Tukang Bakso Naik Bisa Bersedekah, Qurban, Hajj

sebuah kisah tentang sepak terjang kehidupan anak manusia yang bisa dibilang sangat sederhana (yupz kisah ttg seorang tukang bakso) namun walaupun beliau seorang sosok yg sederhana tapi memiliki mindset yang menurut saya keren,Semua itu dilakukan karena kecintaan beliau pada Rabb-Nya. Semoga bisa menginspirasi kita semua …Happy Reading yaaa🙂

============================================================

 

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

 

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor….. terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?

 

“Mauuuuuuuuu..”, secara serempak dan kompak anak-anak asuhku menjawab.

 

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.

 

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

 

“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang-uang itu pisahkan? Barangkali ada tujuan?”

 

“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain / amal ibadah, dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman seorang muslim”.

 

“Maksudnya…?”, saya melanjutkan bertanya.

 

“Iya Pak, kan agama dan islam menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Sengaja saya membagi 3 tempat, dengan pembagian sebagai berikut :

 

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.

 

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

 

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

 

Hatiku sangat… sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

 

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : “Iya tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…? termasuk memiliki kemampuan dalam biaya…?

 

Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Allah kalau bicara soal Rezeki karena kami sudah diberi Rizky. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat..? (smart answer :-bd)

 

Menurut saya definisi “mampu” adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita kok.

 

“Masya Allah… sebuah jawaban dari seorang tukang bakso”.

 

Sahabat…..Cerita perjalanan spiritual ini sangat sederhana dan jadi inspirasi. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Aamiin……..

====================================================

 

Sebuah jawaban yang tdk hanya elegan dari seorang tukang bakso namun menurut saya jawaban seorang mu’min yang cerdas. Karena beliau tahu memposisikan dirinya dihadapan Rabb-Nya dan tahu juga cara  memperlakukan Rabb-Nya, tercermin sekali bahwa beliau ingiin sekali meraih kasih sayang Allahu Rabbul ‘alamiin

 

Nice Story di suasana Idul Adha yang berkah dan teduhh sekali pagi ini (yupz Jkt dua hari ini adeem sekali, semoga seadem hati2 kita selalu ya)🙂

 

Selamat Idul Adha 1433 H

Semoga Allah senantiasa meluruskan keikhlasan kita

Semoga Allah menerima persembahan cinta kita untukNya

Buat yang tahun ini belum berkurban

Semoga Tahun depan Allah memampukan kita

Dan buat yang sudah semoga tahun depan dapat berkurban kembali

Karena apa ? Karena Kurban adalah kebutuhan Iman

 

Allahumma Yassirna …. Aamiin ya Mujiib🙂

 

About yumiyulanda
If something went wrong, don't be sad...it's just Allah's way to forgive your sins...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: