuhi panggilan mbak MRku di rumahnya. Sebelumnya aku yang telah lama pulang ke solo karena masa studiku telah selesai, satu paket amplop besar dihantarkan Pak Pos. Beberapa hari sebelumnya mbak MRku mengirimkan pesan singkat di HP bahwa ada biodata ikhwan untukku. Bukan hitungan yang singkat, sudah hampir satu tahun yang lalu ku memasukkan biodata pada MRku. Meski tak begitu kaget dengan kiriman itu, hati ini dag dig dug tak karuan. Perlahan dengan sangat hati-hati, ku buka amplop coklat besar itu. Ternyata berisi satu bendel biodata plus photo full body dan photo close up sang ikhwan.

Mulai ku perhatikan huruf demi hurufnya, sebuah nama terpampang jelas “PRATAMA KURNIAWAN” seorang entrepreneur muda yang sedang merintis bisnisnya. Jelas tak asing lagi bagiku, wajahnya begitu familiar. Aku dan dia memiliki almamater yang sama. Beda tingkat, fakultas dan jurusan, dia FISIPOL 05 dan aku FMIPA 06. Aku mengenalnya saat kita sama-sama aktif di lembaga dakwah kampus universitas. Meski beda bidang, kita kerap berinteraksi karena kita sama-sama pengurus inti. Dia berusia 2 tahun lebih tua dariku. Figurnya yang cool dan termasuk dalam daftar ikhwan shalih. Yaa, di mata ku dia tak masuk dalam golongan ikhwan Geje seperti yang teman-teman sebut, untuk menggambarkan ikhwan yang terlalu cair dalam berinteraksi dan seringkali alay bahkan seorang kawan menyebutnya JPA [jenggot penipu akhwat].

Kembali lagi pada biodata sang ikhwan, setelah aku baca dengan teliti dan seksama aku sampaikan pada ibu beserta biodata sang ikhwan. Ibu mulai membacanya satu persatu.

“Rara yakin?”  Tanya ibu.

“Menurut Ibu gimana?”, kataku, balik bertanya.

“Ya, ibu siy setuju-setuju aja, yang penting kamunya cocok. Tapi di istikharahkan dulu, kamu pas ngga. Nikah itu bukan untuk sehari dua hari. Bukan hanya menyatukan dua orang saja, tapi dua keluarga, dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda pula. Dipertimbangkan yang matang. Ibu nurut aja. Zaman sekarang kan banyaknya orang tua yang nurut anaknya, apa maunya, yang penting nggak melanggar agama”, jawab ibu penuh nasihat.

“Nanti Rara pikir-pikir dulu Bu”.

Semalaman ku tak bisa tidur. Bayangnya hadir menghampiri, tak ada alasan buat ku menolaknya. Dia tipeku banget. Shalih, sudah lulus, sudah berpenghasilan, bersahaja. Meski begitu aku tak melewatkan istikharahku. Dalam membuat keputusan, apalagi keputusan besar, kita harus senantiasa melibatkan Allah. Setelah beberapa malam istikharah, bermunajat padaNya. Ya Rabb…Sang Penggenggam Jiwa, bila ia adalah jodoh hamba maka dekatkanlah hamba dengannya dengan cara yang baik, namun jika dia bukan jodoh hamba maka jauhkanlah hamba dengannya dengan cara yang baik pula. Dan berilah pengganti yang terbaik dari Mu yaa Allah.

Doa itu tak pernah luput dari rangkaian doaku selepas shalat.

“Gimana dhe tentang proposal biodata ikhwan itu?”, sms dari Mbak MRku.

“Insya Allah saya siap ta’aruf mbak”. Jawabku

“Alhamdulillah. Nanti waktu dan tempatnya mbak kabari lagi”. Balas mbak MR.

“Nggih mbak, syukron”.

Selang berapa lama kemudian mbak MRku mengabari soal waktu dan tempat kita ta’aruf. Tibalah waktu yang ditentukan. Hari sedang tak bersahabat, senja itu ditemani rintik gerimis. Tepat setelah shalat Ashar dan berpakaian rapi aku meluncur menuju tempat yang disepakati. Sesampainya di sana aku mendapati mbak MR sedang mempersiapkan suguhan, sang ikhwan belum datang rupanya. Perlahan pun aku mulai membuka perbincangan ringan dengan mbak MR. Aku mengaku bahwa aku grogi, hatiku dag dig dug dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan saat baru pertama kali menerima biodatanya. Aku pun diminta mbak MR untuk biasa aja, menghela nafas menghilangkan kegugupan itu. Hal ini wajar dialami seorang akhwat yang akan berta’aruf. Perlahan mbak MR mulai menenangkanku.

Alhamdulillah ta’aruf berjalan lancar. Beberapa hari setelah ta’aruf aku dikabari MRku bahwa sang ikhwan setuju untuk melanjutkan proses. Ia akan mengkomunikasikan dengan keluarganya. Aku pun kembali mengkomunikasikan dengan keluargaku.

Selesai menyiapkan makan siang, Menjelang Zhuhur di hari senin, HPku berbunyi tanda sms masuk.

“Assalamu’alaykum, mohon doa teman-teman semua untuk kesembuhan Akhi Pratama Kurniawan yang mengalami kecelakaan kemarin. Sekarang dirawat di RS Sardjito, kondisinya kaki kirinya patah dan gegar otak ringan. Sampai sekarang belum sadarkan diri”.

Astaghfirullah…Seketika tubuhku lemas, nama itu adalah orang yang belum lama ini satu forum bersama. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa. Semoga tidak terjadi apa-apa. Dengan langkah gontai aku berjalan menuju meja telepon, ku hubungi teman dekatku. Aku menanyakan kebenaran berita itu, dia pun tak mengelak. Hal ini benar adanya, sekarang kondisinya koma. Aku benar-benar tak percaya. Perlahan air mata ku mengalir membasahi pipi. Bayanganku melayang pada proses ta’aruf bersamanya beberapa waktu yang lalu. Aku shock, ternyata dia mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulangnya ke kampung halamannya, kemungkinan besar kepulangannya itu berkaitan dengan proses ta’aruf kita, dia akan meminta persetujuan orang tuanya.

Seindah apapun rencana kita, skenario Allah lah yang terindah. Aku pun teringat dengan doa yang kerap menghiasi lantunan munajat pada Nya. Ya Rabb…inikah jawaban-Mu?? Bukankah hamba meminta bila memang bukan jodoh hamba, jauhkan dengan cara yang baik? Apakah ini cara terbaik-Mu ya Allah?? Mata ini tak mampu lagi menahan air mata yang berlinang deras. Ya Allah hamba ikhlas dia bukan jodoh hamba, tapi bukan seperti ini. Hamba ikhlas dia dengan yang lain bila memang bukan jodoh hamba, tak perlu melewati takdir ini. Astaghfirullah…apa yang aku pikirkan, mungkin inilah yang terbaik.

Aku menatap wajahnya yang tertutup, leher dan badannya dibalut rapat, kakinya pun tak luput dari balutan coklat. Saat aku dan teman-teman datang menjenguk di hari ketiga dia dipindahkan ke Rumah Sakit khusus tulang. Kondisinya masih seperti apa yang digambarkan, masih koma dengan patah tulang dan gegar otak ringan. Ya Allah, berilah ia kesembuhan…hamba benar-benar ikhlas kalaupun dia bukan jodoh hamba.

Satu bulan berlalu pasca kecelakaan yang menimpanya. Kecelakaan itu merenggut sebagian ingatannya, bahkan kabar terakhir yang ku dengar, ia tak ingat kini telah bekerja dan pindah kontrakan. Ia hanya mengingat bahwa dirinya masih kuliah dan kos di dekat kampus. Oh Tuhan, apakah dia pun lupa telah berproses dengan ku?? Hanya tanya tanpa aksi, aku tak mampu menanyakan hal itu, bahkan sama murabbiku. Waktu terus berlalu, bulan berikutnya aku mendengar sahabat dekatku bercerita bahwa dirinya melihat sang ikhwan dan keluarganya sedang makan malam di sebuah restaurant. Kali ini yang membuatku shock, kaget tak percaya, ada seorang akhwat di tengah keluarganya. Dan akhwat itu tak lain adalah adik kelasnya, tentu saja aku mengenalnya karena dia adalah stafku di LDK.

Ya Allah, ya Rabb… apa lagi ini, adik kelasnya ternyata dekat dengan ayah sang ikhwan sejak dia dan teman-teman satu fakultasnya mengunjunginya, saat sang ikhwan di rumah sakit. Bahkan Ayahnya mengira bahwa dialah akhwat yang dimaksud anaknya sebelum kecelakaan itu terjadi. Ternyata sebelum tragedi kecelakaan itu sang ikhwan menelpon ayahnya dan mengutarakan maksud bahwa dia akan menikahi seseorang. Namun Allah berkehendak lain, kecelakaan itu mengubah semuanya. Hatiku bimbang, entahlah. Tak ada kabar apapun dari murabbiku tentang sang ikhwan. Proses ini menggantung begitu saja. Aku ingin kejelasan, itu saja. Terlepas dari kondisi sang ikhwan yang masih belum pulih kaki dan ingatannya.

Aku hanya berpasrah pada Mu ya Rabb…Sang Maha Pembolak balikan hati, labuhkanlah hatiku pada muara cinta-Mu. Hamba ikhlas dengan segala skenarioMu. Lapangkanlah dada hamba dengan karunia Iman.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22346/ikhlas-dia-bukan-untukku/#ixzz23arIlDxQ

About yumiyulanda
If something went wrong, don't be sad...it's just Allah's way to forgive your sins...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: