Air Mata untuk Seorang Ayah

Air Mata untuk Seorang Ayah

15/6/2012 | 25 Rajab 1433 H | Hits: 2.469

Oleh: Mubaroq Dinata


Kirim Print

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Sesaat setelah menjelaskan tujuanku, kubuka wawancara dengan pertanyaan dasar terkait penghasilan. “Penghasilan tidak pasti dik. Kecil, hanya sekedar menyambung hidup dari hari ke hari. Untuk membeli beras, saya upahan di ladang orang, jadi kuli tani, ikut bantu-bantu panen orang yang punya ladang, dan sebagainya dik”. Jawab ibu di hadapanku respek.

“Suami kerja di kota dik. Kerjanya kuli angkut barang, kadang juga kuli bangunan, ya, tidak pasti gitu di kota …” Seketika keadaan hening. Ibu itu terdiam dingin. Mendengar keterangan ibu ini, Aku pun menerawang kejadian siang itu.

***

Di tengah kepadatan orang yang berlalu lalang, tiba-tiba menyeruak suara teriakan: “Maling… maling…!!!” Kulihat seseorang berteriak-teriak lantang sambil menunjuk lelaki yang mencoba berlari di tengah orang-orang yang berdesak-desakan melewati gang sempit pertokoan. Tepat di depanku, lelaki yang diteriaki itu terhenti larinya, tertahan badan orang-orang yang berdesakan, dan seketika itu juga kulihat orang-orang di sekelilingku berebut memukuli lelaki itu saling berjibaku, menendang dan meninju. Saat itu aku hanya terdiam melihatnya. Dan yang aku ingat, wajah lelaki itu saat ia berteriak minta ampun, wajahnya memelas penuh mengiba. Sesaat setelah diamankan seorang tokoh pasar, kudengar keterangan bahwa ia kuli yang sehari-hari biasa bekerja di pasar itu. Ia tertangkap basah hendak mengutil sembako di sebuah toko yang sedang ramai pembeli.

***

Tiba-tiba wajah ibu ini langsung sendu, dan dengan lirih ia melanjutkan kalimatnya, “Ini sekarang kan dua minggu lagi mau lebaran dik, tapi belum pulang juga, ga ada kabarnya. Padahal biasanya beberapa minggu sekali pulang membawakan uang”. Kulihat mata ibu ini mulai sembab, sedangkan anak balita di pangkuannya hanya memandangi ibunya tak mengerti. Aku pun terdiam, merasa ikut menanggung beban deritanya.

“Itu dik, foto suami saya.” Suara ibu itu semakin lirih dan sendu, menahan isak tangisan. Aku pun menengok ke dinding geribik, tertempel di sana foto tanpa bingkai, tampak gambar seorang lelaki sedang menggendong bayi. Seketika aku tercekat, bayangan wajah lelaki di pasar siang itu berkecamuk di benakku. Aku tertegun. Tak terasa, air mataku mengalir perlahan, hangat melewati pipiku.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21103/air-mata-untuk-seorang-ayah/#ixzz23hH8yIoc

About yumiyulanda
If something went wrong, don't be sad...it's just Allah's way to forgive your sins...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: