Quantum Karakter di Zaman Ibrahim

Quantum Karakter di Zaman Ibrahim

7/11/2012 | 21 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 232

Oleh: Maukuf, S.Pd. M.Pd.


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dawatuna.com – Beberapa saat lalu kita telah belajar tentang bagaimana nabi Ibrahim AS dalam hidupnya, saat ini pula, saudara kita seiman dan se Islam telah menjalankan syariat nabiyullah Ibrahim AS, haji di tanah suci Mekah, tentu sudah seharusnya kita mengambil banyak pelajaran dalam kehidupan nabi Ibrahim, di mana di sana terdapat sebuah proses pendidikan karakter yang sangat luar bisa, terbukti dengan di akuinya syari’at-syari’at yang di ajarkan oleh Ibrahim masih di jalankan oleh umat muslim di seluruh dunia sampai hari ini bahkan sampai akhir kelak.

Kehidupan nabi Ibrahim AS menjadi fenomenal di karenakan karakter mulia yang di ajarkan kepada istrinya Hajar dan anaknya Ismail. Sebuah tolok ukur keluarga yang di dambakan oleh umat manusia di zaman sekarang ini, namun hampir semua masyarakat dunia, khususnya masyarakat Indonesia lupa terhadap karakter apa yang harus di bangun, dari mana mulai di bangun dan kapan harus mulai di bangun? Alhasil pendidikan karakter hari ini di bangsa kita, layaknya riuh suara di telan malam yang tiada maknanya.

Mengkaji model pendidikan karakter zaman Ibrahim menjadi sebuah keharusan bagi kita, karena kita para perindu karakter mulia, karena kita adalah pemangku kepentingan terhadap karakter (akhlaq) yang meyakini bahwa dengan karakter akan mampu melepaskan resah terhadap pergaulan bebas anak-anak kita, karakter mulia yang mampu memberikan jaminan ketenangan, kebahagiaan bagi kita semua baik dalam pergaulan sehari-hari dan dalam kehidupan anak-anak yang lebih manusiawi.

Dalam sejarah, Ibrahim AS mengajarkan karakter kesabaran yang tidak dapat di tandingi oleh manusia sejak Adam AS sampai Muhammad SAW, potret kehidupannya menggambarkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki karakter Sabar yang sungguh mulia dan besar, terbukti dengan kesabarannya ia mampu melewati tantangan dan rintangan yang demikian beratnya.

Kesuksesan Ibrahim dalam Membangun keluarganya disebabkan oleh Karakter Sabar yang dimiliki oleh Ibrahim, sabar tersebut di pengaruhi oleh faktor kepercayaan, Percaya kepada Allah SWT atas semua perintahNya. Bahwa setiap perintah Allah penuh dengan kebaikan terhadap dirinya dan umat manusia.

Kesabaran Ibrahim tergambar saat ia menanti buah hati dalam waktu cukup lama, dan di saat ia mendapatkan Ismail buah hati yang telah lama di nanti, Allah memerintahkan Ibrahim untuk membawa istrinya Hajar di tengah padang pasir yang tandus, kemudian Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail dengan bekal sekantong korma dan sekantong air.

Di saat itu jelas bagi kita semua, terdapat Quantum Karakter yang kita bisa petik, perhatikan karakter apa yang kita bisa ambil pada peristiwa tersebut? Di saat Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail, Hajar berkata, ‘wahai Ibrahim, kenapa engkau meninggalkan kami ditempat yang sepi dan tandus ini? Ibrahim tak mampu menjawab ia terus berjalan membelakangi Hajar, sembari Ibrahim meneteskan air matanya, lalu hajar bertanya lagi, Ibrahim kenapa engkau meninggalkan kami hanya dengan bekal kurma dan air yang sangat sedikit? Ibrahim pun, tak menatap ke hajar dan Ibrahim, karena tak sunggup, air mata Ibrahim terus terjatuh, lalu Hajar bertanya, wahai Ibrahim, apakah ini atas perintah Tuhanmu dan Tuhanku? Lalu ia berbalik dan menganggukkan kepala tanpa bersuara’, karena tak sanggup berkata-kata.

Perhatikan apa yang di sampaikan oleh Hajar, ‘wahai Ibrahim jika ini perintah Tuhanmu dan Tuhanku, maka pergilah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hambanya yang Taat’ , subhanallah, sungguh luar biasa, Hajar menjadi contoh seorang istri yang memiliki karakter mulia, memiliki keyakinan yang benar terhadap Tuhannya, yaitu berprasangka baik terhadap Tuhannya, dan Hajar mencerminkan bagi kita adalah istri yang tangguh dan pemberani.

Tak kalah luar biasa, karakter yang dimiliki Ismail, ia adalah anak yang sayang dan taat kepada ayah dan ibunya, perhatikan apa yang terjadi saat Ismail bertemu dengan Ibrahim ayahnya, Ismail langsung mendekap ayahnya, lalu Ismail mengajak Ibrahim ayahnya bermain-main, seolah-olah mereka tidak pernah berpisah, padahal ia telah berpisah sampai belasan tahun, ternyata Hajar ibundanya Ismail selalu menceritakan tentang kebaikan-kebaikan Ibrahim kepada Ismail, sebuah proses pendidikan yang tidak pernah putus dilakukan oleh Hajar, walaupun hanya seorang diri.

Dari proses pendidikan yang dilakukan oleh Hajar, Ismail menunjukkan ketaatannya kepada orang tuanya, di saat Ibrahim mengabarkan bahwa Ismail akan disembelihnya, Ismail berkata ‘wahai ayah, jika itu atas perintah Tuhanmu, maka lakukanlah, engkau akan mendapatkanku dari golongan orang yang sabar’, anak yang baru berjumpa dengan ayahnya, kemudian ia akan disembelih oleh ayahnya, Ismail taat dan yakin atas apa yang akan dilakukan ayahnya.

Hal tersebut menggambarkan kepada kita, bahwa  Ibrahim dengan karakter Sabar dan keyakinannya yang tinggi kepada Allah, Ia bisa mendidik Hajar istrinya menjadi istri yang tangguh dan pemberani, Ibrahim juga mampu mengajarkan karakter taat kepada anaknya Ismail, sungguh Quantum (lompatan) Karakter pada keluarga Ibrahim, sangat kita dambakan saat ini, untuk membangun pribadi-pribadi penyabar, pemberani, tangguh, taat pada orangtua dan pada segala perintah Allah, karena karakter-karakter tersebut akan mampu menghadirkan kebahagiaan, ketenangan di dunia dan akhirat, seperti Ibrahim, Hajar dan Ismail.

Semoga kita sebagai seorang pemuda, ayah bisa belajar dari Ibrahim dan bisa menjadi Ibrahim masa kini, buat ibunda, calon ibu dan para muslimah, semoga bisa menjadi Siti Hajar yang tangguh dan pemberani serta menjadi guru di rumah, Buat saudaraku semoga bisa belajar dari Ismail, yang taat pada Allah, Rasulullah dan taat pada orang tua, serta semoga yang telah berhaji dan para jamaah haji yang baru pulang, bisa membawa karakter-karakter Ibrahim dan mampu meneladankan karakter-karakter Ibrahim di rumah, ditempat kerja dan di masyarakatnya.

Semoga bermanfaat,
Salam Pendidikan.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23993/quantum-karakter-di-zaman-ibrahimquantum-karakter-di-zaman-ibrahim/#ixzz2Bc4atbsA

Advertisements

Menyikapi Kesalahan

Menyikapi Kesalahan

3/8/2012 | 15 Ramadhan 1433 H | Hits: 1.361

Oleh: Faza Abdu Robbih


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Berbuat kesalahan bukanlah suatu akhir perjalanan hidup kita walau kesalahan itu amatlah besar. Dalam menghadapi kesalahan tak sedikit yang putus asa, depresi bahkan berani untuk mengakhiri hidupnya. Dari sini para pakar psikologi, filsafat dan sosial mencari solusi untuk memecahkannya. Namun usaha mereka terbilang nihil bahkan keadaan pun seolah semakin memprihatinkan. Maka sudah saatnya kita selaku muslim untuk kembali pada metode yang telah dicontohkan oleh panutan dan idola kita (Nabi Muhammad SAW) dalam menyikapi kesalahan.

Rasulullah selalu menghadapi kesalahan dengan jiwa yang teduh dan tenang, tak jarang ia pun menyambutnya dengan senyum. Hal ini tak terlepas dari dua hal. Pertama, karena kasih saying (rahmah) yang sudah merasuk pada jiwanya yang suci. “Tidaklah kami utus engkau selain sebagai rahmat bagi seluruh alam”. Ia selalu memandang orang yang salah sebagai manusia biasa dengan kemungkinan ia sedang berada dalam keadaan terpuruk dan jatuh hingga membutuhkan orang yang menegakkan dan menopangnya bukan orang yang mencela atau menghardiknya. Kedua, karena ia menganggap bahwa kesalahan merupakan hal yang sangat manusiawi, dan it bisa terjadi pada setiap orang, siapa pun dia.

Beberapa contoh “terapi” Rasul terhadap kesalahan telah dicantumkan oleh DR Rojib Sirjani dalam bukunya Nuqtoh, Wa Min Awwalis Satr (Cukup, Mulailah lembaran baru). Secara garis besar penulis buku ini membagi metode Rasul ini dalam tiga poin besar; metode Rasul dalam menghadapi kesalahan orang-orang yang tidak tahu (jahil), menghadapi kesalahan orang yang berdosa (mudznib) dan menghadapi kesalahan yang mengarah pada diri Rasul sendiri.

Ketidaktahuan (jahl), walau merupakan hal tercela yang hanya disebutkan dalam Al-Quran untuk mencela dan menghina namun setiap manusia pasti memiliki sifat ini. Karena seseorang mungkin tahu hal a namun ia tidak mengetahui hal b, begitu pula sebaliknya.  Akan tetapi ketidaktahuan yang dilarang di sini adalah ketidaktahuan kita terhadap hal-hal yang sudah semestinya diketahui dalam agama.

Suatu ketika seorang badui datang ke masjid kemudian ia shalat. Usai shalat Rasul memintanya untuk mengulangi shalatnya. Ia pun mengulanginya hingga tiga kali, namun jawaban Rasul hanya satu irji’ fa sholli fainnaka lam tusholli (ulangi kemudian shalatlah kembali karena kamu belum melaksanakan shalat). Akhirnya si badui menyerah dan menyatakan bahwa hanya itulah yang ia bisa. Lalu Rasul menjelaskannya tata cara shalat yang benar.

Dari cerita ini kita melihat bagaimana Rasul menyikapi kebodohan orang yang tidak tahu. Beliau tidak pernah menghina atau berbuat kasar padanya. Beliau hanya memintanya mengulangi shalat, kemudian menyampaikan pengetahuan secara tenang, penuh kasih sayang dan sangat beradab.

Imam Bukhari dan Muslim mencantumkan sebuah hadits dari Anas bin Malik yang menceritakan kisah seorang badui yang datang ketika Rasul sedang bersama para sahabatnya. Tiba-tiba ia (badui) kencing di dalam masjid. Tak elak para sahabat pun melarang dan mencegahnya. Rasul segera menginstruksikan para sahabatnya untuk tidak memotong kencingnya dan membiarkannya hingga selesai. Akhirnya mereka pun membiarkannya hingga usai. Lalu Rasul memanggilnya dan menasihatinya bahwa ini adalah masjid di mana seseorang tidak boleh mengencingi dan mengotorinya. Ia merupakan tempat untuk dzikir, shalat dan baca Al-Quran.  Rasul hanya memerintahkan seorang sahabatnya untuk mengambil seember air dan menyiram bekas kencing tadi.

Rasul juga memberikan contoh pada kita bagaimana mengoreksi dan menegur kesalahan orang yang berbuat dosa (mudznib). Perbedaan antara pembahasaan ini dengan sebelumnya adalah pembahasan yang lalu sang pelaku tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah salah berbeda dengan pembahasan ini di mana sang pelaku mengetahui bahwa perbuatannya salah namun ia tetap sengaja melakukannya.

Walau adat dan agama sebenarnya tidak menyalahkan siapa saja yang menghukum orang yang salah dengan hukuman yang setimpal bahkan ia juga mencela pelakunya karena orang yang melakukan perbuatan ini sadar dan sudah mengetahuinya apalagi bila ia juga ternyata mengetahui hukuman perbuatannya itu. Namun kita akan mendapatkan pemandangan yang berbeda ketika kita memperhatikan cara Rasul berinteraksi dengan golongan kedua ini.

Kisah pertama diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim tentang seorang lelaki yang menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Rasul memberikan solusi padanya dengan tiga alternatif; membebaskan budak, puasa dua bulan berturut-turut dan memberi makan enam puluh orang miskin. Lelaki tadi ternyata tidak menyanggupi ketiga alternatif ini. Rasul kemudian terdiam sejenak hingga ada seseorang yang memberikan sekantung kurma. Lelaki tadi kemudian diperintah untuk menyedekahkannya. Tanpa disangka ternyata lelaki tadi tidak mendapat orang yang lebih miskin darinya. Serentak Rasul pun tertawa hingga terlihat giginya kemudian ia memerintahkan pemuda tadi untuk memberi makan kurma itu pada keluarganya.

Dari kisah ini sangatlah tampak bagaimana Rasul menyikapi kesalahan, termasuk yang sengaja dilakukan sang pelaku. Kita dapat menyaksikan kasih sayangnya yang begitu besar pada umatnya. Di mana orang yang sudah jelas melakukan kesalahan besar dengan sengaja bahkan ia juga tak mampu untuk melaksanakan hukuman yang diberikan padanya.  Namun tanpa disangka akan terjadi happy ending di mana ia tidak mendapat balasan yang setimpal dari kesalahannya malah mendapat nikmat yang dapat dibagikan pada keluarganya. Sungguh engkau diutus sebagai rahmat bagai seluruh alam wahai Rasulullah SAW.

Keadilan memang derajat yang agung namun kasih sayang lebih besar derajatnya. Perbedaan dua hal ini tampak dalam dua ayat Al-Quran. Pertama, Surat Fathir ayat 45, “Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan meninggalkan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di muka bumi ini tetapi Dia menangguhkan (hukum)nya sampai waktu yang sudah ditentukan”. Kedua, surat Asy-Syura ayat 30, “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahanmu).”   Sungguh adil kiranya bila Allah menghukum para hamba-Nya sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan namun kasih sayang-Nya ternyata lebih besar kepada mereka.

Dari sini muncul sebuah pertanyaan, mengapa kita merajam (melempari batu hingga meninggal) orang yang berbuat zina dan ia sudah menikah. Mengapa juga dipotong tangan sang pencuri, dan dibunuh orang yang membunuh orang lain? Bukankah suatu bentuk kasih sayang jika kita memaafkan mereka!

Sebenarnya ada poin penting yang harus diperhatikan dan kesalahan ini sering terjadi pada sebagian orang. Di mana mereka memandang para pelaku kejahatan dengan kacamata kasih sayang namun mereka tidak melakukan itu pada masyarakat yang menjadi imbas dan korban kejahatan itu. Had (hukuman) sebenarnya disyariatkan sebagai wujud kasih sayang kepada masyarakat, juga terhadap pelaku kejahatan itu sendiri karena ia bisa menjadi sarana penghapus dosa hingga akan memudahkannya pada hari kiamat.

Manusia mungkin dapat menasihati orang untuk dapat memaafkan dan berlapang dada namun bila ada seseorang yang mulai menyentuh kehormatan dirinya tak jarang mereka akan terlihat sangat marah dan emosi. Pada poin ketiga inilah penulis melontarkan metode Rasul dalam menghadapi kesalahan yang berkaitan dengan diri Rasul sendiri.

Bunda Aisyah pernah menggambarkan bahwa nabi tak pernah membalas siapa pun yang meremehkan dirinya namun bila sudah berhubungan dengan hak dan kehormatan Allah tak segan-segan ia segera membalasnya itupun karena ketulusannya pada Allah. Dan ini akan banyak kita dapatkan bila kita membaca sejarah hidup beliau yang luar biasa.

Umar pernah marah dan “menggerutu” terhadap apa yang terjadi pada rumah tangga Rasul dengan istri-istrinya di mana mereka -kadang- menjawab perkataan rasul, mendiamkannya akan tetapi rasul tetap sabar terhadap mereka. Hal ini menunjukkan kasih sayang beliau yang luar biasa pada keluarga khususnya para istri.

Begitu pula Rasul selalu bersabar dan sayang terhadap para sahabatnya. Pernah mereka “kecewa” dengan keputusan Rasul pada perjanjian Hudaibiyah di mana mereka memandang perjanjian itu sangat tidak menguntungkan kaum muslimin hingga mereka “memboikot” –secara kebetulan- untuk tidak bertahallul (memotong rambut karena mereka telah berihram). Namun Rasul tidak pernah mengungkit-ungkit dan memendam masalah ini hingga akhirnya beliau bertahallul sendiri kemudian diikuti sebagian sahabat dan pada akhirnya mereka semua bertahallul.

Tak cukup sampai di sana. Ternyata Umar yang masih penasaran bertanya dan “mendebat” Rasul atas kebijakan yang dinilainya tidak berpihak pada umat Islam. Setelah mendengar jawaban Rasul ternyata Umar tak juga merasa puas. Seolah belum menemukan titik terang Umar pun mengulangi pertanyaan yang sama kepada Abu Bakr. Namun secara kebetulan jawaban Abu Bakr persis dengan jawaban Rasul. Walau bagaimanapun ternyata Rasul tidak pernah mempermasalahkan ini semua dan tak pernah mengungkit-ungkitnya.

Kita terbiasa memberi penghargaan dan hadiah bagi mereka yang melakukan kebaikan dan hukuman dan sangsi bagi pelaku kejahatan. Padahal sebenarnya tidak semua perkara dapat dihukumi dengan satu timbangan. Terkadang kesalahan dapat diobati dengan senyum, arahan, nasihat dan pengajaran sebelum kita benar-benar memberikan hukuman atau kekerasan. Islam itu mudah kenapa kita tidak menempuh jalan yang mudah untuk merubah semuanya. Wallaahu ‘alam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22100/menyikapi-kesalahan/#ixzz2Bc3O0We7

Bersegera Menuju Pulang

Bersegera Menuju Pulang

6/11/2012 | 20 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 409

Oleh: Maruti Asmaul Husna Subagio


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Hampir setiap manusia merasakan kehidupan sebagai jalan berliku yang kadang naik, turun, dan berkelok. Bukan jalan lurus bebas hambatan. Yang menjadikan berbeda adalah sikap yang ditunjukkan dalam menempuh lika-liku kehidupan. Ada yang tetap tenang dihantam cobaan, ada yang cepat gelisah disentil permasalahan. Namun, yang membuat kita kembali kuat, sebuah ujian pasti memiliki akhir. Waktu berakhirnya tak seorang pun bisa memprediksi, hanya menjadi rahasia Sang Pemberi Ujian. Kehidupan adalah sebuah rangkaian panjang ujian. Layaknya sebuah ujian, kehidupan pun pasti akan menemui akhir.

Akhir kehidupan kita kenal dengan sebutan kematian. Hakikatnya kematian adalah gerbang jalan menuju pulang ke rumah asal manusia yakni di sisi Allah Ta’ala. Inilah kematian yang diidamkan dan ditunggu-tunggu setiap hati yang beriman, akhir kehidupan dalam kondisi iman terbaik atau khusnul khatimah.

Khusnul khatimah adalah kondisi iman yang diliputi ketenangan, keikhlasan, dan ingatan tertuju hanya pada Allah ketika melewati nafas terakhir selama di dunia. Sesungguhnya inilah tujuan yang harus diincar selama menempuh perjalanan dunia yang berlika-liku. Setiap muslim pasti mengharapkan khusnul khatimah, namun akankah khusnul khatimah terjadi pada diri setiap muslim?

Karunia yang besar tak akan datang tanpa ikhtiar. Layaknya menabung uang, besarnya jumlah uang yang terkumpul hanya akan terasa nikmat setelah melalui jerih payah menyisihkan sepeser demi sepeser. Tak akan dirasakan nikmat yang sama bagi orang yang tidak menabungkan sedikit demi sedikit uangnya, bahkan tanpa sama sekali usaha hanya tabungan kosong melompong yang didapatnya.

Begitu pula khusnul khatimah. Akan kita alami atau tidak tergantung pada tabungan kita selama di dunia. Isinya adalah kombinasi antara ketenangan, keikhlasan, dan ingatan tertuju pada Allah. Sehingga menjadi suatu hal yang sangat mungkin untuk menakar akankah kematian kita akan berakhir khusnul khatimah. Caranya dengan melihat kembali diri kita, sudahkah menjadi hamba yang baik? Maka, seperti apa hamba yang baik itu?

Rasulullah SAW bersabda bahwa al-Abrar (orang baik) adalah orang yang baik akhlaqnya. Sehingga kualitas derajat iman kita di mata Allah tergantung pada kualitas akhlak kita. Akhlak adalah sebuah sifat spontan yang menginternalisasi dalam diri seorang hamba bila dihadapkan dengan sesuatu hal. Perwujudannya tercermin lewat hubungan manusia dengan tiga hal, yakni Allah, sesama makhluk-Nya, dan hawa nafsu pribadi.

Hubungan kepada Allah dikatakan baik bila hati selalu dalam kondisi berdzikir. Tentunya tidak cukup dengan berdzikir yang hanya membasahi bibir, namun dzikir berarti selalu ingat bahwa apa pun yang ada dan terjadi di alam ini, semuanya ada dan terjadi atas izin Allah, untuk kebaikan umat manusia. Maka berdzikir hendaknya menjadi proses membina hubungan baik dengan Allah yang dibuktikan dengan selalu berprasangka baik atas takdir-Nya dan hanya memilih apa yang Allah sukai.

Sedangkan hubungan dengan sesama makhluk terdapat dalam sebuah kata kunci yaitu keikhlasan. Orang yang ikhlas berarti dapat melapangkan hati kepada siapa pun, tidak membeda-bedakan orangnya. Berhasilnya memupuk keikhlasan akan tampak bila seseorang dapat menganggap masalah apa pun yang hadir dalam hidupnya merupakan peluang tabungan keikhlasannya, hingga sukses mencapai puncak tabungan keikhlasan untuk menjemput khusnul khatimah. Misalnya, dalam sebuah amanah atau pekerjaan dihadapkan dengan rekan kerja yang menguji kesabaran, maka cukuplah mengikhlaskan hal itu dengan menganggapnya sebagai peluang tabungan keikhlasan di sisi Allah SWT. Orang yang ikhlas senantiasa menyerahkan dirinya dijaga Allah SWT.

Sering kali terasa, bagian yang tersulit adalah melawan hawa nafsu diri sendiri. Agar berhasil melewatinya membutuhkan ujian dalam proses panjang hingga menghasilkan buah ketenangan yang terinternalisasi dalam diri. Wujud dari ketenangan adalah saat seseorang tidak lagi membebani diri dengan sifat dan sikap yang merugikan dirinya sendiri. Ujian apa pun tak mudah membuat ketenangannya bergeming karena yakin sesuatu terjadi hanya dengan izin Allah dan akan selalu berprasangka baik terhadap ketentuan-Nya.

Maka, setiap hari adalah langkah yang menghantarkan kepada jalan menuju pulang. Setiap hari adalah pundi-pundi mengisi tabungan. Khusnul khatimah dapat diraih hanya dengan tabungan ketenangan, keikhlasan, dan ingatan tertuju pada Allah yang terlatih dari setiap ujian yang datang. Seandainya hari ini kita masih merasa belum memiliki tabungan yang cukup sebagai bekal menuju pulang, tak ada yang bisa menjamin kepulangan khusnul khatimah kita. Karena kepulangan itu mungkin saja datang semenit lagi, sebelum kita sempat berpikir memenuhi tabungan perbekalan. Dan sisa waktu itu, tak perlu dihabiskan untuk berpikir yang lain, kecuali bersegera. Bersegera melakukan percepatan mengisi bekal menuju pulang. Hingga kematian menjadi suatu kerinduan bertemu Sang Kekasih. Wallahu a’lam bisshowab.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23969/bersegera-menuju-pulang/#ixzz2Bc2yu0YF

Bercermin Pada Kesabaran Utsman dan Kokohnya Umar

Bercermin Pada Kesabaran Utsman dan Kokohnya Umar

16/8/2012 | 28 Ramadhan 1433 H | Hits: 2.227

Oleh: Choiriyah


Kirim Print

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – “Dan berilah perumpamaan kepada mereka(manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al Kahfi: 45)

Al Qur’an menjadi kiblat dan teladannya. Karena itulah menjadikan murninya ibadah dan keagungannya. Seorang laki-laki yang kaya raya, dipenuhi dengan kekayaan duniawi di sekitarnya tapi tetap teguh dan kuat dijalan Allah. Atas kesabarannya menahan diri dari kemewahan dunia, ia habiskan waktu siangnya untuk puasa dan malamnya untuk mendekatkan dirinya dengan Sang Pemilik segalanya. Tidak tergoda dengan berbagai makanan lezat dan empuknya tempat tidur mewah, hanya karena perasaan cintanya pada Allah. Dia adalah seorang laki-laki yang telah mendapat dua orang putri dari seorang manusia pilihan Rasulullah saw, yaitu Utsman bin Affan.

Laki-laki kaya raya ini telah menemukan obat mujarab penangkal godaan duniawi, yaitu dengan kedekatan dirinya pada Allah dan Al Qur’an. Ayat di atas yang selalu membuatnya berguncang dan selalu di ulang-ulangnya. Seorang manusia yang hanya menganggap kekayaan dunia seperti daun kering, kecuali jika dibelanjakan dijalan Allah maka akan berubah menjadi kebaikan dan pahala yang besar.

Kesabaran yang perlu perjuangan besar adalah saat kita berada di puncak kejayaan, terlalu banyak pilihan hingga kita terlalu sulit untuk menjadikan diri ini tidak terlena dengan indahnya dunia. Hanya jiwa yang besar dan kokoh yang selalu dalam dekapan Allah, mampu selamat dari gemerlap dunia. Sabarnya Utsman yang membuat perjanjian dengan dirinya untuk membebaskan hamba sahaya setiap hari Jum’at, dan membantu penduduk mekah saat masa paceklik. Semua dilakukannya untuk mengharap keridhaan Tuhannya.

Utsman seorang yang sangat unik dan luar biasa, memiliki kasih sayang yang sangat besar dan senang dengan menyambung silaturahim. Itu adalah cerminan dari dekatnya hubungan dengan Allah di waktu siang dan malamnya. Banyaknya puasa dan kekuatan bangun di malam harinya.

Dan sekarang mari kita bercermin kepada seorang Umar bin Khattab, kekokohan ‘azamnya untuk merubah diri lebih baik. Dan inilah ungkapan yang sering diulangnya:

“Dahulu engkau amatlah rendah, lalu Allah tinggikan kedudukanmu, dahulu engkau sesat kemudian Allah berikan petunjuk kepadamu, dahulu engkau hina, kemudian Allah muliakan dirimu. Maka, apakah yang akan engkau katakan kepada Tuhanmu esok (di akhirat)?”

Dialah manusia yang sangat lembut hatinya, saat menjadi imam shalat tangisnya yang terdengar hingga shaf terakhir. Yang selalu mencucurkan airmata di setiap suapan makanan lezat, minuman dingin yang menyegarkan. Seorang laki-laki yang benar-benar takut akan kebesaran Allah, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan penuh penghormatan dan rasa malu bila menghadap–Nya dalam keadaan kekurangan.

Padahal Rasulullah telah mengabarkan jaminan surga baginya. Namun ia sungguh lebih kuat dari semua syahwat dan godaan, hingga seolah-olah ia benar-benar ma’shum (terjaga) dari segala kesalahan. Ia sangat takut, berhati-hati dan malu kepada Allah.

Bagaimana ia mencontoh Rasulullah yang memenuhi malamnya dengan tahajjud dan beribadah pada-Nya, serta siangnya dipenuhi dengan puasa dan jihad. Inilah penghormatan sebaik-baik penghormatan. Inilah ungkapan rasa syukur kepada Allah dengan sebaik-baik syukur. Hubungannya dengan Allah bukan karena ketakutan akan siksanya tetapi karena kecintaan dan pengagungan kepada Allah dan rasa malu pada-Nya.

Ia senantiasa memacu dirinya melampaui batas kemampuannya untuk meraih sebanyak-banyak makrifat dan syukur kepada sang penciptanya. Rasa malunya kepada Allah telah menjauhkannya dari kemewahan dunia, bahkan dari ketenangan dunia. Ia dan keluarganya tidak mau makan kecuali makanan pokok untuk kekuatan tubuhnya, tidak pula menginginkan kehidupan kecuali sekadarnya.

Dengan cermin yang begitu mempesona itu, semoga mampu menjadikan diri kita terpacu untuk melakukan kebaikan dan meluruskan niat karena kecintaan kita kepada Allah. Bersama-sama kita berlomba dalam kebaikan, mengingatkan dalam kebenaran. Mengingatkan akan adanya akhirat, dan perhitungan amal serta pertanggungjawaban setiap amalan.

“Bacalah catatan amalmu, cukuplah dirimu sendiri hari ini sebagai penghisab terhadapmu,” (QS. Al Isra: 14)

Setiap saat memantau diri dan setiap amalan kita. Apakah yang telah kita berikan kepada Allah? Apakah telah cukup bekal kita untuk menghadap-Nya?

“Apakah kamu mengira bahwa kami menciptakan kalian dengan sia-sia dan sesungguhnya kalian akan dikembalikan?”(QS Al Mukminun: 115)

Berharap kita kembali kepada-Nya dengan sebaik-baik iman, Islam dan ketaqwaan. Hingga Allah ridha dan masukkan kita ke dalam surga-Nya. Aamiin.

 

Mengambil intisari dari sirah sahabat para khalifah Allah.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22424/bercermin-pada-kesabaran-utsman-dan-kokohnya-umar/#ixzz2BQQ7D0wH

Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui

Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui

6/9/2011 | 07 Shawwal 1432 H Please wait

Oleh: Qonitatillah, MSc.


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Suara-suara mendengung bak lebah itu menumbuhkan suasana syahdu dan khusyuk. Lantunan kalam Ilahi yang meluncur dari lisan-lisan shalih itu bak mantera penguat jiwa. Muraja’ah hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an serta talaqqi madahpenuh dengan semangat dan optimisme yang tinggi. Pertemuan pekanan ini ibarat ruh bagi jiwa, bak air untuk kehidupan.

Majelis pekanan yang lazim dikenal sebagai halaqah, tak bisa dipungkiri adalah nadi bagi sebuah harakah Islamiyah. Di dalamnya, para kader dakwah berinteraksi secara intim dan intens di bawah bimbingan seorang Murabbi. Pertemuan-pertemuan pekanan semacam ini haruslah dinamis dan produktif agar harakah Islamiyah dapat terus menggulirkan amal-amal dakwah demi kejayaan Islam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa tak selalu halaqah ini berjalan mulus. Ada kalanya rutinitas pekanan ini didera kelesuan. Karena bagaimanapun pribadi-pribadi di dalamnya adalah manusia, bukan kumpulan para malaikat, yang memiliki iman yang fluktuatif.

Mengapa sebuah halaqah tak lagi nyaman didatangi?

Pertama, disorientasi tujuan.

Motivasi orang mengikuti kajian rutin seperti halaqah sangat beragam. Ada yang karena ingin mendalami ilmu agama. Ada yang tertarik oleh ajakan kawan. Ada yang bersungguh-sungguh ingin menegakkan agama Allah. Pun tak sedikit yang semangat berhalaqah agar naik jenjang keanggotaan dalam jamaah. Nah, ketika dirasa peluang naik tingkat sangat kecil, bukan tidak mungkin semangat yang sebelumnya menyala-nyala bisa langsung padam. Disorientasi tujuan ini berkaitan erat dengan ruhiyah seseorang sehingga ketika ada yang mengalami hal ini, maka pasokan ruhiyahnya harus ditingkatkan. Bisikan-bisikan hawa nafsu harus ditepis agar keikhlasan tetap terjaga. Komitmen bergabung dalam jamaah dakwah harus dikuatkan kembali.

Kedua, pelaksanaan halaqah yang membosankan.

Bagaimanapun, mengelola halaqah ada seninya. Meskipun kurikulum sudah ada, silabus sudah lengkap dan tujuan masing-masing materi sudah jelas, tetap saja diperlukan strategi agar halaqah berjalan dinamis dan penuh kesan. Halaqah yang melibatkan semua komponen dan bergerak menuju arah yang sama tentulah halaqah yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Oleh karenanya setiap individu di dalam halaqah memiliki peranan yang sangat penting demi mewujudkan halaqah yang dirindui.

Ketiga, hubungan Murabbi dengan mutarabbi.

Murabbi sebagai pemimpin dan pengendali halaqah memegang peranan yang paling penting. Sosoknya haruslah mampu diterima semua anggota kelompok. Tidak ada penolakan terhadap dirinya. Imam Hasan Al Banna mengibaratkan figur ini sebagai syaikh dalam hal kepakaran ilmu, orang tua dalam hal kasih sayang, guru dalam hal pengajaran, kakak dalam hal teladan dan pemimpin untuk urusan ketaatan.

Pernah ada seorang mutarabbi yang menyampaikan kepada Murabbinya, “Ustadz, saya usul dalam halaqah kita ketika adzan Isya’ berkumandang marilah kita segera shalat berjamaah sebagaimana ketika kita shalat Maghrib.” Tak dinyana, jawaban Sang Murabbi begini.”Akhi, saya ketika halaqah dengan para doktor-doktor syariah biasa saja gak shalat Isya’ jamaah waktu halaqah. Shalatnya nanti di rumah saja biar waktu halaqah nggak terlalu lama. Saya rasa, yang perlu diperbaiki itu komitmen Antum. Antum suka datang telat, waktu halaqah tidur, kurang ihtiram, gak setor hafalan….”

Menjadi pemimpin, tak boleh alergi kritik sebagaimana menjadi mutarabbi pun tak boleh alergi nasihat dan teguran. Ketika jawaban tersebut disampaikan, maka si Al akh pun balik membalas, “Ustadz, saya kan usul. Usul itu bisa diterima atau ditolak. Kalo diterima, Alhamdulillah kalo nggak ya nggak apa-apa. Jangan malah membeberkan aib-aib saya…”

Ketika hubungan Murabbi-Mutarabbi seperti ini –saling menyerang- pastilah halaqah bukan lagi momen yang dirindukan. Ia akan menjadi waktu yang tidak diharapkan, atau dijalani dengan terpaksa. Dihadiri tanpa semangat. Oleh karenanya harus ada hubungan yang mesra antara Murabbi dengan mutarabbi-nya. Jika hubungan ini sudah tercipta, niscaya halaqah akan menjadi momen yang dinanti-nanti.

Keempat, melemahnya militansi.

Bisa jadi, masa-masa awal mengikuti halaqah adalah momen-momen yang tak terlupakan. Berkobar-kobarnya semangat dan keinginan meninggikan agama Allah. Setelah itu akan dirasakan kestabilan dan keadaan yang biasa-biasa saja. Kesibukan dunia, rutinitas kerja, tuntutan-tuntutan di luar dakwah dan kompleksitas dari ketiga faktor di atas akan melemahkan militansi. Pada kondisi seperti ini, halaqah bisa berubah menjadi sekedar rutinitas yang menjemukan. Hanya akan menjadi majelis ‘setor muka’. Jika ini yang terjadi, maka wajarlah jika kelak lambat laun halaqah tak akan lagi dirindui. Oleh karenanya, bangkitlah! Semangat itu tak dicari, tapi ditumbuhkan. Kemudian dipupuk dan dijaga dari hama dan virus yang akan melemahkannya. Militansi tak kenal musim. Ia harus dijaga senantiasa hidup dan menjadi api perjuangan.

Wahai Saudaraku, mari tumbuhkan kerinduan akan hari itu. Hari pertemuan kita dengan saudara yang diikat karena Allah. Hari yang di dalamnya penuh keberkahan dan doa para malaikat. Satu hari dalam setiap minggu yang kita dedikasikan untuk menghasilkan amal-amal dakwah dalam bingkai harakah Islamiyah…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/14363/ketika-halaqah-tak-lagi-dirindui/#ixzz2BQPuM8SW

Mengupas Rahasia Halaqah

Mengupas Rahasia Halaqah

12/4/2012 | 20 Jumada al-Ula 1433 H | Hits: 4.592

Oleh: Deddy Sussantho


Kirim Print

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Halaqah, atau yang biasa disebut pengajian, usrah, liqa, or something like that, merupakan kebutuhan kader dakwah dalam memenuhi kebutuhan tarbiyahnya. Karena bagaimanapun, tarbiyah dan dakwah sudah seperti dua sisi mata uang yang saling berkelindan. Tarbiyah tanpa dakwah, sama halnya melihat tapi lumpuh. Kuat kepemahamannya, tapi lemah kebermanfaatannya. Sebaliknya, dakwah tanpa tarbiyah sama seperti berjalan namun buta. Makanya, kalau ada kader dakwah yang eksis tapi malas liqa, pasti gerak dakwahnya banyak yang ‘nabrak-nabrak’.

Untuk mencapai kesuksesan dalam tarbiyah, seorang kader dakwah mesti memahami mengapa dirinya penting mengikuti agenda pekanannya tersebut. Karena kesalahan dalam memahami liqa akan berdampak pada hasil tarbiyah yang ia raih.

Beberapa Keistimewaan Halaqah

Sebelumnya, seorang kader dakwah perlu memahami bahwa liqa bukanlah satu-satunya sarana tarbiyah. Ia hanya salah satu dari sekian banyak penopang tarbiyah, seperti mabit, mukhayyam, daurah, tatsqif, dan lainnya. Akan tetapi liqa tidak dapat disamakan dengan penunjang tarbiyah yang lain. Dalam pelaksanaannya saja sudah sepekan sekali, lebih rutin. Sementara penunjang lainnya merupakan agenda-agenda tambahan yang dilaksanakan kondisional, sesuai kebutuhan. Artinya, sudah tentu yang rutin ini mendapat prioritas dan perhatian lebih ketimbang sarana tarbiyah lainnya.

Analoginya seperti bakso. Jika di mangkuk ada bakso tapi tidak ada bihun-toge-sawi, tetap saja makanan di mangkuk itu disebut bakso. Tapi lain jadinya jika di mangkuk ada bihun-toge-sawi, tapi justru tidak ada baksonya, maka makanan di mangkuk itu tidak akan pernah disebut sebagai bakso. Karena keberadaan bihun-toge-sawi hanyalah sebagai pelengkap yang menunjang inti dari semangkuk bakso. Kalau baksonya tidak ada, rasanya keberadaan bihun-toge-sawi akan menjadi sia-sia adanya. Seperti itulah kaitan liqa yang sebagai agenda inti dengan penunjang tarbiyah lainnya.

Mungkin sebagian orang ada yang bertanya, “Mengapa harus liqa? Mengapa bukan dengan sarana yang lain saja?” Untuk mendapatkan jawaban tersebut, sekarang mari menelaah apa saja kelebihan liqa yang tidak dimiliki oleh sarana lainnya. Sudah pasti penelaahan ini dilihat dari keefektifan daya ubah yang dihasilkan dan dirasakan oleh para mad’u itu sendiri.

Pertama, liqa itu memiliki jadwal yang rutin. Pelaksanaan liqa idealnya sepekan sekali. Itu merupakan jadwal yang proporsional. Karena ketika terlalu jarang, tentu tidak baik. Jadwal yang jarang dan sering bolong tidak akan memberikan dampak perubahan yang signifikan lantaran tidak memunculkan chemistrychemistry di antara Murabbi-Mutarabbi ataupun Mutarabbi-Mutarabbi.

Pesan dakwah yang disampaikan seorang ustadz akan sulit diterima jika tidak ada usaha untuk membangun kedekatan dengan para mad’u-nya. Untuk itu, intensitas pertemuan sepekan sekali tersebut diharapkan dapat memangkas jarak-jarak yang sebelumnya ada. Seperti kata pepatah jawa, Witing tresno jalaran soko kulino, cinta ada karena terbiasa.

Kemudian sebaliknya, kalau jadwalnya terlalu sering, misalnya dalam sepekan ada pertemuan lebih dari sekali, ini juga kurang baik. Karena dikhawatirkan munculnya kejenuhan pada diri Mutarabbi ataupun Murabbi. Bagaimanapun, mereka tetaplah manusia biasa yang tak luput dari rasa bosan. Waspadalah, karena kejenuhan itu bisa mengurangi kualitas keikhlasan pada diri seseorang! Justru adanya pertemuan sepekan sekali itu dapat melatih para anggota liqa untuk bersabar. Selain itu, waktu sepekan sekali mampu menghadirkan rasa penasaran dan rindu untuk selalu bertemu.

Kedua, liqa itu merupakan wujud “jama’ah kecil” yang bisa menjaga seseorang dari kekufuran. Seringkali ada pertanyaan, “Bagaimana caranya agar kita istiqamah?” Sebenarnya jawabannya sederhana. Selain faktor internal, yaitu menjaga kualitas keimanan pribadi, ada pula faktor eksternal yang berasal dari lingkungan. Karena bagaimanapun kondisi lingkungan sedikit banyak akan memengaruhi kondisi seseorang di dalamnya. Dan ini pun terjadi bagi aktivis dakwah yang mengisi hari-harinya dengan dakwah. Saat itu tentu dirinya sering bersinggungan dan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Maka ada saja dampaknya, baik kecil ataupun besar. Bisa jadi mula-mulanya muncul rasa malas. Lalu mulai kendur semangat dakwahnya. Kemudian kalau sudah parah, bisa-bisa kemungkinan terburuk pun terjadi.

Mungkin kekhawatiran ini berlebihan, tapi biarlah. Daripada bersikap permisif yang akhirnya berakhir fatal. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Bukankah penyakit-penyakit mematikan juga biasanya diawali dengan gejala-gejala yang sering dianggap sepele?

Maka dari itu, keberadaan jama’ah sangatlah penting bagi seorang aktivis dakwah. Karena ketika dirinya berada pada sebuah jama’ah, maka dirinya akan diingatkan di saat ia lupa. Ia pun dikuatkan ketika ia lemah. Kala itu, keberadaan jama’ah ibarat oase di padang pasir. Ia pun laiknya pom bensin pemulih bahan bakar keimanan yang membuat langkah-langkah para aktivis dakwah semakin lesat lajunya.

Ada pula pertanyaan, “Sebetulnya faktor besar perubahan ada pada pembinaan diri sendiri. Ini kita kenal dengan istilah tarbiyah dzatiyah. Lalu buat apa liqa kalau sudah melakukan tarbiyah dzatiyah?” Ini sangat menarik. Mengingatkan konsep dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri. Begitu pula dalam tarbiyah. Jika liqa, sebagai wujud tarbiyah jam’iyah, tidak diiringi dengan tarbiyah dzatiyah, maka yang terjadi adalah seperti mobil mogok yang didorong orang banyak. Sulit bergerak karena dari mobilnya sendiri tidak ada bahan bakar (baca: motivasi kesadaran) untuk bergerak. Pun demikian, mobil itu akan tetap bergerak, meski progresnya sedikit dan menghabiskan banyak tenaga tentunya.

Lalu apa yang terjadi saat menjalankan tarbiyah dzatiyah tanpa dibarengi tarbiyah jam’iyah? Seperti panah yang melesat tanpa arah lantaran memang tidak ada yang mengarahkan. Hasilnya adalah meleset dari tujuan yang seharusnya. Bagaimanapun tidak ada orang yang mampu menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri. Seorang murid di sekolah pun memerlukan seorang guru untuk menilai kemampuannya. Seorang presiden pun memerlukan rakyat sebagai penilai kesuksesan pemerintahannya. Inilah bukti bahwa setiap itu memerlukan orang lain.

Kalaupun ada orang yang bisa menilai dirinya sendiri, rasanya terlalu naif dan sangat subjektif. Apakah dirinya dapat menjamin kemurnian dari penilaian itu? Ataukah penilaian itu lebih sekadar corak kesombongan dan keegoisan belaka? Perlu diketahui, bahwa outputtarbiyah tidaklah melahirkan kesombongan maupun keegoisan. Manakala dua sifat itu muncul pada diri seseorang, maka bisa dikatakan ada yang tidak beres dengan proses tarbiyahnya. Maka dari itu, dalam pelaksanaan tarbiyah, seorang kader dakwah perlu ada seseorang (Murabbi) sebagai pendamping yang nantinya akan mengevaluasi dan melakukan proses pengarahan sesuai dengan marhalah (tingkatan) tarbiyah dirinya.

Ketiga, liqa merupakan proses dakwah-tarbiyah yang menerapkan sistem komunikasi antar pibadi. Inilah yang menjadi indikator mengapa liqa lebih menghasilkan perubahan positif yang signifikan, terukur, dan terarah daripada taklim-taklim pada umumnya. Jika pada taklim seorang ustadz harus berhadapan dengan puluhan, atau bahkan ratusan orang, maka yang terjadi saat itu adalah komunikasi yang bersifat satu arah. Para mad’u tidak leluasa bertanya dan ustadz pun tidak mungkin menjawab seluruh pertanyaan atau memenuhi seluruh kebutuhan para mad’u-nya, apalagi memantau perubahan mereka atas hasil ceramah dirinya.

Sementara itu, liqa terdiri dari beberapa orang (umumnya maksimal 10) saja yang membentuk sebuah kelompok kecil. Dalam kelompok tersebut, seorang ustadz lebih memiliki kesempatan untuk melakukan komunikasi dua arah kepada para mad’u. Hal ini terlihat dari adanya feedback dari mereka, seperti berupa pertanyaan, sanggahan, ataupun cerita-cerita lainnya. Jelas ini berdampak positif. Sang ustadz akan mudah membangun kedekatan dengan mereka. Lalu sang ustadz pun akan lebih mudah memahami karakter mad’u-nya satu persatu, hingga kemudian dirinya mampu menentukan cara yang tepat untuk mendakwahi mereka. Selain itu, kecilnya jumlah mad’u memudahkan ustadz untuk memantau keberhasilan mereka dalam memahami dan menjalankan pesan-pesan yang telah disampaikannya.

Keempat, liqa memiliki sistem kurikulum madah (materi) yang runut dan sistematis. Berbeda halnya dengan sarana lainnya yang lebih bersifat general. Liqa sudah seperti sekolah yang menyediakan asupan-asupan “gizi” sesuai dengan tingkatan kepemahaman para mad’u. Tidak mungkin jika anak SD dikasih soal anak SMP. Karena pasti anak itu bingung. Begitu pula anak SMP, tidak mungkin diberi soal anak SD. Karena itu tidak memberi perkembangan apa-apa kepadanya.

Adanya kurikulum materi yang runut dan sistematis memberikan pengertian bahwa dakwah-tarbiyah ini memiliki tujuan dan arah yang jelas. Bayangkan, apa jadinya jika dakwah ini dilakukan asal-asalan dan tidak terstruktur dengan baik? Sudah tentu produk yang dihasilkan juga tidak baik. Materi dalam liqa dibuat sedemikian rupa agar dapat dipahami dengan baik oleh para mad’u, sehingga mereka memahami Islam ini sebagai kesatuan sistem utuh dan menyeluruh.

Laiknya membangun rumah yang kokoh, tentu diawali dengan membuat pondasi, dinding, dan atapnya. Oleh sebab itu, dalam dakwah-tarbiyah pertama kali yang perlu dibangun adalah kekokohan aqidah. Karena aqidah adalah pondasi bagi setiap muslim. Baru setelahnya membangun sisi-sisi yang lain. Contoh, tidaklah mungkin seorang mad’u diberi materi keutamaan sedekah jika sebelumnya tidak dijelaskan tentang materi sabar dan syukur. Tidak pula mereka dikasih materi yang besar jika tidak diawali dengan materi yang kecil dan pokok. Lihat saja kasus-kasus terorisme yang pernah ada. Mereka mengamalkan jihad, tetapi tidak didasari oleh pemikiran yang sebagaimana mestinya. Alhasil, banyak hal yang disayangkan selepas peristiwa teror itu terjadi. Niat dan semangat mereka bagus, hanya saja pelaksanaannya yang kurang tepat.

Ruhiyah, Inti Sel Halaqah

Sekali lagi ada pertanyaan menarik, “Apa sebenarnya yang membuat liqa ini berkesan, sehingga banyak kader dakwah yang menekuninya hingga sekarang?”

Spirit liqa bukanlah terletak pada apa yang terdapat pada baramij-nya (susunan acara), seperti tilawah, tadabur ayat al-Qur’an, kultum, muraja’ah hapalan, materi, diskusi, qadhayah, dan do’a. Semua itu memang dibutuhkan kader dakwah guna menunjang perkembangan dirinya. Namun sekali lagi, keberadaan baramij itu sendiri sebetulnya adalah kondisional, bukan suatu hal yang saklek atau tidak dapat diubah. Semua itu disusun sesuai kebutuhan.

Terlebih, poin-poin pada baramij liqa itu sebetulnya masih bisa didapatkan di luar liqa setiap harinya! Do’a, tilawah, tadabur, dan muraja’ah al-Qur’an, adalah kegiatan yang tidak sepatutnya ditinggalkan kader dakwah setiap harinya. Diskusi, materi, maupun kultum masih bisa didapatkan dengan cara banyak membaca buku atau menghadiri forum-forum diskusi. Qodoyah pun bisa ditanggulangi dengan cara lain, seperti menulis unek-unek atau curhat pada teman.

Itu sebabnya semangat liqa bukanlah terletak pada baramij, melainkan pada kesadaran untuk TRANSFER RUHIYAH yang ada pada diri setiap anggota liqa. Di sinilah terjadi pertukaran dan penyulutan semangat antara satu anggota dengan anggota lain dalam liqa.

Di kala ada seorang anggota yang turun semangatnya, ketika datang liqa, dirinya bertemu dengan Murabbi dan para sahabat yang menerimanya dengan tulus dan penuh energi. Entah energi apa itu. Yang jelas energi itu dapat kembali mengisi pundi-pundi hati yang semula kosong atau tidak penuh menjadi full terisi. Ada ‘sesuatu’ yang bisa didapatkan. Rasanya nikmat dan menghantarkan semangat untuk menjalani hari-hari sepekan ke depan.

Terkadang energi itu dapat dirasakan lewat senyuman, sentuhan, jabatan tangan, pelukan, atau bahkan teduhnya wajah dan tatapan mereka. Energi misterius itulah yang membuat setiap pertemuan liqa selalu memberikan kesan tersendiri, meskipun baramij di setiap pekannya sama saja. Karena sebanyak apa pun baramij tersebut, ketika tidak berusaha menghadirkan energi ruhiyah, maka liqa yang berjalan pun akan terasa hambar, tidak membekas, dan melelahkan.

Mari dedah lebih dalam. Dakwah-tarbiyah ini merupakan permainan hati. Kalau begitu, sudah pasti keberhasilannya ditentukan oleh yang Maha Menguasai Hati, bukan? Untuk dapat memenangkan permainan hati ini, sudah tentu para pelakunya perlu menyertakan hati seutuhnya untuk yang Maha Menguasai Hati. Karena hanya yang Maha Menguasai Hatilah yang mampu memenangkan hati setiap orang.

Untuk itu, agar liqa menjadi berkah, perlu kiranya setiap anggota di dalamnya (khususnya Murabbi) menjaga kondisi ruhiyahnya. Seorang Murabbi ibarat nahkoda kapal yang semestinya meyakinkan dan menguatkan para awaknya kala menghadapi badai-badai kehidupan. Jika nahkodanya sudah panik atau goyah, lantas bagaimana kapal itu akan tetap selamat berlayar? Pun begitu, para Mutarabbi pun perlu menjaga kondisi ruhiyah mereka. Karena untuk menjalankan kapal tersebut, kelihaian seorang nahkoda tak cukup berarti jika para awaknya pesakitan dan lemah semangatnya.

Allahu a’lam…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19779/mengupas-rahasia-halaqah/#ixzz2BQPRlGBM

Kenikmatan Halaqah, Membuatku Tak Perlu Keliling Dunia

Kenikmatan Halaqah, Membuatku Tak Perlu Keliling Dunia

16/6/2012 | 26 Rajab 1433 H | Hits: 2.333

Oleh: Meira Ernawati


Kirim Print

Kapur putih yang pucat
Terasa penuh warna
Dan pelangi yang enggan datang pun berbinar

Kertas putih yang pudar
Tertulis seribu kata
Dan kuungkap semua yang sedang kurasa
Dengarkanlah kata hatiku
Bahwa ku ingin untuk tetap di sini

Tak perlulah aku keliling dunia
Biarkan ku di sini
Tak perlulah aku keliling dunia
Karena ku tak mau jauh darimu

***

Bersaudara tak mesti sedarah…
Bersaudara tak harus serumah…
Bersaudara bukan soal daerah…
Karena persaudaraan yang benar adalah atas dasar ukhuwah Islamiyah…
Kita dipersaudarakan oleh Allah yang kita sembah…
Kita bersaudara karena Rasulullah yang menyampaikan hidayah…
Adakah persaudaraan yang lebih indah dari persaudaraan karena Allah?

***

Ilustrasi (hudzaifah.org)

dakwatuna.com – Berawal dari sebuah formalitas dan berujung pada sebuah ‘candu’. Semula yang bertemu malu-malu dan enggan untuk saling mengenal pada akhirnya justru rindu jika tak jumpa. Masih ingat kenangan beberapa bulan lalu ketika saya dikumpulkan bersama teman-teman satu halaqah. Dengan wajah canggung ini memaksa untuk bisa mengenal dengan baik beberapa kepala yang hingga sekarang menjadi bagian dari hati saya.

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang telah menjadi arti penting dalam perjalanan dakwah ini (atas izin Allah). Mereka yang telah rela mencurahkan waktu dan pikiran kadang hanya untuk mendengar dan berupaya memberi solusi terbaik atas segala macam qadhaya.

Memang tak mudah untuk merasakan kecintaan seperti ini. Ada banyak permasalahan dan ujian untuk saya bisa membanggakan ukhuwah penuh kasih sayang terhadap mereka. Bahkan suatu ketika, lingkaran kami sempat hampir terputus karena satu sama lain belum saling mengerti dan memahami mengenai urgensi halaqah, mengapa halaqah itu penting hingga menimbulkan suatu mahabbah (kecintaan) pada saudara seiman. Pada akhirnya, kini Allah mengabulkan doa saya beberapa tahun silam mengenai sosok-sosok makhluk-Nya yang akan membantu saya menemukan arti dari sebuah persahabatan dan cinta karena Allah.

Kepemahaman yang saya dapatkan, fungsi utama halaqah itu sendiri adalah sebuah tadzkirah (pengingat yang menampar) melalui materi dari murabbi atau kultum. Akan ada seperti pengganjal yang cukup berat untuk disingkirkan ketika masa pertemuan itu ditunda atau memang tidak bisa terlaksana oleh berbagai alasan. Ketika halaqah hanya diartikan sebatas transfer ilmu, maka saya yakin kegelisahan macam itu tidak akan terjadi karena sebenarnya kita sendiri mampu mendapatkan ilmu dari banyak sumber. Maka sebenarnya apa yang menyebabkan hati-hati ini terikat begitu kuat dan nyaman?

Dan apa-apa yang terjadi pun sebenarnya tak sebegitu mewah, mereka hanya ikut menangis ketika saya mulai mengadukan atas ketidakberdayaan dan kealpaan sebagai seorang makhluk, mereka turut memohonkan keringanan atas dosa-dosa saya, mengingatkan layaknya para sahabat di berbagai novel roman picisan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka….” (QS. Al-Anfal: 63)

Ternyata itulah bagian dari kekuasaan Allah. Maka tidak ada yang menjamin apakah apa yang kita kehendaki terhadap seseorang atau sosok-sosok akan menjadi bagian dari tautan hati kita tanpa seizin-Nya. Andaikan saya diberikan kemampuan menuliskan rasa cinta saya pada mereka selama tiga hari tiga malam, rasanya itu tidak akan cukup untuk mewakili rasa ini terhadap apa-apa yang mereka ajarkan pada diri lemah di jalan dakwah ini. Inilah kenikmatan yang benar-benar saya dapatkan dari halaqah, namun ini hanya bagian kecil dari banyak hal yang bisa saya tuai.

Rasanya tak perlu lagi keliling dunia untuk mencari-cari makna cinta ketika saya menikmati kebersyukuran atas limpahan rahmat ukhuwah yang Allah berikan.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/21108/kenikmatan-halaqah-membuatku-tak-perlu-keliling-dunia/#ixzz2BQP92100