a Letter for My Future Husband

a Letter for My Future Husband

10 Okt

“PERNIKAHAN”

Ketika mendengar kata tersebut, pikiran masing-masing orang melambung ke tempat yang berbeda. Begitu pun dengan saya. Kata tersebut membawa saya pada sebuah harapan yang indah, pengutuhan keimanan manusia, dan salah satu sarana ibadah kepada Allah yang dinanti-nanti kehadirannya.

Berhubung calonnya belum ada (hehehe..) saya akan membuat sebuah surat. Dimana surat ini kelak akan menjadi saksi, saat Arsy Allah terguncang dalam ijab qabul yang sah.

A Letter for My Future Husband

Wahai pangeran Surgaku di masa depan.. Ketahuilah, aku ingin menemuimu di waktu yang tepat menurut-Nya. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak berlama-lama.

Ketika Allah menghantarkanmu dengan cara ajaib-Nya, akan kuanggukkan hatiku dalam diam. Itulah tanda setujuku atas keberanianmu. Bukan, bukan keberanianmu menyatakan cinta padaku. Melainkan keberanianmu nyatakan diri pada papaku, bahwa kau ingin memuliakanku..

Tapi maaf.. papaku cukup tegas. Aku harap kau punya mental untuk menghadapi beliau. Aku yakin detik-detik yang mengiringi langkahmu menuju rumahku pertama kali akan membuat jantungmu terpompa tak teratur. Tapi nikmatilah.. sebab itulah detik-detik yang aku ingin kau ceritakan pertama kali padaku seusai kata sah membahana dalam singgasana-Nya atas penyatuan kita.

Oh iya, mamaku baik sekali. Beliau pasti senang menemuimu yang berniat mulia. Tapi ingat.. jadilah dirimu sendiri, sebab mamaku memiliki feeling yang sangat kuat, pasti ketahuan. Jadilah apa adanya dirimu, dan izinkan beliau menilaimu dari hatinya yang paling tulus.

Aku akan dengan sabar menunggumu bercakap-cakap  dengan kedua orangtuaku. Dan mungkin aku akan sesekali mencuri pandang ke arahmu. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengabadikan moment penting itu dalam ingatanku. Meski hanya beberapa detik saja.

Bila izin papa sudah kau dapatkan, aku hanya bisa menggumamkan alhamdulillah dan bismillah. Sebab seketika itu khitbah telah jatuh. Dan aku tak dapat lagi didekati oleh siapapun. Setelah itu kita akan menjalani bulan-bulan mendebarkan yang jaraknya adalah dekat. Ketahuilah kegembiraan besar tengah meliputi diriku meski mungkin aku tidak mengekspresikannya.

Wahai pangeran surgaku di masa depan.. sungguh aku tak tau siapa dirimu, darimana asalmu, dan bagaimana kita bisa bertemu. Mungkin kita sudah kenal sebelumnya, atau bahkan tidak saling mengenal sama sekali. Aku hanya percaya keindahan skenario Allah. Semoga kita dipertemukan dalam jalan yang diridhoi-Nya.

Bila saat itu tiba. Saat dimana semua malaikat berkumpul menjadi saksi dari penyatuan kedua insan yang ingin mengutuhkan iman, aku harap kau hapal kalimat penting itu. Ya, ijab qabul. Penyerahan tanggung jawab atas diriku dari papaku kepada dirimu. Tegas dan lantanglah dalam pernyataannya, agar bisa menutupi degupan jantungku yang menyeruak.

Tepat saat kau berjabat dan ucapkan pernyataan, kau tengah mengguncang Arsy Allah. Betapa gagahnya dirimu, dan betapa aku diliputi haru. Setelah itu, izinkan salamku pada punggung tanganmu menjadi sentuhan pertama yang mengawali bahtera kita. Meneteskan air mata gembira dipadu peluk erat yang dirindu bersama kedua orangtua kita. Lalu mengamini setiap doa tulus yang terucap dari kerabat serta sahabat.

Aku akan menuntunmu menggiring waktu bernostalgia dalam kisah perjuanganmu melawan ketakutanmu, gugupmu, dalam setiap prosesnya. Dan izinkan aku memujimu. Tak terbayangkan betapa bahagianya saat kata cinta meluncur dalam kehalalan yang kita perjuangkan. Allah pun akan tersenyum bersama kita.

Merajut asa bersamamu. Menyusun langkah nyata dan berdiskusi denganmu. Kelak kapal rumah tangga ini akan kau nahkodai, dan aku akan selalu berusaha menjadi awak setiamu. Dikaruniai anak-anak yang shalih dan shalihah. Mengumpulkan setiap detik menjadi amal dan berkah, untuk hidup yang lebih kekal.

Sampai bertemu nanti, pangeran surgaku di masa depan..

Salamku.. Sumber: http://febriantialmeera.wordpress.com/2012/10/10/a-letter-for-my-future-husband/

Surat ini akan saya lisankan pertama kali di hadapan suami kelak. Kapan? Siapa orangnya? Suka-suka Allah.. saya percaya pada pilihan-Nya

 

About yumiyulanda
If something went wrong, don't be sad...it's just Allah's way to forgive your sins...

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: