Ketika Si Bintang Al Quran Meraih Sanad Rasulullah

Ketika Si Bintang Al Quran Meraih Sanad Rasulullah

5/04/2011 08:24:00 AM | Posted by islamedia

 

Islamedia – Sanad merupakan salah satu kelebihan umat ini, demikian dikatakan oleh seorang ulama bernama Abu Ali Al Jiyyaaniy. Berangkat dari kecintaan yang mendalam pada Al Quran, Faris Jihady Hanifa yang juga putra kedua dari Ustadz Mutammimul Ula, SH ini berhasil meraih sertifikat Sanad Syathibyah dalam bacaan (qira-ah) Hafhs dari Aashim. Tidak lebih dari tiga bulan setelah dikurangi dengan berbagai waktu jeda, ujian, libur semester, sakit dan lain-lainnya, sehingga kalau diakumulasi secara total, tidak lebih dari satu bulan ia selesai menuntaskan setoran hafalannya di hadapan Syeikh Hasan Awaajiy, di sebuah masjid mungil di bilangan Kompleks Perumahan Dosen King Saud University, Riyadh. Berita gembira ini, terjadi tepatnya pada hari Senin sore menjelang maghrib 23 Rabi-ul Akhir 1432 H lalu. Suasana begitu mengharukan, saat sang Syeikh menyerahkan sertifikat tersebut kepada Akh Faris sembari memberikan taushiyah, kiranya ia bisa menjadi salah seorang penjaga Kitabullah di tanah Nusantara.

Perlu diketahui, bahwa Akh Faris yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah di King Saud University ini -yang beberapa hari sebelumnya juga terpilih menjadi ketua Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia cabang Riyadh- menjadi rawi (pemegang sanad) pada urutan ke 31. Syeikh Hasan pada urutan ke 30, dan beliau mendapatkan sanad ini dari dua orang Syeikh yakni Dr. Nabil bin Ismail aalu Ismail di Mekkah (urutan 29) dan dari seorang Syeikh lagi. Dr. Nabil mendapatkan sanad ini dari Syeikh Bakri At Tharabiisyi di Syria (urutan 28), yang pada saat ini adalah pemegang sanad tertinggi di dunia (sanad terdekat dengan Rasulullah).

Dalam beberapa hari ke depan, Akh Faris yang juga salah satu dari 10 Bersaudara Bintang Al Quran (sebuah buku inspiratif tentang kisah nyata sebuah keluarga yang membesarkan anak-anak mereka menjadi hafiz Al Quran dan berprestasi) juga berencana akan mengambil Sanad Thayyibatun Nasyr dalam bacaan (qira-ah) Hafhs dari Aashim. Perbedaan prinsipil dari kedua sanad (thariq) ini adalah dalam hal bacaan maad (panjangnya bacaan), khususnya maad jaa-iz munfashil. Sukses selalu buat Akh Faris, semoga semakin membawa keberkahan untuk sesama khususnya seluruh Bangsa Indonesia. Dan bagi yang belum, semoga bisa meniru dan mengikuti jejaknya sembari berharap semoga Allah memudahkan dan menguatkan tekad kita untuk semakin dekat dan mencintai Al Quran, amiin. (pks-arabsaudi.org/mye)

Advertisements

Teman Dalam Penantian

Resensi Buku

2/12/2011 | 07 Muharram 1433 H | Hits: 4.646

Oleh: Jaufa


Judul Buku: Teman Dalam Penantian
Penulis: Mas Udik Abdullah
Penerbit: Pro-U Media – Yogyakarta
Cetakan: 1, 2010
Tebal: 188 Halaman

Ya Allah, Jika jodohku masih jauh, maka dekatkanlah
Jika sudah dekat, maka satukanlah kami dalam ikatan suci
Dan jika ini merupakan ujian buatku, damaikanlah hatiku dengan ketentuan-Mu

Cover Buku “Teman dalam Penantian”

dakwatuna.com – Sebait doa indah, mengantar kita menyibak helai demi helai buku mungil ini. Buku yang dibuat atas dasar cinta dan empati teramat dalam sang penulis, mengenai fenomena jodoh dan bagaimana seorang muslim yang dalam masa penantian seharusnya menyikapinya.

Persoalan jodoh memang bukan perkara gampang. Ketetapan Allah SWT berada di atas segala-galanya. Dan masalah menikah bukan hanya sekedar bersatunya dua insan, namun menjadi sempurnanya dien seorang mukmin. Sebuah sunnatullah yang begitu dianjurkan oleh tauladan kita, Nabi Muhammad SAW. Sebuah ikrar suci yang Allah janjikan dapat menenteramkan hati anak Adam. Fitrah manusia yang memang dibekali cinta dan diciptakan berpasang-pasangan, seperti tertuang dalam:

“Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 49)

Maka siapa yang tidak mendambakannya? Siapa yang tidak ingin menyegerakannya? Terkhusus bagi para jomblo-ers yang sudah berada di usia kritis. Di saat semua persiapan di rasa sudah cukup, baik lahir maupun batin. Namun jodoh yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Waktu demi waktu bergulir, dalam penantian yang tak jelas kapan akan berakhir. Akankah berakhir di dunia? Atau nanti, baru akan di beri ketika berada di surga-Nya?

Fenomena galau dalam masa penantian sudah bukan hal yang asing lagi, dan tak jarang para penanti ini terjebak dalam pikiran-pikiran yang melemahkan iman. Bahkan tak jarang yang berputus asa hingga akhirnya menyerah. Tak jarang ada yang menggadaikan keshalihannya karena sudah tidak kuat lagi hidup sendiri. Berangkat dari kekhawatiran inilah, Mas Udik Abdullah menuangkan nasihat panjangnya dalam buku Teman Dalam Penantian. Sebuah wejangan penuh makna dari seorang Kakak dan seorang anak manusia, yang juga pernah berada dalam masa penantian. Tiga tahun waktu yang diperlukan untuk meramu buku ini, hingga benar-benar bisa menjadi sahabat setia dan penguat bagi setiap insan yang tengah menanti datangnya sang pujaan hati.

“Jika kebahagiaan ibarat sinar matahari dan kesedihan ibarat rintik air hujan. Sungguh kita memerlukan keduanya untuk  melihat indahnya pelangi.” (63)

Sabar dan berbaik sangka kepada Allah, inti utama dari pesan yang ingin disampaikan oleh Mas Udik. Karena bagaimanapun, Allah lah yang paling tahu, yang terbaik bagi umatnya. Allah yang paling paham, atas skenario yang telah ditulis-Nya untuk kebaikan setiap umat. Tidak ada sesuatu pun yang Allah ciptakan sia-sia, selalu ada hikmah dari segala kehendak-Nya.  Dan satu yang harus diyakini oleh setiap insan yang menunggu, bahwa cepat atau lambat, jodoh itu akan datang.  Fatimah RA, wanita penghulu surga menikah pada usia ke-40 tahun dan Ummu Aiman ibunda Usamah bin Zaid menikah pada usia yang ke-50 tahun. Tak ada keraguan dari keshalihan mereka, bahkan Fatimah RA merupakan sosok business women yang disegani.  Namun Allah punya ketetapan-Nya sendiri.

Turut diceritakan dalam buku ini, seorang akhwat yang ta’aruf sebanyak 25 kali dan kesabarannya berbuah setelah ta’arufnya yang ke 26. Bagaimana dengan para penanti lainnya? Sudah berapa kali ta’aruf yang dijalani? Dan mengapa sudah berputus asa bahkan sampai menghujat Allah tidak adil? Padahal boleh jadi, apa yang baik menurut kita, tidak baik menurut-Nya. Mengapa tidak bisa perpasrah diri dengan apa yang diinginkan-Nya? Mengapa justru memberi ruang, bagi setan-setan untuk memainkan iman?

Seolah paham dengan gejolak yang dialami para lajang-ers, Mas Udik membocorkan beberapa tips  untuk mengurangi keresahan hati, yakni dengan:

1.Mendekatkan diri kepada-Nya;

“Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati, melimpahkan Kasih Sayang-Nya dengan menganugerahkan nikmat jodoh pada keduanya berkat ketulusan hati mereka dalam meningkatkan iman dan takwa,” (98).

2. Memperbanyak dzikir;

“Dengan memperbanyak dzikir hati akan dilapangkan oleh allah, sehingga tidak lagi terhimpit oleh rasa sesak dengan prasangka yang bukan-bukan kepada Allah,” (103).

3. Memperbanyak doa;

“Doa mampu membesarkan jiwa, menumbuhkan harapan, menghilangkan gelisah dan menenangkan batin. Dan dengan doa pula, akan ada jalinan mesra dengan Sang Pemilik alam raya,” (108).

4. Mendirikan shalat ketika beban terasa berat;

“Setiap keresahan datang biasanya menjadi berkurang bahkan hilang segala kegundahan hati,” (122)

5. Silaturrahim;

6. Bersyukur karena nikmat yang diterima lebih banyak, dari pada hanya berfokus pada jodoh yang tidak kunjung datang;

7. Memperbanyak baca Al Quran;

“Mulailah dengan rasa rindu pada Allah, sehingga bacaan menjadi terasa syahdu di hati. Insya Allah hati menjadi tenang dan tenteram,” (138).

8. Perdalam ilmu;

“Gembirakan hatimu, boleh jadi jodoh yang datang terlambat merupakan jalan untuk menaikkan derajatmu di sisi Allah,” (140)

9. Menghibur diri dengan makanan;

Bagian akhir buku ini, kaya dengan nasihat tentang bagaimana memanfaatkan waktu yang dimiliki dalam masa penantian, dan merapikan kembali niat kita dalam menikah. Apakah kita menikah agar kita senang, atau agar Allah senang? Jika yang kita ingin Allah senang, maka apapun ketetapannya seharusnya membuat kita bahagia dan tetap optimis.  Kriteria-kriteria yang selama ini mungkin menjadi penghalang datangnya jodoh, sudah saatnya diselaraskan dengan tujuan utama menikah. Dan yang terpenting tetap merawat dan meningkat pesona diri, lahir dan batin.

Sayangnya, sejumlah kisah yang hadir dalam buku ini, kurang dikupas begitu dalam. Mungkin Mas Udik tak ingin ber-mellow-mellow ria atau mengeksploitasi pengalaman lika-liku pencarian jodoh nara sumbernya. Namun kisah yang utuh dan menyentuh, sebenarnya bisa jadi kekuatan buku ini dan sumber kekuatan bagi para pembacanya, yang bisa diprediksi mayoritas di antaranya adalah akhwat.

Overall, buku ini sangat layak untuk dijadikan teman dalam penantian yang memang acap kali menguji iman. 🙂
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/16613/teman-dalam-penantian/#ixzz1vsbcl1sP

 

***TERNYATA sakit itu Mudah***

***TERNYATA sakit itu Mudah***


Selama 5 menit MARAH, imun sistem tubuh kita depressi 6  Jam.

Dendam, menyimpan kepahitan, imun tubuh kita mati. Disitulah bermula awal segala penyakit. STRESS, Kolesterol tinggi, pemicu Darah Tinggi, Jantung, rhematik, arthritis, Stroke (perdarahan/penyumbatan pembuluh darah).

… Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN.

Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.

Jika MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).

Jika sering mengalami KEBINGUNGAN, maka kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.

Jika sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yang BERLEBIHAN, maka kita akan mudah trkena penyakit GINJAL.

Jika suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).

Jika kita mudah EMOSI dan cendrung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.

Jika kita sering merasa APATIS (tidak pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.

Jika sering MENGANGGAP SEPELE smua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES.

Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (memori dan kontrol fungsi tubuh berkurang).

Jika sering BERSEDIH dan merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit
LEUKEMIA (kanker darah putih).

Mari kita selalu BERSYUKUR atas segala perkara yang telah terjadi,karena dg bersyukur, maka “hati” ini menjadi BERGEMBIRA dan menimbulkan ENERGI POSITIF dalam tubuh utk mengusir segala penyakit-penyakit tersebut diatas.

Sumber: Buku “The Healing and Discovering the Power of the Water” by Dr. Masaru Emoto.

Semoga bermanfaat….