Belajar dan Menghafal al-Qur’an itu indah…

Belajar dan Menghafal al-Qur’an itu indah…

Belajar dan menghafal al-Qur’an itu indah, mudah dan berpahala. Itulah yang dirasakan orang yang sudah merasakannya. Coba simak ucapan Sayyid Quthb Rahimahullah:“Hidup di bawah naungan al-Qur’an itu adalah sebuah kenikmatan. kenikmatan yang tidak ada yang merasakannya kecuali mereka yang yang merasakannya.”

Pengakuan dan perasaan beliau ini serta banyak para penghafal al-Qur’an bukanlah omong kosong belaka. Semakin banyak hafalan seseorang, maka akan semakin enak dan asyik ia menikmati jamuan Allah itu. Dan itulah yang mereka rasakan saat ini..

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa kaum muslimin merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya sekarang?? Atau mungkin bukan rasa cukup dirasakan. Bisa jadi, dia malah tidak mau tahu apabila ditanya tentang hafalan al-Qur’annya. Saya mau bertanya: kenapa sih mesti hafalan? Bukankah sudah cukup kita bisa sholat dengan ayat-ayat yang ada dan beribadah ala kadarnya? Kenapa lagi selalu dirangsang agar lebih membekali diri dengan hafalan?

Mari kita telaah lebih jauh..Sebelum berbicara panjang lebar tentang urgensi kita mempelajari dan menghafal al-Qur’an, buat apa kita menjalani ibadah kalau wawasan dan pengetahuan kita tentang ibadah tidak bertambah dan meningkat?. Bukankah Allah dan Rasulullah selalu menasehati kita agar selalu meningkatkan kualitas diri dan keilmuan tentang Islam ini?

Apabila kita sadar bahwa pemahaman kita terhadap ibadah secara umum masih sangat minim dan perlu ditingkatkan lagi, mengapa sebagian kaum muslimin tidak begitu peduli dengan kewajiban itu? Mereka berpikiran, bahwa kewajiban menjalankan agama cukup pada ibadah-ibadah ritual saja atau cukup dengan menghafal rukun Islam yang lima dan rukun Iman yang 6. Selebihnya, jika ada kewajiban lain dan tuntutan belajar, itu tidak terlalu penting menurut mereka. Alasannya, Allah tidak membebankan suatu jiwa melainkan sesuai dengan kemampuannya. Loh!! Memangnya sudah seberapa besar kemampuan yang sudah dikerahkan untuk itu? Bisa jadi sangat minim dan atau tidak ada sama sekali…

Syubuhat (pemahaman yang keliru) lain adalah: Saya pernah mendengar bahwa sebagian kaum muslimin sudah cukup dengan pemahaman Islam yang ada karena tidak terlalu urgen menambah wawasan lain yang lebih perlu. Malah ada yang bilang: ‘Mereka cukup tahu yang menjadi kebiasaan umum saja tanpa perlu mengetahui banyak hal-hal yang berhubungan dengan agama yang demikian banyak. Sebab, seandainya saja mereka tahu bahwa sebagian besar kewajiban dalam agama itu berisi masalah kewajiban menjalankan ini dan itu, meninggalkan ini dan itu atau menjauhi ini dan itu, maka mereka kaan malas untuk mendalami agama. Bahkan lebih merasa cukup dan aman dengan pemahaman yang ada seperti rukun Islam dan rukun Iman di atas.’

Seolah jika mereka tahu isi agama secara detail, ruang gerak dan kebebasan hidup mereka serba terbatasi. Dan inilah yang membuat mereka merasa ‘aman’ dengan pengetahuan yang minim. Sungguh sangat jauh dari perintah Islam yang sebenarnya!!!

Lalu, apa kaitannya dengan kewajiban menghafal al-Qur’an secara rutin dan intens? Perlu diketahui bersama bahwa kegiatan menghafal al-Qur’an secara terencana, terjadual dan dengan pembimbing merupakan suatu kebutuhan bagi kita, setiap muslim. Ketika kita bisa konsentrasi menghafal al-Qur’an, maka rangsangan-rangsangan untuk mendalami isinya lebih jauh lagi akan muncul. Dan akfititas-aktifitas lainnya pun akan terbuka. Seperti mengenal hukum tajwid yang benar, menerjemahkan ayat yang dihafal, menghayati isinya yang amat dalam, membuka jendela dunia dan historis dunia sampai membuka pikiran kita untuk mengenal kehidupan ini.

Dan itu tidak mungkin kita dapatkan kecuali ketika kita menghafal al-Qur’an. Lagi pula ketika seorang muslim sudah melakukan tahapan mempelajari al-Qur’an, menghafalkan ayat-ayatnya dan menghubungkan kegiatan dunianya dengan al-Qur’an secara baik, maka dia akan memperoleh hakikat interaksi dengan al-Qur’an itu..

Nah, disitulah inti dari sebuah kewajiban menghafal bagi setiap muslim dalam menyempurnakan agamanya ini.

Memang segala sesuatunya harus segera kita mulai dari sekarang. Seringkali jika kita sudah memahami hal ini, ada saja kendala untuk melaksanakannya. Entah itu masalah waktu lah, pekerjaan lah, keluarga lah, mood lah dan segudang alasan lainnya yang sebenarnya tidak perlu menjadi alasan mengelak dari kewajiban diri kita terhadap al-Qur’an ini.

Seandainya saja kita mengetahui berita terbaru yang terjadi dengan kaum muslimin dan anak-anak di bumi perjuangan Palestina, pastilah kita akan meneteskan air mata keharuan, duka dan penyesalan. Dalam sebuah postingan teman MP beberapa pekan yang lain disebutkan bahwa kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin di Palestina setelah perang melawan Zionis Israel adalah back to al-Qur’an. Mereka tidak larut dalam kesedihan dan masa depan yang tidak pasti akibat perang dunia itu.

Mereka sadar bahwa hiburan hidup mereka yang sebenarnya setelah keislamannya adalah berinteraksi dengan al-Qur’an dan ayat-ayatnya. Dan inilah yang membuat ‘panas’ bangsa Israel. Dan itu pula yang membuka mereka sangat takut bangsa Palestina akan bangkit kembali untuk meneruskan perjuangan membela Islam di tanah mereka itu..Padalah kondisi hidup mereka sudah tidak menentu..

Lalu bagaimana dengan kita di sini?? Kondisi damai, stabil dan penuh kemudahan demikian tersedia..

Mari kita introspeksi diri..

About yumiyulanda
If something went wrong, don't be sad...it's just Allah's way to forgive your sins...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: