Ramadhan Bulan Doa

Ramadhan Bulan Doa

7/8/2012 | 19 Ramadhan 1433 H | Hits: 563

Oleh: Sukeri Abdillah


Kirim Print

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Assalamu’alaikum Wr Wb

Doa adalah sarana komunikasi seorang insan kepada Allah sebagai Khaliq yang telah menciptakan, menjamin kehidupan, rezeki, dan juga masa depannya. Namun demikian, Allah lah yang mempunyai hak prerogatif mutlak untuk menentukan adab-adab berdoa. Termasuk juga menentukan pada momentum tempat mana sebuah doa dikabulkan Allah. Momen-momen diijabah doa di antaranya saat hujan turun, saat khatib duduk di antara dua khutbah, bahkan termasuk pada peristiwa-peristiwa tertentu Allah akan mengijabah doa seorang hamba.

Demikian halnya terkait dengan tempat. Ada tempat yang mustajab untuk seorang insan berdoa kepada Allah, seperti di Raudah Masjid Nabawi, di depan multajam antara hajar aswad dan pintu Ka’bah, bahkan termasuk di bawah talang emas di atas Ka’bah. Berdoa di tempat itu diijabah oleh Allah.

Mustajabnya doa, ada pula terkait dengan momentum dan tempat, seperti momentum wukuf di Arafah. Doa-doa yang dipanjatkan saat itu, diijabah oleh Allah. Namun, pernahkah terpikir oleh kita. Ada momentum yang tidak bergantung kepada peristiwa, tempat, waktu, melainkan semuanya Allah gabung menjadi satu. Satu bulan penuh bahkan dalam kurun satu kali dua puluh empat jam selama sebulan doa diijabah oleh Allah kapan dan di manapun seorang hamba berada.

Momentum itu adalah bulan Ramadhan. Sebulan penuh Allah membuka pintunya lebar-lebar untuk mengijabah doa seorang hamba. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 186, “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Ku, katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa hamba-hambaKu ketika ia berdoa kepada Ku. Maka penuhilah persyaratan-persyaratan dari Ku. Tetaplah beriman kepada Ku agar kalian senantiasa memperoleh kebenaran.”

Doa akan dikabulkan oleh Allah khususnya di bulan Ramadhan yang sarat dengan pintu-pintu pengabulan dari Allah. Berdasarkan ayat di atas, tentu dengan sebuah catatan bahwa doa yang sudah kita sampaikan kepada Allah tadi diiringi dengan perasaan yakin. Yakin bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita. Keyakinan ini telah Allah tanamkan dalam aturan saum yakni terkait dengan niat. Bukankah saat niat berdoa ketika bulan Ramadhan tiba malam harinya kita mengucapkan doa niat puasa diakhiri dengan Lillahi ta’ala.

Bila niat ini kuat, maka Allah pun akan menghantarkan kekuatan kita melaksanakan ibadah shaum sampai sore nanti. Demikian pun doa, dengan keyakinan yang penuh Allah akan mengijabah doa kita. Tentu saja tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.

Saya Sukeri Abdillah berzakat di Dompet Dhuafa.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22137/ramadhan-bulan-doa/#ixzz23hiTKac2

Khalifah Umar dan Mahar

Khalifah Umar dan Mahar

15/6/2012 | 25 Rajab 1433 H | Hits: 2.521

Oleh: E Hamdani


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” seorang wanita dengan penuh keberanian melontarkan pertanyaan kepada Khalifah Umar yang baru selesai berkhutbah. Wanita itu menanggapi pernyataan Umar yang melarang memahalkan mahar. Umar membatasi mahar tidak boleh lebih dari 12 uqiyah atau setara 50 dirham. Seraya menyatakan, “Sesungguhnya kalau ada seseorang yang memberikan atau diberi mahar lebih banyak dari mahar yang diberikan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pastilah aku ambil kelebihannya untuk Baitul mal.”

Muslimah pemberani itu pun kemudian mengutip ayat Allah, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu Telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (QS: an-Nisa’ [4]:20)

Khalifah Umar menyadari kekhilafannya, kemudian dengan tanpa merasa malu, ia membenarkan ucapan wanita itu dan mengakui kesalahannya. “Wanita ini benar dan Umar salah,” ucapnya di depan banyak orang.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini. Setidaknya ada tiga. Pertama, betapa Islam mengakomodasi peran perempuan. Mereka punya kesetaraan untuk mengungkapkan pendapat. Kedua, sebagai khalifah, Umar telah mencontohkan sikap legawa pemimpin dalam menerima kritikan dari rakyatnya. Umar jujur mengakui kebenaran ucapan perempuan itu meski di depan orang banyak, tanpa merasa gengsi. Ketiga, sebagai rakyat, perempuan itu merasa punya tanggungjawab meluruskan ketika pemimpinnya bersikap keliru. Dan inilah dakwah yang paling berat, menegur penguasa yang salah.

Rasulullah SAW pernah bersabda “Jihad yang utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa zhalim.” (At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21105/khalifah-umar-dan-mahar/#ixzz23hcND1ob

Antara Rasa Cinta dan Kegalauan

Antara Rasa Cinta dan Kegalauan

5/12/2011 | 10 Muharram 1433 H | Hits: 7.023

Oleh: Kesha Meisatu


Kirim Print

Ilustrasi (blogspot.com)

dakwatuna.com – Sahabat semua, kali ini kita akan membicarakan tentang cinta. Jika berbicara tentang cinta, dibahas 2 hari dua malam pun tak ada habisnya, karena kedalaman cinta itu lebih dalam dari samudra yang luas dan tingginya nilai cinta lebih tinggi dari angkasa yang membumbung. Pernah saya dengar ketika sekolah dasar bahwa cinta adalah sebuah kependekan dari C (cerita) I (indah) N (namun) T (tiada) A (arti) hehe 😀

Nah, berbicara tentang cinta ternyata cinta itu bermacam-macam dan banyak versinya mulai dari cinta orang tua pada anaknya sampai cinta manusia dengan hewan peliharaannya, dan sekarang kita akan membahas tentang cinta kita kepada lawan jenis atau intinya saya akan membahas fenomena kebanyakan remaja sekarang yaitu PACARAN.

Berbicara tentang pacaran, maka yang terbayang adalah sebuah kesenangan antara sepasang manusia yang menjalin hubungan kasih, padahal kalau di analisa secara detail ternyata pacaran justru membuat hidup kita tidak bahagia, membuat galau bahkan bisa membaut masa depan kita hancur, gak percaya?? Begini ceritanya, xixixi.

Banyak remaja pacaran dengan alasan agar aktivitas belajar dan sekolah mereka jadi bersemangat. Memang benar dengan berpacaran remaja akan menjadi senang jika ke sekolah, karena ketemu dengan pacarnya. Namun ada sebuah kisah menarik yang dialami oleh abang penulis sendiri. Pada saat abang saya duduk di kelas 12 SMA, dan memiliki wajah yang ganteng itu, berpacaran dengan seorang cewek paling cantik di sekolahnya, anggota PASKIBRAKA nasional dan anak Dokter, pokoknya nyaris perfect lah. saat ketahuan oleh ibu saya pacaran, abang saya beralasan bahwa dia berpacaran biar semangat pergi ke sekolah, dan benar abang saya semangat pergi ke sekolah, tapi bukan semangat buat belajar melainkan semangat untuk berpacaran. Dan tentunya abang saya beranggapan wanita tersebut akan setia dengannya, namun yang terjadi di luar dugaan, tujuh hari sebelum Ujian akhir, abang saya diputusin oleh pacarnya yang sangat dicintainya itu, kemudian yang terjadi abang saya menjadi galaunya bukan main, karena patah hati. Dan galau karena patah hati tidak bisa sembuh seminggu atau dua minggu bahkan bisa berbulan-bulan. Dan akhirnya gara-gara galau akibat patah hati, abang saya tidak focus ujian dan akhirnya nilainya jeblok dan SNMPTN tidak lulus sehingga dapat dikatakan pada waktu itu masa depannya terancam suram.

Itulah sebuah kisah tragis tentang cinta, dimana bila kita belum punya timing yang tepat dalam menjalin kasih yang terjadi ialah sebuah kegalauan yang menghancur luluh lantakkan hati, pikiran bahkan masa depan kita. Oleh karena itu maka yang masih menjalani kehidupan sebagai remaja atau profesi lainnya, sadarilah bahwa berpacaran itu banyak ruginya dan bila kamu seorang cowok, maka ketika berpacaran biasanya cowok paling dirugikan secara financial, bahkan mungkin ada cowok yang dia rela tidak memakai uang jajannya tiap hari dan menabungnya agar bisa weekend nan dengar pacarnya di akhir pekan, bahkan ketika pacarnya akan berulang tahun sang cowok rela menabung sampai terkumpul ratusan ribu rupiah untuk dibelikan kado pacarnya.

Namun sebuah ironinya ialah kenapa sang cowok tidak melakukan hal yang sama untuk ibunya, pernahkah kita menabung uang yang cukup banyak dengan niatan membahagiakan ibu kita?? Sebagian kita sering memberikan coklat kepada calon pasangan kita saat hari Valentine namun pernahkah kita dari dulu sampai sekarang saat hari ibu memberikan uang, kado atau coklat?? Padahal harusnya ibu kita lebih wajib kita bahagiakan daripada pacar kita, karena ibu kita sudah mengurusi kita dari kecil sampai sekarang dan pacar kita, baru kita kenal satu atau dua tahun ini tapi mengapa kita lebih care dan perhatian kepada pacar kita? Di manakah hati nurani para pemuda kita???

Kemudian alasan seseorang ketika memutuskan untuk berpacaran ialah karena ingin saling kenal lebih dalam sebelum menuju jenjang pernikahan, dan kalau memang alasannya untuk saling kenal mengenal kenapa ada artis sudah pacaran sembilan tahun bahkan nikahnya di tanah suci Mekah dan saat kembali ke Indonesia baru dua tahun nikah sudah bercerai, padahal sudah pacaran selama sembilan tahun, tapi kenapa usia pernikahannya hanya seumur jagung????

Dan kalau kita perhatikan, kakek, nenek atau orang tua kita dulu biasanya nikah tidak pakai pacaran tapi langsung nikah dan dijodohkan oleh orang tua mereka dan ternyata walaupun tidak didahului pernikahan hubungan mereka langgeng sampai puluhan tahun tidak ada perkara rumah tangga yang membuat mereka berpisah, namun tidak menampik sebagian kecil ada yang tidak baik. Oleh karena itu ketika berpacaran seseorang hanya saling kenal-mengenal tentang kelebihannya dirinya dan pasti akan menutupi kekurangan dirinya sehingga tabiat-tabiat jelek se orang pasangan akan terlihat saat setelah pernikahan.

Pacaran pun akan berakibat ruginya si cewek, cewek yang dia rela dipacari oleh seorang lelaki maka ia maaf, tidak ada bedanya dengan mangga yang dijual di pasar, lho kok bisa? Bisa, mangga yang dijual di pasar sering dipegang-pegang sebelum dibeli, di cium berkali-kali tapi banyak yang tidak jadi membeli mangga tersebut. Sama dengan cewek yang pacaran sudah dipegang-pegang, di cium-cium tapi tidak jadi dinikahi dan berarti dia barang Second 😀 hehe oleh karena itu jika ingin mengenal calon pasangan kita, lihatlah sahabat terdekatnya siapa, pasti gak jauh berbeda dengan sifat orang calon pasangan kita. Dan tentunya dalam Islam tidak mengenal istilah pacaran, barang siapa dia berpacaran berarti dia melakukan sebuah perbuatan yang mendekati Zina dan itu sangat tidak diridhai Allah.
Wallahualam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17106/antara-rasa-cinta-dan-kegalauan/#ixzz23hbhtjV1

Kenikmatan Halaqah, Membuatku Tak Perlu Keliling Dunia

Kenikmatan Halaqah, Membuatku Tak Perlu Keliling Dunia

16/6/2012 | 26 Rajab 1433 H | Hits: 1.968

Oleh: Meira Ernawati


Kirim Print

Kapur putih yang pucat
Terasa penuh warna
Dan pelangi yang enggan datang pun berbinar

Kertas putih yang pudar
Tertulis seribu kata
Dan kuungkap semua yang sedang kurasa
Dengarkanlah kata hatiku
Bahwa ku ingin untuk tetap di sini

Tak perlulah aku keliling dunia
Biarkan ku di sini
Tak perlulah aku keliling dunia
Karena ku tak mau jauh darimu

***

Bersaudara tak mesti sedarah…
Bersaudara tak harus serumah…
Bersaudara bukan soal daerah…
Karena persaudaraan yang benar adalah atas dasar ukhuwah Islamiyah…
Kita dipersaudarakan oleh Allah yang kita sembah…
Kita bersaudara karena Rasulullah yang menyampaikan hidayah…
Adakah persaudaraan yang lebih indah dari persaudaraan karena Allah?

***

Ilustrasi (hudzaifah.org)

dakwatuna.com – Berawal dari sebuah formalitas dan berujung pada sebuah ‘candu’. Semula yang bertemu malu-malu dan enggan untuk saling mengenal pada akhirnya justru rindu jika tak jumpa. Masih ingat kenangan beberapa bulan lalu ketika saya dikumpulkan bersama teman-teman satu halaqah. Dengan wajah canggung ini memaksa untuk bisa mengenal dengan baik beberapa kepala yang hingga sekarang menjadi bagian dari hati saya.

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang telah menjadi arti penting dalam perjalanan dakwah ini (atas izin Allah). Mereka yang telah rela mencurahkan waktu dan pikiran kadang hanya untuk mendengar dan berupaya memberi solusi terbaik atas segala macam qadhaya.

Memang tak mudah untuk merasakan kecintaan seperti ini. Ada banyak permasalahan dan ujian untuk saya bisa membanggakan ukhuwah penuh kasih sayang terhadap mereka. Bahkan suatu ketika, lingkaran kami sempat hampir terputus karena satu sama lain belum saling mengerti dan memahami mengenai urgensi halaqah, mengapa halaqah itu penting hingga menimbulkan suatu mahabbah (kecintaan) pada saudara seiman. Pada akhirnya, kini Allah mengabulkan doa saya beberapa tahun silam mengenai sosok-sosok makhluk-Nya yang akan membantu saya menemukan arti dari sebuah persahabatan dan cinta karena Allah.

Kepemahaman yang saya dapatkan, fungsi utama halaqah itu sendiri adalah sebuah tadzkirah (pengingat yang menampar) melalui materi dari murabbi atau kultum. Akan ada seperti pengganjal yang cukup berat untuk disingkirkan ketika masa pertemuan itu ditunda atau memang tidak bisa terlaksana oleh berbagai alasan. Ketika halaqah hanya diartikan sebatas transfer ilmu, maka saya yakin kegelisahan macam itu tidak akan terjadi karena sebenarnya kita sendiri mampu mendapatkan ilmu dari banyak sumber. Maka sebenarnya apa yang menyebabkan hati-hati ini terikat begitu kuat dan nyaman?

Dan apa-apa yang terjadi pun sebenarnya tak sebegitu mewah, mereka hanya ikut menangis ketika saya mulai mengadukan atas ketidakberdayaan dan kealpaan sebagai seorang makhluk, mereka turut memohonkan keringanan atas dosa-dosa saya, mengingatkan layaknya para sahabat di berbagai novel roman picisan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka….” (QS. Al-Anfal: 63)

Ternyata itulah bagian dari kekuasaan Allah. Maka tidak ada yang menjamin apakah apa yang kita kehendaki terhadap seseorang atau sosok-sosok akan menjadi bagian dari tautan hati kita tanpa seizin-Nya. Andaikan saya diberikan kemampuan menuliskan rasa cinta saya pada mereka selama tiga hari tiga malam, rasanya itu tidak akan cukup untuk mewakili rasa ini terhadap apa-apa yang mereka ajarkan pada diri lemah di jalan dakwah ini. Inilah kenikmatan yang benar-benar saya dapatkan dari halaqah, namun ini hanya bagian kecil dari banyak hal yang bisa saya tuai.

Rasanya tak perlu lagi keliling dunia untuk mencari-cari makna cinta ketika saya menikmati kebersyukuran atas limpahan rahmat ukhuwah yang Allah berikan.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21108/kenikmatan-halaqah-membuatku-tak-perlu-keliling-dunia/#ixzz23hbIDeiO

Cinta (tak) Harus Memiliki

Cinta (tak) Harus Memiliki

14/6/2012 | 24 Rajab 1433 H | Hits: 11.866

Oleh: Ade N. Syahmeniar


Kirim Print

Ilustrasi (peam.es)

dakwatuna.com – Cinta. Hanya satu kata, tersusun dari lima huruf yang berbeda. Sangat sederhana. Kata yang sama sekali bukan kata sulit untuk dituliskan, pun untuk diucapkan. Namun kata sederhana ini menjadi jutaan tema dalam kehidupan. Tema dalam kisah bahagia, kisah sedih yang tak ada habis-habisnya, kisah lucu yang menyegarkan, kisah kegalauan remaja zaman sekarang, kisah sukses penuh semangat, dan kisah-kisah lainnya.

Kali ini aku ingin berbagi tentang cinta antar manusia. Teringat akan sebuah kalimat, “cinta tak harus memiliki”. Kalimat yang cukup populer dan sering dijadikan alasan atau sekadar kalimat penghibur bagi mereka yang sedang dilanda kisah cinta episode kesedihan. Kalimat populer ini jelas ditujukan untuk kisah cinta antar manusia. Cinta pada seseorang yang diharapkan dapat menjadi pasangan hidup, namun tak berujung pada pernikahan. Kasihan. Ah, mereka bukan orang-orang yang perlu untuk dikasihani. Karena rasa kasihan hanya akan menambah kesedihan bagi yang mengalami. Malang. Sejatinya orang-orang yang mengalami episode ini bukanlah orang yang malang. Jika disikapi secara baik, hal ini justru dapat melatih yang bersangkutan untuk menjadi lebih sabar, lebih dewasa, lebih bijaksana, dan selalu yakin serta bersyukur akan pemberian-pemberian dari Allah. Karena yakinlah, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik yang kita butuhkan, bukan yang terbaik (menurut kita) seperti yang kita inginkan.

Cinta tak harus memiliki. Sedikit terasa mengganjal dalam hati mencermati kalimat ini. Konon kabarnya, fitrah manusia untuk mencintai. Ya, baiklah kalau begitu. Tapi yang mengganjal di sini adalah seseorang mencintai seorang manusia lainnya sebelum dinyatakan sah dan halal. Apakah salah? Entahlah. Suka pada seseorang sebelum menikah, sepertinya tak ada masalah. Tak ada masalah jika hanya sebatas rasa kagum, simpati, suka karena terdapat teladan yang baik dalam diri seseorang. Tapi apakah harus mencintainya? Mengharapkan seseorang tersebut untuk menjadi pasangan hidup, sepertinya itu juga bukan suatu kesalahan. Sangat wajar jika seseorang mengharapkan pasangannya adalah orang yang baik, shalih/shalihah, mengagumkan, dan terdapat suri teladan yang baik dalam dirinya. Wajar, sangat wajar dan manusiawi. Tapi apakah harus mencintainya? Dan apakah harus “dia”?

Kawan, aku bukanlah orang yang penuh kebaikan sehingga aku pantas untuk menggurui dan menasihatimu. Maaf, sekali lagi, maaf. Tugas kita sesama muslim adalah saling mengingatkan pada saudaranya. Dan kali ini, sejatinya aku ingin mengingatkan diriku sendiri, dan ingin berbagi padamu. Mohon ingatkan aku jika ada yang salah, kawan.

Wajar-wajar saja jika kita suka pada seseorang, mengaguminya, itu hal yang manusiawi. Tapi mencintainya, wajarkah? Teringat seorang teman mengatakan kalimat yang juga cukup populer tentang cinta. “Cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai.” Begitu pula kurasa dengan kekasih, pasangan hidup, seorang manusia yang menjadi pendamping dunia akhirat. Sayang sekali jika kita mencintai seseorang yang belum tentu akan menjadi pasangan hidup kita nantinya. Iya kalau jodoh kita adalah dia. Tapi jika bukan, betapa kasihan jodoh kita yang sebenarnya. Ia yang seharusnya mendapatkan cinta seutuhnya, namun sebagian hati telah tertawan pada hati yang lain. Ia yang seharusnya kita cintai, tapi nyatanya hanya mendapatkan sisa-sisa cinta dari sekeping hati kita yang rapuh ini.

“Jodoh itu tak akan tertukar”, begitu celoteh temanku yang lain. Yakinlah bahwa seseorang yang berjodoh dengan kita nantinya adalah yang terbaik. Jadi tak perlu menyibukkan diri untuk mencintai hati yang belum tentu akan mencintai seperti kita mencintainya. Kalaupun ia juga cinta, belum tentu kan berjodoh. Tak sampai hati rasanya bila menyakiti pasangan yang sebenarnya nanti. Dialah yang seharusnya dicintai dengan sepenuhnya. Bukan dengan sisa-sisa cinta, apalagi hanya sebagai pelarian semata. Ada baiknya jika sekarang kita mempersiapkan diri dan menjaga hati untuknya. Tak ingin hati ini ternoda oleh cinta yang salah alamat.

Cintaku hanya akan kuberikan setelah akad nikah. Ijab qobul yang begitu sakral terucap, menggetarkan hati begitu dahsyat sehingga cinta itu kan tumbuh secara alami. Aku hanya ingin mencintainya setelah ia halal bagiku. Sepenuhnya, tanpa terbagi.

Kembali pada dua kalimat cinta yang cukup populer tadi. “cinta tak harus memiliki” dan “cintai apa yang dimiliki, bukan miliki apa yang dicintai”. Dua kalimat ini terasa bertolak belakang dari satu sudut pandang tertentu. Kalimat pertama menyiratkan makna bahwa cintailah apa saja, siapa saja. Tapi ingat, mencintainya bukan berarti harus memilikinya.

Sedangkan kalimat kedua, cukup lugas. Memberikan pandangan dan pilihan yang sedikit berbeda. Ada perbedaan antara mencintai apa yang dimiliki dengan memiliki apa yang dicintai. Dalam konteks pasangan hidup, Mencintai apa yang dimiliki, ini berarti cinta itu tumbuh setelah seseorang sah dan halal bagi kita. Sedangkan memiliki apa yang dicintai, ini berarti cinta itu telah bersemi indah sebelum seseorang tersebut sah dan halal baginya. Jika kita ingin “memiliki apa yang kita cintai”, maka kalimat “cinta tak harus memiliki” berlaku di sini. Namun tak kan berlaku jika kita “mencintai apa yang kita miliki”. Yang berlaku adalah “cinta harus memiliki”. Karena kita sudah memiliki terlebih dulu sebelum mencintainya. Dan hal ini menyiratkan sebuah isyarat rasa syukur yang begitu besar atas apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Kalaupun ternyata pasangan kita nantinya tak sesuai harapan, itu artinya Allah ingin kita belajar untuk bersabar. Dan ingatlah, Allah itu bersama orang-orang yang sabar. Di sisi lain, Allah akan menambah nikmatnya bagi yang selalu bersyukur.

Sungguh dahsyat rasanya jika kita mencintai apa yang kita miliki. Hidup dalam bingkai cinta yang tulus berhiaskan kesyukuran dan kesabaran. Kebahagiaan bukanlah hal yang sulit diwujudkan. Kedamaian dan ketenangan pun akan terus mengiringi dalam setiap degup jantung. Bukankah ini begitu indah, kawan?

Satu hal yang perlu diingat, kawan. Cinta pada manusia bukanlah yang abadi. Jadikan cinta itu sebagai media mengalirnya cinta menuju muara cinta yang paling agung. Cinta pada Allah. Cinta inilah yang hakiki. Mencintai pasangan merupakan salah satu perwujudan cinta pada Rabb yang menguasai jiwa ini. Sebesar apapun cinta itu, tetap tujuan akhirnya adalah cinta pada Sang penguasa cinta. Dialah yang memiliki cinta terluas, cinta tak berbatas. Dialah yang berhak untuk dicintai sepenuhnya. Karena setiap detail kehidupan kita tak bisa lepas dari cinta-Nya.

Kawan, andai dirimu kebingungan melabuhkan cinta karena belum ada seseorang yang halal bagimu, tak perlu merasa galau. Kegelisahan hanya membuat kita terus merasa risau. Ada Allah yang kita miliki dan yang memiliki kita sepenuhnya. Cintailah dengan cinta terbaik yang kita punya. Yakinlah Dia tak akan menyia-nyiakan cinta kita yang seadanya ini. Jika yang kita dapatkan tak sesuai keinginan, bukan Allah tak mencintai kita. Tapi Allah ingin kita belajar menjadi orang yang sabar sehingga kita bisa terus merasa dekat dengan-Nya. Karena Allah bersama orang-orang yang sabar. Namun jangan lupa untuk bersyukur ketika yang kita dapatkan sesuai keinginan. Karena rasa syukur itulah yang menjadikan nikmat Allah terus bertambah. Tidak pernah rugi, bukan? Ibarat berdagang, perdagangan yang selalu menguntungkan hanyalah perdagangan dengan Allah, Rabb penguasa semesta.

Di tengah hirup pikuk area tambang
Bersama mendungnya awan

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21074/cinta-tak-harus-memiliki/#ixzz23hZTOnnd

Tutup Mata Buka Telinga

Tutup Mata Buka Telinga

11/1/2012 | 16 Safar 1433 H | Hits: 1.656

Oleh: Abi Sabila


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Taushiyah dari sang ustadz baru berjalan lima belas menit tapi Fulan sudah dua kali menyikut lengan Ahmad, berbisik pelan, mengajak pulang.

“Kenapa?” tanya Ahmad setengah terpaksa, mengira Fulan mendapat kabar penting karena sejak datang Fulan lebih sibuk dengan hape nya ketimbang menyimak serangkaian acara pembuka. Membuat status @pengajian di dua akun jejaring sosialnya. Badan Fulan memang ada di samping Ahmad, tapi hati dan pikirannya entah dimana, dengan siapa dan sedang melakukan apa.

“Kamu tidak bilang kalau pengisi taushiyahnya si ustadz itu!” Fulan berbisik pelan, kecewa.

“Memangnya kenapa?” tanya Ahmad, tak mengerti.

“Kamu nda tahu atau pura-pura tidak tahu?” Fulan mulai kesal dengan Ahmad yang menurutnya berpura-pura tidak paham dengan yang ia maksudkan. “Ustadz itu kan orangnya…” Fulan batal meneruskan kata-katanya, merasa tak enak untuk menyebutkan dengan blak-blakan.

“Kamu ngomong apa sih?” Ahmad kembali bertanya, benar-benar tak mengerti apa yang Fulan maksudkan.

“Udah deh, kita pulang aja yuk! Percuma, ndengerin orang yang nda melakukan apa yang diomongkan.” Kali ini Fulan benar-benar kesal. Tak ada lagi rasa tak enak seperti yang ia rasakan beberapa detik sebelumnya.

Kali ini Ahmad mulai paham mengapa si Fulan mengajaknya pulang. Bukan sekali ini ia mendengar Fulan bicara kabar miring tentang sang ustadz. Beginilah, begitulah. Tak sama apa yang dia omongkan dengan yang dia lakukan, itu intinya. Dan sejauh ini Ahmad belum pernah sekalipun mendapatkan bukti, melihat kebenaran tudingan orang dengan mata kepalanya sendiri.

Sekali lagi Fulan menyikut lengan Ahmad yang justru semakin khusyuk menyimak setiap kata yang disampaikan sang ustadz. Dan sikutan Fulan berikutnya terhenti ketika Ahmad dengan tegas mengatakan, “Tutup matamu, buka telingamu!”

Tutup mata, buka telinga? Ada-ada saja si Ahmad. Apa dia menyuruhku tidur saja agar tak mengganggunya? Ah, mungkin maksud Ahmad menyuruhku untuk tutup mulut, buka telinga. Fulan membatin. Meski kesal, Fulan memilih mengalah. Ia tahu Ahmad tak akan beranjak dari tempat duduknya sebelum acara selesai. Nanti, setelah acara selesai ia akan meminta penjelasan dari Ahmad perihal perintahnya untuk menutup mata, membuka telinga.

“Mad, tadi kamu nyuruh aku nutup mata buka telinga, maksudnya apa?” Fulan tak sabar bertanya saat mereka melangkah pulang.

Sebelum menjawab, Ahmad tersenyum pada sahabatnya. Ia sudah menduga bahwa Fulan akan menanyakan hal ini.

“Kalau kamu membaca koran, apa yang kamu pakai?” Ahmad balik bertanya.

“Mata!” jawab Fulan serta merta.

“Kalau mendengarkan radio?” Ahmad kembali bertanya.

“Telinga!” jawab Fulan seketika. Persis seperti anak kecil yang sedang dites oleh ibunya.

“Nah, kalau kamu nonton tivi?”

“Ya pakai kedua-duanya. Mata dan telinga.” jawab Fulan. “Sebenarnya kamu ini sedang ngomongin apa sih, Mad? Ditanya malah balik nanya?” Fulan mulai jengkel. Bukannya menjawab, Ahmad malah mempermainkannya.

Dengan tenang Ahmad menjawab. “Lan, menggunakan telinga, mata atau keduanya, itu ada waktunya. Seperti yang kamu jawab tadi. Saat mengikuti pengajian, semestinya kita menggunakan kedua indera itu. Mata dan telinga. Mata memperhatikan siapa yang mengisi pengajian, telinga menyimak apa yang disampaikan. Tapi mengikuti pengajian tidaklah sama dengan menikmati hiburan. Bagaimanapun syetan tidak rela dan tidak akan tinggal diam membiarkan manusia melakukan ini tanpa sedikit pun gangguan darinya. Syetan berusaha mengganggumu sehingga kamu cenderung melihat siapa orangnya daripada apa yang dibicarakannya. Kamu sibuk mempermasalahkan sang ustadz sampai tak sempat menyimak apa yang beliau sampaikan.”

“Tapi banyak yang mengatakan kalau ustadz itu begini begitu. Kamu sendiri tahu hal itu.”

“Banyak yang mengatakan, tapi belum tentu itu mutlak kebenaran. Layaknya kabar burung, semua berpindah dari mulut ke mulut, diterima telinga tanpa mata sempat mengklarifikasinya. Jarang atau bahkan tidak ada yang menyertakan bukti. Dalam hal ini kamu hanya menggunakan telinga, tapi tak menggunakan mata. Kamu meyakini apa yang kamu dengar meskipun matamu sama sekali belum pernah melihat buktinya.”

Fulan diam sesaat. Mencerna kata-kata Ahmad. “Tapi kalau seandainya kabar itu benar?”

“Baru seandainya, tapi kamu sudah meyakini seolah itu benar adanya. Kalaupun, kalaupun ternyata benar apa yang orang-orang katakan bahwa ustadz itu tidak menjalankan apa yang dia sampaikan, biarlah itu menjadi persoalannya dengan Allah. Idealnya memang seseorang bukan hanya pandai menyampaikan tapi juga benar dan istiqamah mempraktekkan. Tapi bukan berarti apapun yang ia sampaikan lantas kita acuhkan. Kita datang ke sini karena ingin mendapatkan ilmu. Kita tahu beliau memiliki itu. Aku pernah membaca satu nasihat bijak bahwa lebih baik ahli ilmu meskipun belum ahli ibadah, daripada ahli ibadah tapi tidak memiliki ilmu. Seorang ahli ilmu bisa menularkan ilmunya kepada orang lain, mengenai ia sendiri belum menjalankan, itu kaitannya dengan hidayah Allah. Seorang ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu, justru berbahaya karena bisa jadi sesat dan menyesatkan. Kalau memang ustadz itu baru ahli ilmu, belum ahli ibadah, kita masih bisa mengambil ilmu darinya. Soal apakah dia menjalankan atau tidak, itu bukan tanggung jawab kita, tapi dia yang akan mempertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah kelak. Kita doakan semoga hidayah tercurah dan menetap kepada beliau, dan kita semua. Amin. “

Fulan lagi-lagi terdiam.

“Masih bingung?” Ahmad menangkap gelagat diamnya Fulan lebih karena belum paham. Dan dugaan Ahmad dibenarkan dengan anggukan Fulan.

“Begini, apakah kamu akan mengabaikan kewajiban shalat hanya karena yang mengingatkanmu adalah seorang penjahat yang sedang menunggu putusan pengadilan karena berbagai kasus kejahatan yang telah ia lakukan? Dan apakah kamu dengan senang hati akan melakukan maksiat hanya karena yang mengatakan seorang pejabat tinggi yang selama ini kau hormati, dengan title berjejer di depan dan belakang namanya. Tentu saja tidak, bukan? Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi lihat apa yang dibicarakan. Jangan tutup telingamu hanya karena matamu tak setuju. Jika telinga dan atau matamu ragu, tanyakan pada hati kecilmu!”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17468/tutup-mata-buka-telinga/#ixzz23hKsCOC7

Ayah, Aku Ingin Bicara

Ayah, Aku Ingin Bicara

9/3/2012 | 16 Rabbi al-Thanni 1433 H | Hits: 6.279

Oleh: Ade N. Syahmeniar


Kirim Print

Ayah, aku ingin bicara…
Tiap hari kulihat kelelahan di kerut wajahmu
Semua hanya demi aku, anakmu

Ayah, aku ingin bicara…
Meski aku hanya diam, kau tahu apa yang kuingin
Semua kau penuhi dengan balutan kasihmu untukku

Ayah, aku ingin bicara…
Kurasakan begitu berat hatimu jauh meninggalkanku
Tiap jam kau menelponku
Meski kau tahu, tak kan bisa mendengar suaraku
Hanya ketukan jariku sebagai isyarat
Dan kau selalu mengakhiri dari ujung telepon dengan kata yang sama, “Alhamdulillah”

Ayah, aku ingin bicara…
Sepanjang hidup kau berharap dapat mendengar suaraku
Segala upaya kau lakukan
Kini aku hanya bisa mengusap nisanmu
Masih diam tanpa suara

Ayah, aku ingin bicara…
Sungguh aku ingin bicara
Andai aku bisa, aku hanya ingin bicara satu kalimat
Ya, satu kalimat saja
“Aku mencintaimu, ayah…”
Hanya itu yang ingin aku bicarakan padamu
Tapi hingga kini hanya hatiku yang mampu bicara
Belum dengan lisanku

Ayah, aku ingin bicara…
Dan semoga kau mendengarnya…

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Kini aku hanya bisa memandangi puisi itu di dinding kamarku. Aku rindu ayah. Aku rindu senyumnya, candanya, kerut keningnya, semua kurindu. Aku rindu saat ia menelpon. Lucu rasanya. Telepon adalah alat komunikasi yang menggunakan suara. Sedangkan aku, apa yang bisa kuucapkan? Sejak kecil aku tak bisa bicara. Aku bisu. Jadi, lucu rasanya jika ada orang bisu menggunakan telepon. Kira-kira apa yang bisa diucapkannya?

Aneh, ayahku aneh. Tapi itu menurut orang lain. Tapi sebagai orang ‘aneh’, aku tak pernah menganggap ayahku aneh. Ayah adalah ayah terhebat sedunia. Ia mengajariku kode morse yang cukup menggunakan ketukan. Aku tak perlu bicara. Jika ayah bertanya, aku cukup menjawab dengan ketukan. Aku dan ayah punya kode sendiri dalam ketukan. Satu ketukan artinya aku sedang tidak bisa menerima telepon. Dua ketukan artinya aku baik-baik saja, dan ayah bisa langsung menutup telepon. Jika tiga ketukan, itu tandanya ada yang ingin aku bicarakan. Barulah kemudian aku menggunakan kode morse seperti yang ayah ajarkan padaku.

Apakah ayahku orang yang aneh? Tidak, tidak sama sekali. Ayahku ayah paling kreatif sedunia.

Ayah tak pernah mengajariku bahasa isyarat. Yang diajarkannya padaku adalah berbagai jenis huruf. Ayah menguasai huruf-huruf dari berbagai Negara. Huruf Arab, India, Cina, Jepang, Korea, aksara jawa, dll. Semua huruf-huruf itu sudah diajarkan sejak aku berusia 3 tahun. Dulu aku tak mengerti tujuan ayah mengajarkan huruf-huruf aneh itu pada orang bisu sepertiku. Untuk apa? Apa cuma ingin cari sensasi? Meskipun anaknya bisu, tapi bisa menulis berbagai macam huruf. Sesempit itukah tujuan ayah?

“Ayah yakin, nanti kamu bisa datang ke semua Negara itu. Kalau kamu ngerti tulisannya, paham bahasa mereka, kamu gak bakalan nyasar. Bisu itu cukup mulutmu, tapi kamu masih punya bagian tubuh lain yang gak bisu. Gunakan itu untuk bisa bicara.” Oh, ayah… betapa cerdas dirimu.

Setelah aku menguasai huruf-huruf aneh itu, ayah selalu menyuruhku untuk menulis hingga berlembar-lembar. Kata ayah, aku harus bisa menulis cepat. Bahasa isyarat hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang pernah mempelajarinya. Tapi semua orang pasti mengerti dengan apa yang aku tulis. Setiap hari ayah selalu bertanya, “Buku sakumu masih ada?” ayah sangat senang setiap aku menghabiskan buku saku. Itu artinya aku banyak berkomunikasi dengan orang lain. Ayah juga mengajarkan padaku, jika aku bertanya pada seseorang, aku harus menulis jawabannya. Untuk itulah aku butuh keahlian menulis cepat. “Ikatlah ilmu dengan tulisan,” begitulah ayah sering mengingatkanku. Ilmu yang dituliskan, suatu saat bisa dibaca lagi. Kalau tidak ditulis, bisa jadi ilmu itu terlupakan.

Ayah, betapa hebat dirimu, dan aku selalu mengagumimu. Kau ayah terhebat, ayah yang cerdas, ayah yang kreatif, juga ayah yang pengertian. Aku tak pernah menuliskan bahwa aku menginginkan sesuatu, tapi kau selalu tahu apa yang ku mau. Melihat sepatuku yang sudah lusuh, tanpa kuminta, kau belikan aku yang baru. Dan kau sangat tahu model sepatu yang ku suka. Saat hujan di malam hari, kau buatkan semangkuk sup hangat untuk menemaniku belajar. Kau pun selalu mengerti saat aku merasa jenuh, saat aku sedih, saat aku senang, saat aku ingin memelukmu, dan saat aku merindukan ibu. Betapa hebatnya dirimu, meskipun aku tak pernah melihat ibu sejak lahir, tapi ceritamu membuatku merasakan bahwa ibu selalu ada dan sangat mencintaiku.

Aku selalu tertawa geli melihat ayah masak nasi goreng. Ayah selalu mengikuti gaya ibu. Menurut cerita ayah, ibu selalu masak nasi goreng dengan gayanya yang heboh. Botol kecap yang dimainkan bak bartender, begitu lincah. Tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama alunan ketukan sendok penggorengan. Dan aku selalu menantikan tiga ketukan khas ibu. Karena tiga ketukan itu artinya nasi goreng sudah selesai dimasak.

Ayah juga sering bercerita tentang kebiasaan ibu yang lainnya. Semua itu ayah tiru agar aku bisa menyaksikan bagaimana kebiasaan ibu dulu. Ibu yang menyetrika baju dari ujung lengan, mencuci sambil bernyanyi, menyapu hingga halaman tetangga, tidur dengan memegang telinga, dan yang paling lucu saat ibu menyambut setiap ayah pulang, selalu ada adegan “cii…luk…baa…” dan sekarang ayah lakukan adegan itu padaku.

Pernah suatu hari aku bercerita pada ayah. Itu pertama kalinya aku merasakan hal yang berbeda dalam hati. Dagdigdug dagdigdug…casciscus…nyeeesss… ah, susah diungkapkan. Awalnya aku tak ingin bercerita. Bukan karena aku sulit bicara, tapi aku takut ayah tak suka. Lebih-lebih aku malu, walau hanya sekedar bertanya, “perasaan apa ini, yah?” namun ayah begitu tahu tentangku. Ia mengerti ada yang berbeda. Ia tahu hatiku sedang berbunga-bunga. Meski tak terdengar, ayah bisa merasakan jantung yang dagdigdug ini. Aku ingin cerita, tapi tapi tapi… aduh dududuuhh…. Aku jadi salah tingkah di depan ayah.

“Hayoo….koq senyumnya agak aneh?” kata ayah menggodaku. Aku semakin malu. Dalam hatiku ragu, “cerita gak ya… hmm… cerita aja deh… ah, jangan… duh, cerita aja kali ya… tapi…”

“Udah, sini ayah pengen tahu ceritamu.” Ayah seolah mengerti dialog dalam hatiku.

Kuceritakan panjang lebar hingga tinggi, dari awal hingga akhir, sampai akhirnya aku merasakan getaran yang tak biasa ini. Tanganku sampai pegal rasanya menulis cerita untuk ayah. Tulisanku tak rapi, banyak coretan. Aku gugup, malu, panik, senang, takut. Ah, semua rasa seolah bercampur jadi satu dalam hati. Namun ayahku mengerti maksud ceritaku.

Ayah tidak marah, malah tersenyum manis padaku. Senyum yang membuat hatiku menjadi stabil. Senyum hangat yang membuatku tenang. Tak lagi gugup. Hilang sudah gemetar. Ayah hanya berkata singkat, “Anak ayah sudah mulai dewasa. Gak masalah, itu perasaan yang wajar kok. Nyantai aja. Tapi…” aku menunggu kata-kata ayah yang menggantung. Kutarik-tarik lengan bajunya seperti anak-anak yang merengek minta dibelikan es krim.

Ayah tersenyum. Ia sangat pandai menggodaku. Aku kembali merengek, ia malah melengos. Mungkin ia tak sanggup menahan tawa melihat anaknya yang penasaran setengah mati. “Oke oke… tapi, jangan kamu terusin perasaan itu. Karena itu hanya perasaan sesaat. Hari ini mungkin kamu belum mengerti, tapi saat kamu sudah dewasa, kamu akan paham apa yang ayah maksud.”

Ayah, aku ingin bicara. Sayang kini kau tiada. Aku sekarang mengerti, yah. Aku paham dengan apa yang ayah maksud dulu. Ayah benar, perasaan seperti itu harus dikelola dengan baik. Hati ini harus ditata sebaik mungkin agar ia berlabuh di muara yang tepat. Aku mengerti dari cinta ayah dan ibu.

***

Pernah aku terbangun di malam hari, kulihat ayah sedang khusyuk dengan doanya. Aku berlalu ke kamar mandi. Namun langkahku seketika berhenti mendengar doa ayah. Namaku disebut-sebut dalam doanya. Air mataku spontan jatuh bercucuran mendengar harapan dalam doamu. Sebuah harapan sederhana, namun sulit terwujud. Tak kusangka dalam keceriaannya, ayah menyimpan harapan sederhana itu seumur hidup. Ayah ingin mendengar suaraku.

Kupeluk ayah erat. Ingin kubisikkan di telinganya dengan lembut, “Aku mencintaimu, ayah.” Tapi aku tak bisa. Aku hanya bisa bergumam dalam hati. Air mataku kian deras. Ayah mendekapku erat. “Semoga kamu bisa membimbing ayah mengucapkan dua kalimat syahadat, ya nak…”

Kini ayah telah tiada, dan aku masih tak bisa bicara. Ayah, semoga kau dapat mendengar suara hatiku. Semoga doa-doaku dapat kau dengar di alam sana. Aku akan selalu mendoakan ayah dan ibu.

Ayah, aku ingin bicara…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/18690/ayah-aku-ingin-bicara/#ixzz23hK19Ypt